south-east's posts with tag: ekspedisi kawi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ekspedisi kawi
ddd
dThumbnaild
ddd
Gunung Kawi dalam tulisan

Pengantar
Gunung kawi. Siapa tidak kenal dengan tempat ini? Mungkin sebagian besar dari kita ynag mengetahui akan secara spontan mengatakan bahwa Gunung Kawi adalah tempat mencari pesugihan (mencari kekayaan dengan jalan cepat). Gunung kawi terletak 2860 m dpl. Secara administratif, Gunung Kawi terletak di kabupaten Malang Jawa timur. Dengan menggunakan perjalanan darat dari terminal Arjosari, Malang, kita akan menempuh 1 jam perjalanan darat.

Wisata Ziarah. Itulah inti yang sebenarnya menarik untuk kami angkat dan bagikan. Di Gunung Kawi terdapat pasarean utama yakni makam Eang Djugo dan Iman Soedjono. Keduanya dipercaya sebagai cikal bakal Gunung Kawi. Selaian itu, kedua tokoh ini menurut silsilahnya berasal dari Yogyakarta dan merupakan sahabat Pangeran Diponegoro.

Hidup di kaki Gunung Kawi
Udara pagi yang dingin menyambut kehadiran kami di kota malang. Jarum jam menunjukkan pukul 04.00 WIB ketika kami menapakkkan kaki di terminal Arjosari . Cuaca yang dingin dan sejuk, itulah yang menjadi ciri kota Malang .
Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju ke tempat tujuan terakhir, yakni kompleks Pasarean Gunung Kawi. 1 jam perjalanan darat dari terminal Arjosari. Gelapnya langit subuh dan tebalnya kabut, mengiringi kedatangan kami menuju Pasarean. Akhirnya kami pun tiba di kompleks pasarean

Sepi dan dingin. Itulah yang kami rasakan setelah menginjakkan kaki di Pasarean Gunung Kawi. Kami pun kemudian menyusuri jalan kecil menurun di tengah-tengah perkampungan untuk mencari tempat menginap [Di sana, untuk masalah penginapan tersedia aneka macam pilihan tarif dan suasana. Mulai dari Losmen Rp 40.000/hari/los di rumah penduduk atau di Hotel seharga Rp 150.000,-/hari/kamar]. Atau jika beruntung bisa menginap dirumah penduduk yang masalah harga bisa dinegosiasi ulang. Akhirnya, kami pun tiba di sebuah rumah penduduk yang memang disewakan. Kami mendapat ruangan yang sangat ekstra luas (cukup untuk kami ber-6). Jarum jam masih menunjukkan pukul 06.00 ketika kami beranjak untuk merebahkan diri sejenak.

Menjelang siang, mulailah petualangan dan perjalanan kami di Gunung Kawi. Secara administratif, pasarean Gunung Kawi terletak di Desa Wonosari, kecamatan Wonosari, kabupaten Malang. Pertama kali, kami menemui pejabat desa setempat. Pak Teguh, pejabat sekretris desa, yang menemui kami siang itu. Dengan senyum ramah khas masyarakat desa pegunungan, beliau mempersilahkan kami. Kami pun kemudian mengutarakan maksud kedatangan kami ber-6 di desa ini. Tak terasa 2 jam lamanya kami banyak mengobrol dengan beliau. Akhirnya kami pun berpamitan dengan beliau untuk kembali melanjutkan perjalanan untuk mengenal tempat ini.

Tim kami bagi menjadi 3 kelompok kecil, dengan masing-masing kelompok kecil beranggotakan 2 orang. Akhirnya di persimpangan jalan di depan Padepokan, kami berenam pun berpisah dengan arah dan tujuan yang berbeda. Saya dan Adit menyusuri tangga ke arah timur untuk mencari kehidupan di luar kompleks makam. Sementara Sigit dan Lukas mencari info tentang kehidupan masyarakat sekitar makam. Dan yang terakhir Yudit dan Putri mencari informasi yang berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut makam.

Apa yang kami temui?
Pasarean Gunung Kawi
Tempat yang selama ini menjadi pusat penghidupan masyarakat sekitar adalah dua buah makam (pasarean) yang saat ini selalu dikunjungi oleh banyak orang. Makam ini merupakan makam dari dua orang tangan kanan Pangeran Diponegoro, yang bernama RM. Imam Soedjono dan Kanjeng Panembahan Djoego atau yang lebih dikenal dengan sebutan Eyang Djoego (Kanjeng Kyai Zakaria II).

