KOMPAS >Jumat, 3 Agustus 2001oleh : Andrea Peresthu
SUATU ketika, majulah seorang Jerman berteriak dengan lantang "Deutschland uber alles!" (Jerman adalah segala-galanya). Kemudian seorang Catalan berteriak "Tot per Catalunya!" (semuanya untuk Catalunya) atau yang hampir sama dalam bahasa Latin "Dulce et Decorum est pro patria mori"
(Mati untuk Ibu Pertiwi adalah yang terindah dan termanis). Lalu di
peradaban informasi ini, berdirilah arsitek kita, dan berteriak dengan
lantangnya "Mari kita berarsitektur untuk arsitektur!". "Ya, selamat
datang kloning Homo Tribalis!" tukas Antonio Jose Jauregui (Aprender A Pensar Con Libertad,
2000). Ternyata selama ini kita berarsitektur bukan untuk humanitas,
tetapi untuk hal-hal yang abstrak!Meskipun arsitektur secara kasat-mata
identik dengan estetika, tetapi tidak berarti "estetis" adalah
panglima! Sejarah di Eropa membuktikan bahwa arsitektur ternyata sangat
dekat dengan realita sosial dan humanitas. Meski "perkawinan"
arsitektur dan sosialisme tadi selalu berakhir dengan ironis dan fatal.
Ironis, karena niat baiknya yang "dikhianati" oleh Kapitalisme, fatal
dalam pengertian dehumanisasi!
Mungkin belum terlambat
bagi kita untuk membuka cakrawala, ditengah pesta pora "sadomasokis"
estetika arsitektur, instalasi, hingga bibit-bibit Narsisme yang
teramat dangkal. Maka mencari sisi "lain" inilah yang menjadi tujuan
wacana berikut, dengan harapan mampu menggali paradigma bagi peradaban
Homo-Rasionalis yang plural dalam fenomena arsitektur kontemporer kita.
Marxinius illuminatio mea = Tribalisme?
Percintaan pertama terjadi
pada abad XIX di Eropa. Saat di mana industri menjadi simbol peradaban
sejarah. Sekaligus menjadi awal mula katastrofi kehidupan kota di bawah
rezim kapitalistik. Masa ini ditandai dengan tumbuhnya industri di
pusat-pusat kota (seperti Paris, Manchester, dan Barcelona). Hal mana
berdampak pada ledakan penduduk dan pencemaran lingkungan dengan skala
"Richter" yang dahsyat. Kota menjadi semrawut, kotor, tidak aman dan
kuman penyakit bertebaran disetiap sudut kota.
Cerminan krisis sosial pada
masyarakat industri, secara luas bisa kita telusuri dari pemikir
radikal seperti Karl Marx-Engels, Ferdinand Tonnies, Proudhon, dan
segudang tokoh lainnya. Akhirnya, jadilah abad XIX sebagai satu paket
revolusi "komplet" dari industrialisasi sampai sosialisme.
Kemunduran kualitas kota,
pada akhirnya telah mengetuk hati segelintir insinyur-insinyur
progresif, yang ternyata intim bersentuhan dengan faham sosialisme. Hal
inilah yang mendorong orang-orang seperti Baron Haussmann (Paris) dan
Idelfons Cerda (Barcelona) tergerak untuk mencari paradigma baru sebuah
kota utopis yang hiegenis, teratur, demokratis dan mengurangi dominasi
kaum borjuis (hal ini tercermin dari perluasan kota Barcelona pada
tahun 1859).
Meski dipandang telah
berhasil menciptakan sebuah kota ideal. Pada akhirnya spirit sosialisme
tadi, tampaknya sudah telanjur "berselingkuh" dengan aspek-aspek
teknis, serta tidak jarang memakai "kekuasaan" untuk melegitimasi
keinginan perencana kota.
Artinya kota menjadi monumental mekanistik ala Descartes! Dia hanya bisa dilihat dari satu sisi, yaitu instrumen planning belaka!
