Seorang teman, pengamat politik, bertanya kepada saya :
Berapa kans Sutiyoso menjadi presiden ?
saya jawab : mustahil. Kita masih ingat sikap fasis dia atas ribuan orang miskin di Jakarta
demi proyek-proyek mercusuarnya untuk kelas menengah-atas kan ?
Teman saya hanya mengangguk-angguk saja.
Bang Yos, sebuah fenomenal. Setelah wacana megalopolitannya tak berbekas, maka dia nekad merangsek maju ke kursi paling panas di republik kita : RI 1. Cukup berhati-hati dan sistematik dia memulai, saya pikir seperti seorang pegawai rendahan yang memulai karirnya di sebuah kantor bernama Indonesia, dari satu departemen, meloncat ke departemen lain sembari berhitung atas kesempatan akan naiknya pangkat. Ambisius dan cermat. Nyaris seperti kancil di ganasnya rimba perpolitikan nasional. Tak pernah sekalipun oleng, walau oleh kasus besar macam penggusuran dengan kekerasan, banjir di awal 2007 lalu, bahkan kasus 27 Juli pun.
Enam bulan menjelang berakhirnya jabatan, beberapa kali Sutiyoso muncul di acara talkshow televisi nasional. Hampir semua televisi nasional pernah dia jelajahi. Umumnya talkshow yang dimulai diatas pukul 19.00 ini bernada sama : berbincang santai-mengunyah ketela sembari berbicara tentang Indonesia. Lalu hadirlah Bang Yos disana, dengan santainya berbicara tentang Indonesia. Dipandu oleh seorang moderator kawakan yang sudah jelas lucu, melumerkan wajah Bang Yos yang kaku dan tegang ketika berada di televisi. Sepertinya, Bang Yos sadar, bahwa dia bukanlah sosok yang "fotogenik", seperti parlentenya Amin Rais misalnya, ataupun Gus Dur yang selalu kontroversialnya. Sutiyoso butuh sebuah anti-tesis dari wajah garangnya, kelucuan dan artis ibukota yang cantik.
Awalnya berbicara tentang megalopolitan, yang tak mendapat respon. Berhari-hari dia menghabiskan waktunya di parlemen dengan isu tersebut. Tak jelas kepastiannya, tapi orang ingat, bahwa ada Sutiyoso dengan perpektif masa depannya yang berwawasan luas, sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah kompleksitas bangsa. Semua media nasional mencatat isu megapolitan ini dalam kolomnya. Lalu media itu berpencar ke seluruh penjuru Indonesia, terutama di kota besar, kelas menengah-atas. Informasi tentang Sutiyoso bagi kalangan perkotaan yang akrab dengan koran cukuplah kuat.
Lalu dimulailah babak baru dihari kemarin, pencalonan dirinya sebagai calon presiden independen. Berlatarkan baliho raksasa merah putih dan nyanyian Indonesia raya Sutiyoso mentahbiskan tekad bulatnya. Media nasional, Kompas, menjadikan tekadnya itu sebagai headline foto utama. Berada di tengah Try Soetrisno dan Gus Dur, dia mengacungkan jari telunjuk : nomer satu.
Saya membayangkan seseorang yang berada di tengah, diapit para sesepuh di kiri-kanan sungguhlan peristiwa sakral yang penuh khidmat dan berkah, sekaligus pertanda. Pada ritual perkawinan jawa, para calon pengantin yang direstui biasanya diapit orang tuanya di kanan-kiri ketika berjalan menuju pelaminan. Itulah Sutiyoso, seperti seorang calon pengantin yang memohon restu sekaligus petunjuk dari para sesepuh politisi senior di perjalanannya ke kursi presiden.
Jelaslah, dia mendapat restu.
Megalopolitan sejatinya adalah sebuah loncatan kecil menuju kue lebih besar. Dari sebuah wacana teknis, yang kemudian berlipat menjadi prosesi pembentukan citra seorang pemimpin. Mewarisi bekal sebagai seorang birokrat yang paham akan kewenangannya, sekaligus ambisius.
Sutiyoso, dengan cerdik memanfaatkan kemungkinan maju sebagai presiden tanpa kendaraan politik dengan calon independen. 2009 masih 1,5 tahun lagi, makin dekat, tapi makin tak pasti, justru itulah Sutiyso berhitung dengan segala kemungkinan yang ada : independen / parpol ?
Saya pun mengeryitkan dahi mendengar Sutiyoso mencalonkan diri : Who is he ?
seperti kata orang jawa. "bocah kencur wani medun", orang baru berani turun, bermain di tingkatan politik nasional. Banyak ahli mengatakan, bahwa ia hanya terkenal di Jakarta. Padahal pemilihan presiden secara langsung 2009 akan dicoblos oleh 370-an juta rakyat di seluruh bagian Indonesia.
Pertanyaan saya : mampukah dia membangun jaringan dengan tenggat waktu 1,5 tahun tanpa parpol apapun ? Dengan cara seperti apa ?
Hari ini Sutiyoso menjawab keraguan para ahli dengan bertandang ke kediaman Mbah Maridjan. Semua media meliput kejadian menghebohkan ini, setelah jagad politik nasional dikejutkan dengan keterus-terangannya mencalonkan diri sebagai presiden.
Siapa yang tak kenal Mbah Maridjan ?
Sesepuh dari kalangan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dihormati siapa saja yang memegang teguh tradisi kejawaan-nya.
Siapa yang tak kenal Mbah Maridjan ?
ketika hebohnya Merapi memuntahkan wedus gembelnya, dia malah tenang-tengan berada di lereng Merapi sana. Bagi beberapa kalangan orang, dialah "Presiden Merapi", yang oleh Sultan HB X pula, disebut sebagai prajurit yang pantang berlari dari tanggung jawabnya. Seorang yang benar-benar ksatria dalam legenda Mahabharata, rela mengorbankan nyawanya sendiri demi tugas, bahkan melawan perintah atasannya sendiri demi tugas. Posisi Mbah Maridjan cukup kuat di kalangan orang jawa, karena dialah juru kunci dari gunung Merapi yang selalu bergejolak dan tak bisa diprediksi karakternya.
Itulah yang dibutuhkan oleh Bang Yos : citra ksatria.
Untuk menjadi ksatria, maka dia butuh seorang sesepuh ksatria untuk merestui tekadnya, setidaknya melantiknya menjadi seorang ksatria sejati. Maka seperti jagad politik jawa yang sudah-sudah, Mbah Maridjan berkenan memberikan restu dengan pertemuan singkat sembari berbuka puasa di lereng Merapi. Sebuah langkah awal yang cerdik dan penuh kejutan.
Setelah ini, ape lagi Bang ?