Alkisah, setelah Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar, kedua orang ini kemudian berpisah. Eyang Djoego kemudian mendirikan perguruan di Kesamben, Blitar sedangkan RM Imam Soedjono tinggal di Padepokan di kaki Gunung Kawi. Perguruan Eyang Djoego mengalami kemajuan yang cukup pesat sehingga mempunyai banyak murid dan akhirnya terkenal sampai di kaki Gunung Kawi. RM Imam Soedjono mendengar hal tersebut dan kemudian pergi ke Kesamben untuk bertemu dengan Eyang Djoego. Akhirnya dua sahabat lama ini pun dipertemukan.

Dalam pesannya sebelum wafat, Eyang Djoego meminta agar ketika beliau wafat, jasadnya dimakamkan di Gunung Kawi. Beberapa tahun kemudian, Eyang Djoego wafat dan dibawa ke Gunung Kawi untuk dimakamkan sesuai dengan amanahnya. Setelah Eyang Djoego wafat, RM Imam Soedjono juga berpesan agar kelak ketika beliau wafat juga dimakamkan di Gunung Kawi, berdampingan dengan makam Eyang Djoego, sahabatnya. Enam tahun kemudian, RM. Imam Soedjono pun menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan persis di samping makam Eyang Djoego sesuai dengan amanahnya.

“Kedua tokoh ini semasa mereka hidup dan berkarya selalu menanam kebaikan pada banyak orang. Karena kebaikan dan ketulusan hati mereka semasa hidup inilah, akhirnya menghantarkan banyak orang meminta pertolongan kepada mereka walaupun mereka sudah meninggal dengan mendatangi makam tersebut”, imbuh Pak Budi Setyaadji, pengurus Yayasan Ngesti Gondo. Yayasan Ngesti Gondo merupakan yayasan yang mengelola kompleks pemakaman ini.

Banyak hal yang menarik di kawasan pemakaman ini. Sebelum kita masuk, kita akan disuguhi dengan bangunan Gereja Kristen Pentakosta, Masjid Imam Soedjono, dan Klenteng Kwam Im. Menurut kami, situasi yang demikian ini menjadikan Gunung Kawi sebagai kawasan wisata yang multi kultur. Artinya semua orang bisa berziarah di tempat ini, apapun latar belakang agama dan ras nya. Bahkan, ada hal menarik lainnya yang kami jumpai. Pengurus Klenteng Kwam Im adalah seorang muslim, haji. Beliau bernama haji Yusuf, yang kesehariaanya memantau keadaan dan mengurusi segala kebutuhan di klenteng.

Di dalam klenteng ini pula, akan dijumpai sesuatu yang unik juga bagi sebagian besar mayarakat. Memasuki area klenteng, mata kita akan dengan cepatnya melihat dan kagum akan lilin-lin raksasa yang ada di depan altar, yang masing-masing mempunyai nama sebagai tanda orang atau instansi yang memasang. Lilin terbesar sanggup menyala selama 6 bulan dan harga belinya pun mencapai puluhan juta. Masyarakat mempercayai bahwa nyala lilin tersebut melambangkan harapan untuk meraih kesuksesan. Selama lilin yang dipasang menyala, maka dipercayai rejeki akan terus mengalir, begitu juga sebaliknya.

Yang menjadi khas pada pasarean ini adalah jumlah pengunjung yang sangat ramai pada hari Jum’at Legi dan pada malam 1 Sura. Banyak orang berbondong-bonong datang pada hari-hari tersebut untuk memohon doa keselamatan dan kesuksesan hidup kepada Yang Maha Esa lewat perantaraan empunya pasarean tersebut. Walaupun sebenarnya yang dimakamkan di tempat tersebut adalah orang jawa muslim, tidak menutup kemungkinan orang yang non jawa muslim berdoa dan berkunjung di tempat tersebut.