Hidup seakan-akan harus tunduk, diperkosa oleh tumpukan diagram dan
perhitungan kuantitatif belaka! Pertimbangan kemanusiaan dan
kompleksitas kota sebagai satu realita budaya sama sekali tak terjamah.
Perencana merasa paling tahu "yang terbaik" buat rakyat! Perencana
merasa paling berhak berbuat untuk kotanya! Di sinilah awal
kebangkrutan rezim pertama planning kota yang dimotori oleh para insinyur yang katanya progresif.
Penipu itu bernama "International style"
Perkawinan kedua,
sebenarnya ingin membuka visi baru sekaligus mengoreksi kebekuan dan
arogansi mekanistik tadi. Tahap inilah yang kemudian menjelma dalam
gerakan arsitektur-kota modern. Kemunculan generasi awal, seperti Ebenezer Howard (Garden City) dan Camilo Sitte, (Gesamtkunst), telah mempengaruhi paradigma arsitek seperti HP Berlage dalam perluasan Amsterdam-Zuid.
Berlage tidak hanya
menawarkan aspek teknis yang jenius, tapi juga menghargai kota sebagai
kompleksitas budaya yang unik. Wujud pemahaman tadi, dapat terlihat
dari beragamnya kosakata arsitektur di selatan Amsterdam. Di mana
permukiman pekerja sekalipun memiliki hak untuk hadir sebagai
arsitektur yang plural, tanpa harus terjebak dalam keseragaman ala
sosialisme yang sempit.
Kritik lain yang muncul, datang dari Toni Garnier dengan konsepsi Cite Industrielle. Garnier yang sangat terpengaruh oleh pemikiran "anarko-sindikalisme" (Proudhon)
menawarkan satu pendekatan kota ideal yang humanis tanpa campur tangan
birokrasi. Hal ini terlihat dari rencana Kota Lyon di Perancis Selatan.
Di mana untuk pertama kalinya berbagai fasilitas sosial (sekolah, rumah
sakit, dan gedung pertemuan, kecuali fungsi pemerintahan) direncanakan.
Hal lain yang menarik, adalah perencanaan berbagai ruang terbuka yang
bertujuan untuk membangkitkan kembali ikatan dan kepekaan sosial (gemenschaft) yang makin terkikis dalam masyarakat industri (gesselschaft).
Ide Garnier inilah yang
kemudian menjadi inspirasi fungsionalisme Le Corbusier (seorang marxist
yang sering menulis di berbagai media kiri Paris pada tahun 1920-an).
Perkenalan Le Corbusier dengan arsitek Rusia, Lissitzky [1924] telah
memberikannya ide untuk mengagas sebuah kongres internasional [Congres Internationaux d'Architecture Moderne - CIAM]. Tentu saja hal ini tidak lepas dari agenda penyebaran faham sosialisme, sebagaimana ambisi Soviet menjalankan strategi comintern.
Dilihat dari latar belakang
tadi, maka CIAM tentu saja sangat politis ketimbang sebuah gerakan
kebudayaan. Hal ini pun terlihat dari tajamnya pertentangan antara
kelompok "humanis" (yang dimotori oleh arsitek Jerman, Belanda, dan
Belgia) terhadap pengikut "romantisme" Le Corbusier dalam berbagai
kongres awal. Dengan melemahnya peranan sayap humanis, maka pada tahun
1933 Le Corbusier dengan mulusnya memproklamasikan retorika
fungsionalisme (di mana kota dibagi dalam fungsi: bekerja, tempat
tinggal, komersial, dan rekreasi).
Selanjutnya faham
sosialisme diterjemahkan dalam eksplorasi desain-desain inovatif yang
praktis, sederhana, dan fungsional. Semua ini bertujuan untuk menekan
biaya produksi sehingga menghasilkan produk murah. Untuk memaksimalkan
metode ini, maka dipandang perlu mengadaptasi metode industri (mass-production) untuk penyediaan rumah murah bagi kaum buruh. Maka setelah PD II (di bawah "kontrak politik" Marshall Plan
dan bonanza ekonomi pada awal tahun 1970-an) retorika fungsionalisme
secara brutal telah menjadi alat legitimasi kaum industrialis untuk
menyapu bersih ruang kota dengan beton kaku mengejar awan.
