http://www.kompas. com/kompas- cetak/0712/ 22/humaniora/ 4095609.htmOleh Asvi Warman Adam Dalam pengantar buku Mochtar Lubis, Maut dan Cinta,
disebutkan "sastra memang bukan tulisan sejarah dan
juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah".
Benar bahwa sastra bukan tulisan sejarah. Namun, kurang tepat bila
dikatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah.
Novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis itu sendiri bisa jadi rujukan
untuk memahami gejolak revolusi pascakemerdekaan. Karya sastra itu
secara hidup menggambarkan aksi beberapa kelompok pejuang menembus
blokade Belanda dalam rangka menukar komoditas di Sumatera dengan
senjata dari Semenanjung Melayu dan Thailand untuk digunakan pasukan
republiken.
Figur seorang tokoh dalam novel tersebut mengingatkan kepada Mayor
John Lie yang secara historis cukup dikenal reputasinya. Melalui
sastra kita juga dapat mengetahui sejarah negara lain.
Bur Rasuanto yang sempat beberapa bulan, tahun 1967, melakukan tugas
jurnalistik di Saigon menulis novel Tuyet yang berkisah tentang
kondisi di Vietnam Selatan waktu itu. Taufiq Ismail dalam pengantarnya
(ditulis pada cetakan kedua, 2001) berujar, "Membaca novel Tuyet
dengan latar belakang perang dahsyat yang menumbuhkan kelas elite
rezim militer yang kemaruk, mewah, dan berselera rendah seperti
membaca Indonesia pada dekade berikutnya."
Kisah-kisah insani yang menusuk dan menggugah perasaan seperti tuduhan
terlibat Viet Cong yang membelit Tuyet, gadis tokoh novel ini,
sehingga dia harus mempertaruhkan kehormatannya kepada perwira
skrining, seolah-olah dilanjutkan sebagai repetisi sangat mirip di
Tanah Air kita di seputar peristiwa G30S/PKI.
Sekarang sebagian orang tidak lagi menganggap sastra sebagai wilayah
estetika yang otonom. "Manusia, karya dan 'genre' sastra tidak
bergerak dalam 'ex nihilo', tetapi ia dipersiapkan dan dikondisikan
oleh suatu konteks historiko-sosiologi s," kata George Lukacs dalam Le
roman historique (Payot, 1965).
Bahkan, tentang roman historis sendiri Lukacs berpendapat bahwa
'genre' itu menjadikan sejarah sebagai obyeknya, tetapi ia sendiri
juga takluk kepada sejarah dan berenang di dalamnya.
Sama-sama imajinatif
Pendekatan new historicism (NH) yang dicanangkan oleh Stephen
Greenblaat tahun 1982, sebagaimana dijelaskan oleh Melani Budianta
(dalam majalah Susastra 3 tahun 2006), dapat menjadi pilihan dalam
menganalisis karya sastra, sastra sejarah, dan sejarah secara utuh.
Louis A Montrose menggunakan istilah "kesejarahan sastra dan
kesastraan sejarah atau dengan kata lain membaca sastra = membaca
sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra (aspek sejarah sebagai
konstruksi sosial)".
Lebih jauh dijelaskan "sejarah" atau dunia yang diacu oleh karya
sastra bukan sekadar latar belakang (yang koheren dan menyatu).
Sejarah sendiri terdiri atas berbagai teks yang masing-masing menyusun
versi tentang kenyataan. Keterkaitan antara karya sastra dan "sejarah"
adalah kaitan intertekstual di antara berbagai teks (fiksi maupun
faktual) yang diproduksi pada zaman yang sama atau berbeda.
Pendekatan NH ini dapat menolak pandangan sejarawan dan sastrawan
Kuntowijoyo. Menurut Kuntowijoyo (Pengantar Ilmu Sejarah, 1995),
sejarah itu berbeda dengan sastra dalam hal: 1) cara kerja, 2)
kebenaran, 3) hasil keseluruhan, dan 4) kesimpulannya.
Sastra adalah pekerjaan imajinasi, kebenaran di tangan pengarang
dengan kata lain kebenaran bersifat subyektif. Pengarang memiliki
kebebasan penuh, ia hanya dituntut agar taat asas dengan dunia yang
dibangunnya sendiri.