Di dalam kawasan makam terdapat pula kepercayaan-kepercayaan lain yang berkembang. Jika kita menginginkan keselamatan, kita harus mengitari makam paling sedikit tujuh kali putaran. Angka 7 dalam bahasa jawa adalah pitu. Hal ini kemudian diartikan sebagai pitulungan. Menurut Pak Adjie, hal mengitari makam akan lebih baik lgi jika dilakukan pada tengah malam pukul 00.00 dan jumlah putarannya sebanyak 12 atau lebih. Bahkan, ada yang sampai 100 kali. Namun, sayang sekali, ternyata kami tidak diperkenankan mengambil gambar di kompleks makam (semenjak melewati gerbang utama).

Para peziarah yang datang ke pasarean ini, biasanya datang dengan membawa bunga mawar segar dan dupa sebagaimana layaknya kita berziarah di makam. 100 meter sebelum gerbag makam, berderet banyak sekali penjual bunga mawar beserta ubo rampe-nya. Bunga mawar dihargai sekitar Rp. 300,- untuk satu keranjang kecil, sedangkan untuk keranjang yang besar dihargai sebesar Rp. 1000,-.

Banyaknya pedagang yang berjualan kadang tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang sedikit. Hal ini membuat ada beberapa bunga yang lalu dan akhirnya tidak laku dijual. Kondisi demikian, tak membuat para pedagang berkecil hati. Ternyata, bunga-bunga yang layu tadi tidak begitu saja dibuang. Namun, bunga-bunga tersebut dikeringkan dengan bantuan matahari dan kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk kemudian dikirim kepada pengepul. Oleh pengepul, bunga-bunga kering ini disetorkan kepada industri-industri pembuat dupa (hio) di kabupaten Malang.

Peziarah yang datang ke tempat ini jelas mempunyai maksud dan tujuannya masing-masing. Yang jelas mereka pada intinya memohon kesuksesan dan keselamatan hidup. Tak jarang pula yang kemudian melakukan nadhar dan upara slametan di makam. Karena banyaknya orang yang melakukan hal tersebut, Yayasan Ngesti Gondo pun (selaku pengelola makam) membantu mempermudah pelaksanaan nadhar dan slametan. Yayasan telah memberikan tempat khusus dan segala ubo rampe slametan dan nadhar yang dapat dipesan di tempat itu. Bentuk nadhar yang disediakan di sana bukan hanya sekadar makanan, tetapi ada juga nadhar dalam bentuk pementasan wayang kulit.

Selain nadhar, upacara slametan juga banyak dipilih masyarakat sebagai wujud rasa syukur atas terkabulnya permohonan mereka. Bentuk slametan sendiri terdiri dari ayam ingkung atau kambing atau sapi beserta nasi, sayuran dan segala hal yang dibutuhkan. Kesemuanya ini sudah dapat dipesan di tempat yang telah disediakan oleh yayasan.

Untuk memenuhi segala pesanan makanan dari masyarakat yang melakukan nadhar dan slametan, pihak yayasan kemudian membangun sebuah dapur umum. Dapur umum ini ukurannya lumayan sangat besar, dihiasi dengan kuali-kuali yang sangat besar pula. Yayasan mempekerjakan banyak karyawan di dapur umum ini. Mulai dari bagian memasak itu sendiri, karyawan yang bersih-bersih, maupun karyawan yang punya spesialis khusus dalam menyembelih hewan. Rata-rata pegawai di sini berasal dari sekitar pasarean. Namun, juga tidak menutup kemungkinan adanya karyawan dari luar gunung kawi. Bahkan, ada karyawan yang kami temui berasal dari Blitar. Setiap bulan mereka menerima upah sebesar Rp.200.000,- dan tidak ada uang lembur untuk yang bekerja sampai pagi (jam kerja biasa mulai pagi sampai sore). Padahal setiap Jum’at Legi, pesanan nadhar dan slametan dari peziarah sangat banyak sehinga kebanyakan karyawan sampai tidak tidur semalaman untuk memenuhi pesanan slametan maupun nadhar.