Yang menjadi pertanyaan,
apakah benar masyarakat kecil merasakan manfaat sosialisme tadi?
Ternyata tidaklah se-ideal apa yang digembar-gemborkan. Bahkan dalam
jangka panjang manifesto ini harus dibayar mahal oleh penduduk kota itu
sendiri. Hal tersebut bisa kita lihat dalam argumentasi berikut:
Pertama, ternyata
industrialisasi perumahan tidaklah menyerap tenaga kerja yang
signifikan, karena semua peranan manusia digantikan oleh mesin. Kedua,
niat baik untuk memproteksi kepemilikan rumah bagi rakyat kecil, telah
menelurkan berbagai prosedur kepemilikan yang sangat ketat, bahkan
cenderung diskriminatif (berdasarkan kelas sosial dan etnis yang
homogen)! Niat baik inilah yang akhirnya menuai segregasi sosial yang
diawali dengan akumulasi urban gheto. Lambat laun terjadilah
krisis sosial yang cukup serius seperti kerusuhan etnis antara penduduk
imigran dan penduduk asli. Ketiga, dalam jangka panjang, akumulsi
persoalan tadi telah menyeret beberapa area permukiman kedalam
vandalisme, kriminalitas, dan prostitusi yang sangat mengenaskan. Hal
ini tentu saja berakibat langsung pada tingginya social cost yang dikutip dari pajak masyarakat juga!
Pada akhirnya gerakan
arsitektur modern pun dituding berkhianat terhadap sosialisme itu
sendiri! Bahkan telah mengulang mental tiran yang positivistik!
Cita-cita luhur penghematan form follows function telah menjelma dalam parodi kapitalis form follows finance!
Kumpul Kebo(isme) ?
Setelah terpuruk dua kali
dalam "perkawinannya", tampaknya arsitektur cenderung memilih hidup
bebas (1960-1980). Atau semacam pesta kumpul-kebo dengan berbagai -isme. Fenomena inilah yang sering digembar-gemborkan sebagai late-modernism, posmodernisme, atau dekonstruksi.
Di bawah bayang-bayang
perang dingin yang telah menyeret Korea dan Vietnam dalam pertumpahan
darah, muncullah fenomena "ideologiekritik" di Eropa. Kebangkitan
pemikir di masa flower generation ini jelas-jelas berhaluan
neo-marxist. Agenda perlawanan yang mereka lakukan yaitu menentang
rezim "mekanistik" modernisme (Kapitalisme maupun Sosialisme ortodoks).
Hal ini tercermin dari pemikiran kritis seperti: Henri Lefebvre, Marshall Berman, Manuel Castells dan Umberto Eco.
Mereka melakukan advokasi
untuk pencarian kembali hakikat kemanusiaan melalui aspek pluralisme.
Tidak semua hal bisa disederhanakan atas nama sosialisme (dan rakyat)!
Bahkan sudah terbukti pemahaman sosialisme yang sempit dan fanatis
hanya menghasilkan rezim totaliter baru. Sementara itu, cita-cita
humanisme akhirnya kandas oleh arus monolitik "ortodoks" yang selalu
mengatasnamakan rakyat !
Kritik sosial di atas
ternyata mempengaruhi beberapa arsitek berhaluan neo-Marxist di Italia
dan Spanyol. Mereka adalah Aldo Rossi, Rafael Moneo, Giogio Grassi, dan
Manfredo Tafurri yang menggugat rezim fungsionalisme. Mereka menuding
bahwa gerakan yang menjelma dalam International style ini telah
memperkosa kompleksitas budaya lokal. Arsitektur kota kehilangan
identitasnya, karena semuanya telah berganti dengan keseragaman bentuk
dan fungsi.