Sastra bisa berakhir dengan pertanyaan, sedangkan sejarah harus
memberikan informasi selengkap-lengkapny a.
Pembedaan yang dilakukan Kuntowijoyo di atas masih bisa diperdebatkan.
Bukankah pengerjaan sejarah juga membutuhkan imajinasi, kebenaran itu
pada suatu sisi juga bersifat relatif, dan sejarah dapat juga
memunculkan pertanyaan, tidak harus berupa jawaban.
Akan tetapi, dengan pendekatan dekonstruktif yang dilakukan oleh
kelompok posmodernis, sastra itu semakin dekat dengan sejarah.
Keduanya berkaitan dengan narasi. Sejarah seperti halnya sastra
disampaikan oleh sejarawan melalui narasi. Narasi sejarah itu sendiri
memakai plot, misalnya awal, pertengahan, dan akhir, yang merupakan
plot sastra juga. Lantas, apa beda keduanya?
Kalau dikatakan soal keakuratan, sejarah juga bisa tidak akurat. Yang
jelas, keduanya membutuhkan imajinasi dari penulisnya.
Hero dan antihero
Tentu pendekatan dekonstruktif ini memiliki kelemahan pula. Para
sejarawan dituntut untuk mengakui bahwa bahasa tidak sekadar alat
untuk menyatakan pikiran atau menyimpan ingatan, tetapi juga memiliki
kemungkinan menciptakan realitas. Tetapi, persoalannya kalau semuanya
harus didekonstruksi, bukankah karya posmodernis itu juga harus
didekontruksi pula.
Taufik Abdullah yang menolak dekonstruksi ini berpendapat, "tanpa
keyakinan bahwa kebenaran empiris dan historis adalah sesuatu yang
bisa didapatkan, kita hanya akan menggerayang dalam kegelapan".
Dengan pendekatan new historicism ini, saya menyambut baik terbitnya
buku-buku novel sejarah belakangan ini, seperti Gajah Mada sebanyak
lima jilid oleh Langit Kresna Hariadi, novel Pangeran Diponegoro oleh
Remy Silado yang direncanakan empat jilid baru keluar jilid satu
berjudul "Menggagas Ratu Adil". Ada lagi novel September oleh Noorca M
Massardi dan Rahasia Meede, serta Harta Karun VOC oleh S Ito.
Novel Gajah Mada jilid keempat tentang "Perang Bubat". Rekonsiliasi
antara etnis Sunda dan Jawa diupayakan dengan menambahkan unsur baru
dalam Perang Bubat.
Novel Gajah Mada yang bertanggung jawab terhadap kematian Dyah
Pitaloka, tetapi intrik yang ada di sekeliling sang mahapatih. Dalam
novel Remy Silado, Diponegoro yang nama kecilnya Ontowiryo (dan
dipanggil Wir) ditampilkan sebagai calon Ratu Adil.
Novel September yang ditulis Noorca M Massardi secara cerdas mengajak
pembaca menebak siapa Mayor Jenderal Theo Rosa yang menjadi dalang
kudeta 1965.
Rahasia Meede mendorong khalayak untuk memikirkan Konferensi Meja
Bundar (KMB) yang sangat merugikan kita dan kurang dibahas sejarawan
Indonesia. Dengan imajinasinya, sang pengarang menawarkan alternatif
jawaban, pemimpin kita mau menandatangani perjanjian karena percaya
ada harta karun VOC di dasar laut.
Novel sejarah bukan saja tentang hero, tetapi bisa juga antihero.
Novel Ripta, Perjuangan Tentara Pecundang oleh Anita Kastubi (2003)
sangat bagus menyindir orang yang dianggap pahlawan. Namun, ternyata
pada hari tuanya ia sangat menderita karena menyembunyikan rahasia
bahwa ia sebetulnya tidak berjasa, bahkan menyebabkan beberapa orang
gerilyawan ditembak Belanda.
Sastra sejarah itu juga berpotensi untuk mengobati trauma masa lampau,
seperti ditulis Melani Budianta pada sampul belakang novel Djamangilak
karya Martin Aleida (2004), "dengan membaca buku ini terasa beratnya
beban sejarah, luka-luka masa lalu yang tidak bisa dibicarakan secara
terbuka, kecuali melalui sebuah cerita".
Dr Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI, Menetap di Jakarta