Banyaknya pesanan nadhar juga membuat para penyembelih ayam. Pada hari itu kami berjumpa dengan pak Budi. Beliau bisa dikatakan senior di kalangan penyembelih ayam. Beliau sudah menyembelih ayam semenjak 4 tahun yang lalu. Pagi itu kami melihat tangannya yang cekatan, mengambil ayam dan menggoreskan pisaunya di leher ayam. 100 ayam yang disembelih waktu itu. Bersama dengan 6 temannya yang lain, pak Budi menyelesaikan tugas menyembelih ayam, hingga membersihkannya dan akhirnya melipat ayam tersebut dengan bentuk yang sangat unik. Kami pun sempat ditawari untuk makan bersama setelah selesainya ‘upacara’ penyembelihan ayam ini.
Suasana yang sangat kekeluargaan, jelas terlihat dari wajah mereka. Tak jarang, ditengah serius menyembelih ayam terdengar cletukan yang membuat suasana menjadi riang dengan adanya tawa. Jumlah 100 ayam pada hari itu pun sangat sedikit dan tak terasa dengan cepatnya penyembelihan ayam itupun selesai.
Masyarakat gunung kawi telah banyak tercukupi kebutuhan hidupnya dengan keberadaan wisata ritual disini. Di tengah kekurangan dan kesahajaan yang terlihat dari karyawan dapur, mereka masih tetap bisa bersyukur kepada Yang Esa. Kami belajar banyak dari mereka.
(Putri dan Yudith)

Kata Masyarakat Dusun Wonosari
Pada saat kami tiba di sana, kami menemukan sebuah masyarakat kaki gunung yang sangat ramah dan bersahaja. Mereka sedang sibuk untuk mempersiapkan upacara pembakaran Sang Kala (semacam ogoh-ogoh) pada 1 Suro. Acara ini merupakan inisiatif aparat desa setempat untuk menyemarakkan kawasan wisata ritual Gunung Kawi ini.

Menurut penduduk di sekitar pesarean Gunung Kawi, Rw 4 merupakan RW yang paling kompak masyarakatnya. Mulai dari anak-anak sampai orang yang dianggap sebagai sesepuh masyarakat selalu bekerja sama dalam partisipasi acara yang diselenggarakan baik oleh intern warga RW 4 atau oleh desa. Hal itu terlihat dalam persiapan upacara pembakaran Ogoh-ogoh. Para orang tua dan beberapa pemuda sebagai pendukung ide kreatif bertindak sebagai panitia yang memberikan hal-hal yang konseptual, sedangkan sebagian besar pemuda dan anak-anak bertindak sebagai pelaksana. Keistimewaan ini diungkapkan oleh Pak Senen, Ketua Rw 4.

Kebetulan pada tahun ini RW 4 menampilkan pengiring joran berupa sepasukan drumband sederhana. Ada yang memainkan bas drum, rebana, kendang, dan alat musik pukul lainnya. Ketika kami hendak memasuki gang di RW 4, kira-kira sekitar pukul 3 sore, sudah terdengar alunan musik yang dimainkan untuk pengiring joran pada tanggal 20 Januari. Kami sedikit terkejut ketika mendengar "Matsuri"-nya Kitaro dimainkan hampir dengan sempurna. Ternyata para pemainnya sudah cukup terlatih.

Kami sempat bertemu dengan Pak Toha, pelatih drumband RW 4, yang menyatakan bahwa dari tahun-ketahun warga yang berpartisipasi dalam drumband semakin bersemangat untuk menguasai permainan. Pak Toha sendiri adalah warga asli RW 4 yang memang berkecimpung dalam dunia seni, terutama musik pukul. Saat ini beliau sudah tidak lagi berdomisili di RW 4 tetapi di desa Bumi Rejo di selatan desa Wonosari. Namun walaupun sudah pindah, beliau tetap bersemangat dalam membimbing latihan warga RW 4. Tidak hanya warga RW 4, tetapi juga seluruh partisipan di desa Wonosari juga mendapat sentuhan tangannya. Secara bergilir Pak Toha berkeliling dari RW 1 sampai RW 9 untuk melatih pasukan drumband masing-masing RW.

Kekompakan masyarakat RW 4 juga terlihat ketika Pak Panut, seorang warga RW 4, dan seorang temannya ikut dalam pembuatan ogoh-ogoh di RW 1 yang kebetulan mendapat jatah untuk membuat ogo-ogo. Selain itu, saya melihat bahwa aransemen musik yang di tampilkan merupakan aransemen bersama. Hal ini diperjelas ketika Pak Toha sedang melakukan evaluasi setelah latihan berlangsung.

Sejenak setelah melihat latihan drumband, kami berjalan menuju tempat pembuatan joran RW 4. Joran yang di persiapkan ada dua, dengan betuk kuil Kwan Im dan pendopo pesarean. Dari replika itu, menurut Mas Penyu, salah satu tokoh pemuda RW 4, joran itu melambangkan persatuan antara warga keturuan Cina di Gunung Kawi dan masyarakat asli. Atap kuil Kwan Im terbuat dari atap sirap, yang merupakan model atap khas masyarakat Jawa.