Di bagian utara Eropa
(Benelux) muncul Leon Krier, Herman Herzberger, dan Nikolaas Habraken
yang menentang proses industrialisasi dalam arsitektur. Bahkan gerakan
Krier sangat kental dengan muatan politis. Sebagai konsekuensinya,
Krier bersama dua puluh delapan profesor harus menuai pukulan telak
dari Jacques Hoyaux, Menteri Pendidikan Kerajaan Belgia, berupa
pemecatan dan penutupan sekolah arsitektur Le Cambre di Brussels pada
tahun 1978.
Oleh karena itu, arsitektur
kota dalam pandangan mereka tidak bisa direproduksi, atau dijadikan
prototipe ataupun sekadar selesai dirumuskan sebagai satu bentuk yang
paling ideal! Arsitektur dan kota adalah satu perwujudan unik dengan
segala realita budaya dan peradaban humanitas yang plural untuk terus
berkembang!
Setelah hampir empat puluh
tahun lebih hidup dalam pasca-modernisme, memang perspektif melihat
kota menjadi sedemikian plural! Dari Stockholm hingga Sevilla, semuanya
sibuk mencari jati diri dalam langgam gramatika arsitektur
monumentalis! Kota-kota Eropa bak parade monumental arsitek beken dari
Frank Gerhy, Daniel Libeskind, Santiago Calatrava, Toyo Ito serta
segudang nama lainnya. Sehingga perlu direnungkan kembali, apakah ini
hasil yang diharapkan dalam mengadopsi pluralisme (demi humanitas)?
Atau hanya sekadar hanya untuk hedonisme belaka?
Mijn indische reis
Bagaimana halnya dengan
sejarah sosialisme dalam arsitektur-kota di Hindia Belanda? Dalam kurun
waktu tertentu bisa dibilang sangat politis, sekaligus humanis, cerdas,
dan plural! Hal ini tidak terlepas dari perubahan politik serta
berkembangnya wacana sosialisme di Belanda pada awal abad XX.
Dampak dari pidato Ratu
Wihelmina (1901), secara politis telah menelurkan kebijakan politik
etis. Kebijakan tersebut kemudian diikuti dengan arus imigrasi
besar-besaran hingga transformasi geografis, informasi, ekonomi, dan
politik. Sebagai konsekuensi lainnya, berkembang pula wacana sosialisme
baik di kalangan pribumi maupun kaum kulit putih yang progresif.
Sebagaimana tercermin dalam berbagai artikel yang tersebar di koran
lokal seperti Sinar Djawa, Sinar Hindia, Si Tetap, Ploretar, Njala serta berbagai koran Belanda berhaluan sosialis.
Transformasi geografis
lahan perkotaan akibat ledakan penduduk, telah menimbulkan kesemrawutan
pada kampung kota. Hal ini akhirnya menuai kritik tajam dari berbagai
kalangan sosialis. Sebut, misalnya, beberapa nama seperti DJA
Westerveld (1909), seorang guru SMP sekaligus anggota dewan kota di
Semarang, Sneevliet yang dikenal sebagai pendiri ISDV, dan yang
terakhir adalah HF Tillema, seorang apoteker yang membuka borok-borok
kemunduran kota di Hindia Belanda pada Kongres Internasional Permukiman
di Scheveningen, Belanda (1913).
Langkah politis Tillema dilanjutkan dengan Sociaal Technische Vereeniging Congres di Semarang (1922). Kemudian pada kongres ke-2 (1925) setelah berakhirnya krisis ekonomi (malaise tijd),
artikulasi sosialisme dan pluralisme dalam arsitektur-kota menjadi
lebih konkret. Hal ini terlihat dari materi bahasan yang banyak
membicarakan ide-ide perbaikan permukimam dan rumah ideal perkampungan
penduduk yang sehat, murah, dan sesuai dengan budaya lokal.
Dalam kesempatan itu,
dipamerkan juga karya-karya inovatif arsitek H Maclaine Pont: rumah
murah dengan teknologi bambu. Kecerdasan Pont dalam hal ini bukan saja
perkara inovasi teknologi tepat guna, melainkan juga penghargaan beliau
terhadap budaya lokal. Hal ini tercermin dari kekayaan langgam
arsitektur Semarang, Pekalongan, dan Bandung yang dirasakan dalam
berbagai karyanya.