Dalam pembicaraan singkat dengan Mas Penyu, masyarakat G. Kawi yang biasa menyebut diri mereka sebagai Sangkawi, menyakatakan bahwa pendapat masyarakat luar Gunung Kawi yang menilai Gunung Kawi merupakan tempat untuk mencari pesugihan adalah salah besar. Mereka punya gagasan bahwa jika seorang manusia ingin punya harta melimpah ya harus bekerja keras. Hal ini semakin jelas ketika kami membaca sebuah papan besar di depan pendopo padepokan Eyang Djugo yang kurang lebih berbunyi "Hanya Allah Tuhanlah yang patut disembah…". Hal ini kembali diperjelas dengan lirik lagu yang diciptakan oleh Pak Irwan Sumadi, salah satu warga RW 4, yang menekankan bahwa G. Kawi bukan tempat untuk mencari pesugihan.

Alam kawi
Di lain tempat, kurang lebih jarak 5 km ke arah barat dari pasarean, kami menemukan hutan pinus yang sangat lebat dan rindang. Kami pun kemudian mulai mencari tahu apa yang ada di dalam hutan dengan menyusuri jalan setapak yang ada.

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan pak Marsaid, warga wijiombo, yang sedang asik mengambil getah dari pohon-pohon pinus. Sejenak kami menghampiri beliau. Menurut pengakuannya, getah dari pohon pinus ini akan menjadi bahan baku pembuatan tiner (pengencer cat). Setiap hari, tambahnya, beliau mendapat 10 kilogram getah pinus. Per kilogramnya dihargai sebesar Rp 1300,- di tangan mandor. Oleh mandor, getah-getah pinus ini kemudian disetorkan kepada pabrik pembuatan tiner yang berada di Trenggalek.
Selain hutan pinus yang ada, kami juga menemukan penduduk sekitar yang sedang menebang pohon bambu untuk dijadikan kerangka atap rumahnya. Maklum saja, di sana juga banyak tumbuh pohon bambu di mana-mana.
(Lukas dan Sigit)

Kehidupan sekitar pasarean
Setelah berpisah di simpang jalan depan Padepokan, kami berdua menyusuri ratusan anak tangga menuju ke bawah, ke arah timur dari pasarean gunung kawi. Kami menyusuri gang-gang menurun yang lumayan sempit (jika pernah pergi ke ke Jogoyudan, bantaran kali code, kondisi jalan dan situasi pemukiman hampir sama dengan di kawi). Sesekali kami menyapa para penduduk sekitar, dan dengan senyum ramah yang khas pula mereka menjawab sapaan kami.

Di akhir anak tangga kami menemui sebuah kompleks permandian. Sumber Manggis namanya. Sekilas kami melihat kompleks permandian ini kurang terawat (sangat berbeda dengan situasi di pasarean yang sangat bersih, nyaman dan terawat yang auh dari kesan menakutkan). Sumber manggis ini kurang lebih terletak 2 km ke arah bawah dari pasarean utama.

Pada awal kedatangan, kami hanya disambut oleh situasi yang sepi nan tenang. Tetapi, tak berapa lama kemudian kami disapa oleh seorang bapak tua. Dengan berpakaian safari dan mengenakan peci hitam, beliau menyalami kami berdua. Obrolan kami pun dimulai.

Setelah obrolan kami berlangsung cukup lama, kami pun mengetahui bahwa beliau adalah juru kunci sumber manggis. Bapak Slamet namanya. Hampir setiap hari (dari pagi sampai menjelang maghrib) beliau dapat kita jumpai dengan mudah di tempat ini. Tak jarang pula beliau menginap di sumber ini untuk menemani keinginan para tamu yang ingin berdo memohon keselamatan.

Pak Slamet, seorang yang bersahaja. Sudah dari kecil beliau “menjaga” sumber ini, hingga akhirnya sekarang sudah dikarunia 3 anak dan 1 cucu. Awal mula dia hanya sekadar ikut orang tuanya yang dulu juga merupakan juru kunci makam ini. Terhitung sejak tahun 1972 beliau menjadi juru kunci sumber Manggis. Menurut beliau, sumber Manggis dulunya tidak seperti yang sekarang. Hingga pada suatu ketika datanglah seorang etnis tionghoa yang ingin membangun tempat ini. Dan jadilah sumber manggis yang sekarang. Maka, tak heran jika ketika kita memasuki sumber manggis, kita akan melihat ornamen-ornamen khas etnis tionghoa. Mulai dari tempat menaruh dupa hingga altar dengan suasana serba merah. Tambah beliau lagi, pada waktu itu datang seorang kyai dari Banten. Kyai ini setelah berdoa di tempat ini, beliau kemudian membalut pohon manggis bagian bawah yang ada di sumber manggis ini dengan kain mori (katun putih). Sekarang kain itu pun tampak sudah semakin usang. Pak Slamet tinggal di desa sebelah yang sudah termasuk kecamatan Ngajum. Kurang lebih 2 km ke arah selatan.

Di sumber manggis ini terdapat beberapa rumah penduduk yang rata-rata memelihara anjing. Selain itu pula terdapat banyak sekali kamar mandi yang kondisinya lumayan cukup terawat. Sebenarnya, belum lama ini ada seorang dari Surabaya yang ingin merenovasi sumber manggis ini, namun dia mensyaratkan bahwa lingkungan sumber manggis harus bersih dari anjing. Orang surabaya ini memang tidak suka dengan anjing. Tak terasa, obrolan kami pun sudah lama. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan kami.

Tak terasa matahari sudah di atas ubun-ubun. Kami pun mulai agak kelelahan menempuh jalan tanah setapak yang menanjak. Panasnya terik mentari tidak begitu terasa ketika kami melewati pepohonan yang rindang di kiri kanan kami.

Di depan kami, ternyata ada sebuah kompleks bangunan yang kurang terawat. Kurang bersih dan banyak juga perabotan yang dibiarkan rusak saja. Perlahan kami menghampiri tempat tersebut dan sampailah kami di Sumber Urip. Kami pun disambut dengan hangat oleh seorang bapak yang cukup tua. Pak Sudak namanya. Beliau adalah juru kunci Sumber Urip dan bertempat tinggal di kompleks pemandian Sumber Manggis.

Kompleks pemandian Sumber Urip ini kondisinya jauh labih buruk dari Sumber Manggis. Deretan kamar mandi yang terletak di dekat sungai kecil yang mengalir dari puncak gunung, tidak semuanya dapat difungsikan. Terlebih setelah banjir menerjang temapt ini beberapa tahun yang lalu. Bangunan kamar mandi pun hancur dan tidak dapat berfungsi dengan normal. Sejauh ini nampaknya tidak ada upaya renovasi yang cukup berarti.

Suasana sepi dan sejuk pun menghantar kami untuk meninggalkan tempat ini. Di depan, deretan anak tangga sudah menunggu untuk kami tapaki. Namun, sebelum kami menapaki anak tangga yang pertama, kami berjumpa dengan seorang bapak tua kecil yang menyapa kami dan menawari kami untuk singgah di rumahya. Pak Kamiran nama beliau. Rumahnya memang tak jauh dari sumber urip, hanya dibatasi dengan sungai yang mengalir di tempat itu. Rumah Pak Kamiran berada di sisi barat sungai sedangkan sumber urip berada di sisi timur dari sungai.

Pak Kamiran, bersama dengan istri dan cucunya tinggal di kompleks itu sendirian. Tiada tetangga pastinya. Kami membayangkan suasana yang sangat sepi dan ngeri akan hinggap di temapt itu ketika malam datang. Sendiri di tengan lembah. Seperti itulah suasananya.

Sehari-hari pak Kamiran bekerja di ladang. Tetapi seringkali di sana, pak kamiran dalam kesehariannya membuat encek, yakni sebuah ayaman dari bambu berbentuk persegi ukuran kurang lebih 25 cm x 25 cm. Encek ini biasanya digunakan sebagai tempat untuk sesaji. Beliau mengaku menjual barang tersebut seharga Rp. 1500/buahnya.

Lain dahulu lain sekarang. Dahulu beliau sanggup menjual ribuan encek per minggu, namun kini hitungan minggu berubah menjadi bulan. Sepinya pengunjung beliau akui menjadi salah satu sebab menurunnya penjualan encek dan sepinya pengunjung di sumber urip. Hal ini semakin diperparah lagi dengan adanya bencana Lumpur Lapindo dan bencana Gempa Bumi di Yogyakarta. Kondisi Sumber urip pun semakin menjadi lebih tidak terawat dan semakin sepi.