Selain Pont, dikenal juga
Thomas H Karsten yang dipandang sebagai peletak dasar-dasar perencanaan
kota "utopis" di Hindia Belanda. Beliau telah menolak pendekatan metode
rasionalisasi perumahan gaya Eropa, yang disebutnya tidak akan berhasil
diterapkan di Hindia jika tidak mampu berkompromi dengan tradisi budaya
lokal. Dalam konteks menanggulangi segregasi sosial, Karsten
memperkenalkan metode "simbiose", sebagaimana tercermin di kawasan
Mlaten, Semarang. Spirit yang sama juga dapat dirasakan di kawasan
Gempol di Bandung.
Tekanan sayap sosialis pada akhirnya telah memaksa pemerintah untuk membentuk Komisi Perbaikan Kampung (Kampoengsverbeterings Commissie). Ternyata "tekanan" ini justru menjadi primadona dan program unggulan oleh Kantor Dinas Perumahan di setiap Kota Praja (Gemeentelijke Woningbedrijf).
Berbagai hasil kerja perbaikan kampung di zaman desentralisasi ini,
akhirnya justru menjadi semacam ajang pamer setiap kota dalam kongres 25 Jaren Decentralisatie in Nederlandsch-Indie di Semarang tahun 1930.
Dari uraian di atas,
ternyata paradigma sosialisme di Hindia Belanda sudah sangat maju,
bahkan jauh hari sebelum Le Corbusier berkibar di bawah retorika
fungsionalismenya. Hal lain yang patut disyukuri, adalah kehadiran
Maclaine Pont dan Thomas H Karsten, arsitek muda yang cerdas, humanis,
sekaligus menghargai pluralitas kebudayaan kita. Kekaguman yang luar
biasa terhadap usaha Pont dan Karsten, justru datang dari arsitek
Belanda yang sangat disegani, HP Berlage dalam tulisannya Mijn Indische Reis (Perjalananku ke Hindia Belanda).
Dari kolong jembatan
Tanpa ingin berpanjang
lebar terhadap polemik dan kegagalan program perbaikan kampung (KIP),
yang terus berlanjut dari zaman kolonial hingga rezim Orba. Paradigma
sosialisme dalam arsitektur di Indonesia bisa ditelusuri dari usaha
yang dilakukan oleh Romo YB Mangunwijaya di Gondolayu, Yogyakarta.
Disamping tentunya berbagai konsep dan strategi yang pernah dilakukan
oleh arsitek humanis seperti Prof Johan Silas, dan Almarhum Prof Hasan
Poerbo.
Melihat karya Mangunwijaya
di pinggiran Sungai Code, tidaklah cukup dari cuma mengagumi warnanya.
Tidak juga cukup melihat tipologi struktur segi-tiga yang sangat
dominan. Ataupun cerita-cerita heroik yang menyita kolom koran-koran di
tahun 1980-an.
Kampung yang awalnya
terbangun dari kardus bekas itu, dulu lebih dikenal sebagai sarang
kriminalitas. Kedatangan Romo Mangunwijaya (dibantu Mas Willy) di sana
dengan mulai mendirikan rumah-rumah yang semi-permanen, bukanlah tidak
beralasan! Jika melihat kapasitas dan popularitas Mangunwijaya,
tampaknya bukanlah hal yang susah baginya untuk mendapatkan sebidang
lahan, lalu merelokasi permukiman di bantaran sungai tadi.
Namun, hal itu tidak
dilakukannya. Karena beliau tidak ingin bergerak dari cara pandang
sendiri! Beliau berusaha memahami aspek antropologis dan sosiologis
kemiskinan kota secara jernih, dialogis, dan tidak gegabah. Di mana
beliau berkeyakinan ada tradisi dalam habitat bermukim yang tidak bisa
diselesaikan dengan cara main gusur. Relokasi mungkin bisa jadi
pemecahan sesaat, tetapi tidak untuk jangka panjang. Karena bantaran
sungai ini akan ditempati lagi, mungkin oleh penghuni sekarang atau
pendatang baru.
Mangunwijaya dalam banyak
hal tidak hanya piawai dalam gramatika arsitektur tropis. Tetapi, lebih
pada sebuah rekayasa pemberdayaan dengan membangun mentalitas penduduk
di Gondolayu. Hal ini terlihat bagaimana beliau terlibat dalam usaha
mengembangkan bengkel sepeda di pinggiran Sungai Code, dengan maksud
untuk menciptakan lapangan kerja bagi penduduk di sana. Bersama
rekan-rekan mahasiswa (yang kemudian menjelma dalam Yayasan Dinamika
Edukasi Dasar) Mangunwijaya juga memberikan bekal pendidikan informal
pada anak-anak di sana. Bahkan hingga hari ini, konon kabarnya beberapa
dari mereka telah berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya.
Hal strategis jangka
panjang yang bersifat politis, tentulah bukan "gertak" mogok makan ala
Romo Mangunwijaya (pada saat Gondolayu akan digusur). Tetapi, justru
datang dari pihak Aga Khan Award (lembaga yang selalu memberikan
penghargaan pada karya-karya arsitektur yang dianggap memberikan
kontribusi bagi peradaban umat Muslim di dunia). Dengan penghargaan
tersebut, maka tidaklah mudah suatu hari untuk menggusur Kampung
Gondolayu. Karena hal itu akan menuai protes dan kecaman masyarakat
internasional yang luar biasa. Hal ini juga baik dijadikan pelajaran
bagi berbagai institusi arsitektur yang "doyan" memberikan penghargaan.
Agar sebuah penghargaan bukan sekadar didasarkan pada aspek
arsitekturalnya saja, namun perlu dipikirkan juga aspek strategisnya.
"Menggali" Ciliwung ?
Lantas apakah yang bisa dijadikan paradigma baru arsitektur-kota kita? Tanpa perlu buru-buru berteriak bahwa kami Modernisme! Postmodern! Dekonstruksi! Atau dengan segala embel-embel primordialisme klub 'hobi'
arsitektur. Maka kecerdasan sejarah humanitas-lah yang menjadi
tantangan untuk dipikirkan sebelum "berbuat"! Tanpa perlu mempersoalkan
dikotomi, misalnya, antara Marxist-space dan Capitalistic-space. Karena akhirnya bukanlah paradigma yang dicapai, melainkan hanya terjebak menjadi kaum sofis, yang kelihatannya tajam namun dangkal!
Maka mari kita coba
mensimulasikan kasus konkret kampung di bantaran Sungai Ciliwung.
Persoalan pencemaran dan marginalisasi di Ciliwung sangat mustahil
hanya diselesaikan melalui program formal seperti Prokasih atau
Perbaikan Kampung (KIP). Keberhasilan baru memungkinkan, jika
partisipasi konkret datang dari masyarakat secara konsisten. Namun,
untuk mencapai kesadaran masyarakat yang setinggi itu rasanya sangat
susah, selama kita tidak mampu menunjukkan potensi ekonomi apa yang
bisa dimanfaatkan dari keberadaan Sungai Ciliwung. Oleh karena itu
jangan heran, jika kita perhatikan hampir sebagian besar ruang terbuka
di sepanjang bantaran sungai tadi, adalah festival cubluk dan pantat
rumah semua. Sehingga wajar saja kotor tidak terurus, karena masyarakat
tidak merasakan manfaatnya. Hal yang sama terjadi dalah kasus pantai Villa Olimpica di Barcelona dua puluh tahun lalu.
Seandainya saja Jakarta Art Festival
berikutnya diadakan lagi, maka mari kita manfaatkan kesempatan ini
untuk memulai langkah strategis di Sungai Ciliwung. Pameran seni
instalasi dan arsitektur yang tahun ini mejeng di sepanjang koridor-koridor bergengsi seperti Sudirman-Thamrin, kita coba lakukan di sepanjang Ciliwung.