Senja nampaknya sudah menanti. Kami pun memutuskan meninggalkan tempat ini dan kembali ke tempat kami menginap untuk melanjutkan perjalanan esok hari.

Bermain di desa tetangga
Matahari sudah merangkak naik, ketika kami mulai menapaki jalan tanah yang cukup lebar menuju ke desa tetangga. 1 km jauhnya kami menyusuri jalan tersebut hingga akhirnya kami menemukan sebuah desa nan asri dengan tatanan jalan berbatu yang membelah desa ini. Magersari nama desa ini. Walaupun jaraknya hanya sekitar 2 km dari Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Desa Magersari sudah berada di Kecamatan Ngajum. Kami pun mulai menyusuri jalan berbatu yang membelah desa ini.

Tikungan pertama desa ini kami lalui. Kami disambut tawa riang anak-anak desa ini yang sedang bermain. Mereka bermain di depan rumah penduduk yang sedang membuat batang Hio dari bambu. Ya, masyarakat desa ini juga, disamping berprofesi menjadi guide dan peladang, mereka pun berprofesi menjadi pembuat batang hio. Batan hio ini mereka buat dari batang bambu dan diserut hingga kecil seperti tusuk sate. Kemudian bambu-bambu kecil ini dijemur hingga kering betul sebelum akhirnya disetor ke pabrik pembuatan hio di Malang.

Jalanan yang kami susuri semakin menanjak. Tatanan batu yang semula rapi pun kelihatan mulai hancur di tanjakan pertma. Kondisi yang demikian ini tidak memungkinkan kendaraan dengan gardan tunggal melewatinya. Kami juga menjumpai sebuah mobil jeep tua buatan salah satu pabrikan di Jepang (juga bekas dari kendaraan wisata di Gunung Bromo) yang disulap menjadi kendaraan pengangkut genting. Benar saja hal ini dilakukan. Truk atau kendaraan pengangkut dengan gardan tunggal lainnya tidak mungkin bisa melewati tanjakan-tanjakan di desa ini.

Kami di desa ini kebanyakan menjumpai aktivitas-aktivitas anak-anak. Ada yang sedang bermain, ada pula yang sedang pulang dari mencari kayu dilereng gunung. Seperti Edi purwanto (10). Bocah kelas 3 SD ini dengan senangnya membawa satu botol toples penuh berisi kelereng. Menurut pengakuannnya, kelereng ini dia jual kepada teman-temannya. Dia mematok harga Rp. 100,- untuk 4 buah kelereng. Hari itu dia sudah mendapat uang sebesar Rp 5000,- dari hasil penjualan kelerengnya. Ya begitulah anak-anak. Mereka akan tetap bermain dalam dunianya sendiri.

Di batas vegetasi (memasuki hutan pinus), kami menjumpai Pak Wakid. Beliau sedang asik mencangkul tanah di sela-sela pohon pinus ketika kami menghampiri beliau. Beliau pun memaparkan, dibukanya kemitraan perhutani dengan masyarakat, dapat memungkinkan para petani menggarap tanah di sela-sela pohon pinus untuk ditanami ubi jalar. Sehari-hari beliau berprofesi sebagai pramuwisata di pasarean Gunung Kawi.
(Chandra dan Adit)

Kami pun kembali…
Tujuh hari di kaki Gunung Kawi bukanlah waktu yang sebentar. Kami dapat belajar banyak dari mayarakat setempat. Mulai kepedulian terhadap lingkungan hingga belajar akan hidup dalam kesederhanaan. Mungkin hal-hal di atas hanyalah sekelumit kisah kami selama di kawi. Masyarakat kawi telah menambah warna kehidupan kami. Akhirnya, kami pun harus kembali ke Jogja dengan pesan dari Kawi:
• Memohonlah hanya kepada Tuhan YME, karena Dialah yang patut disembah.
• Tidak ada kesuksesan tanpa usaha.
• Gunung Kawi BUKAN tempat mencari pesugihan !!!

foto : Atmajaya Photography Club (Bulus/Encum/Lukas/Sigit/Paw/Putri)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help