Sekaligus kita ajak partisipasi generasi muda di kampung untuk mendirikan kafe-gaul
(dengan menu jajanan pasar khas Betawi). Sehingga diharapkan para
pengunjung festival nantinya, selain mengarungi Ciliwung, juga bisa
mampir menikmati hidangan khas Betawi dan menikmati berbagai atraksi
dari Tanjidor, Lenong sampai Keroncong Tugu. Jadi sambil berfestival
kesenian, kawan-kawan muda di sana juga bisa belajar berwiraswasta
sekaligus mengerti apa itu artinya festival seni sekaligus manfaatnya.
Strategi ini semata-mata bertujuan untuk mengugah kembali kesadaran
bahwa sungai yang selama ini dianggap "bermasalah", mungkin suatu hari
memiliki potensi pariwisata dan sektor informal yang tinggal menunggu
jamahan tangan-tangan kreatif.
Tema dan media seni
instalasi pun bisa diolah lebih dialogis dan partisipatif. Dialogis
dalam arti tidak terlalu abstrak, misalnya, kreativitas seniman dan
arsitek bisa disalurkan dalam desain kios atau perahu-perahu yang
dipakai untuk mengarungi Ciliwung. Partisipatif, dalam pengertian
bagaimana melibatkan masyarakat dalam proses penciptaan sebuah karya
seni tradisional yang hampir punah. Misalnya, kita adakan kompetisi
ondel-ondel antarkampung yang kemudian dipajang sebagai "instalasi"
disepanjang sungai. Sehingga penciptaan seni publik bukan saja menjadi
otoritas seniman semata, tetapi juga kaya akan intensi sosial untuk
menggali nilai-nilai budaya Betawi yang sudah mulai pudar. Sekaligus
membangun tradisi kesenian populer di masyarakat.
Seandainya saja, sehabis
perhelatan besar tadi, ternyata masyarakat kampung merasakan
manfaatnya, maka silakan momentum tadi dilanjutkan oleh mereka.
Sementara, arsitek dan seniman bisa terus berperan mendampingi sebagai
teman berdialog, motivator, dan bukan merasa diri paling tahu
segala-segalanya. Biarkan semua itu berlangsung dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat sendiri.
Siapa tahu Ciliwung bisa
jadi obyek wisata baru? Siapa tahu, suatu hari kita akan melihat
munculnya fenomena hotel dan losmen di jalan Jaksa hadir di pinggiran
Ciliwung? Siapa tahu rekan-rekan muda "pengangguran" hari ini, suatu
saat menjadi wiraswastawan sukses dari sektor jasa pariwisata Sungai
Ciliwung? Siapa tahu suatu hari nanti kita bisa berenang di Ciliwung,
sebagaimana terjadi di Rotterdam hari ini? Dan siapa tahu ternyata
generasi yang "nenek-moyang"-nya kesohor paling pandai "menggali"
utang, ternyata melahirkan generasi muda yang cerdas "menggali" sungai,
di mana suatu hari hasil "pajaknya" mungkin bisa dibuat membayar utang
atau bahkan "mengutangi" IMF? Kenapa tidak? Lihat saja berapa juta
gulden yang dihasilkan dari kanal-kanal di Amsterdam dari sektor
pariwisata? Padahal, kanal ini tidak lebih bersih dari Sungai Ciliwung
beberapa abad lalu!
Jika itu terjadi, maka
peranan arsitek dan seniman muda yang menjadi penggerak awal tadi akan
dicatat dengan penuh percaya diri dalam lembaran sejarah Sungai
Ciliwung! Sejarah pemberdayaan Kota Jakarta! Sebuah usaha mencari
paradigma baru yang dialogis tanpa harus terjebak dengan jargon
sosialisme, populisme yang heroik namun dangkal dan sempit! Kita pun
tidak perlu terburu-buru menjadi Mangunwijaya-Mangunwijaya kecil yang
mungkin cuma sibuk membangun tribalisme baru.
Andrea Peresthu.
Urbanist di bidang Spatial Geo-Strategi/Politik, sedang belajar di Escuela Tecnica Superior d'Arquitectura Barcelona, Spanyol.