saya masih ingat, kira-kira setahun lalu, seorang ahli politik nasional melempar mazhabnya :
pemerintah kita hanya efektif 3,5 tahun pertama, lalu 1,5 tahun berikutnya akan dipakai untuk pemilu.
Sebenarnya tak terlalu penting bagi media kebanyakan ketika JK menegaskan akan bisa sekali berpisah dengan SBY saat Pemilu 2009 nanti. Tokh, di Kompas pun hanya menempati berita bagian belakang, empat kolom tujuh paragraf, dengan foto yang mungkin lebih mirip jagongan santai saja. Ada dua orang, sisi kanan ketua Fraksi Golkar dan kirinya ketua Fraksi PDIP. Saya rasa, seperti duplikat acara seremonial Bush yang selalu ada pejabat tinggi di sisi kanan-kirinya. Hal yang lazim dalam sebuah acara rasan-rasanan.
Saya jadi ingat teman saya, seorang aktivis 98, yang selalu tak pede jika bicara sendirian di depan pers. Dia perlu ditemani, oleh kawannya di sisi kanan-kiri, yang sebenarnya secara teknis tak memberikan fungsi apa-apa karena yang berbicara saat itu hanya dia saja. Istilahnya kerennya saat itu : satu suara-satu perjuangan. Namun dari sisi psikologis, itu menunjukkan kekuatan dan daya tawar luar biasa bagi lawan ketika melihat:
Lihatlah, siapa yang ada di sampingku wahai lawan-lawanku. Bergetarlah lututmu karena aku lebih kuat dari sangkaanmu.
Lalu puluhan kamera menjepret aksi sang lakon, biasanya berupa gaya bicaranya. Yang meledak-ledak seperti Soekarno, simpatik seperti Soeharto, ekspresif seperti Habibie, cuek seperti Gus Dur, kikuk seperti Megawati ataupun sistematik seperti SBY. Saya yakin, semua fotografer yang instingnya kuat akan memiliki rekaman gaya-gaya presiden republik ini.
Pada dasarnya semua orang ingin diabadikan pada kondisinya yang paling nyaman, kebanyakan saat bersenang-senang dan bahagia. Jadi wajar ketika menjelang pernikahan, pre-wedding selalu jadi lirikan untuk momentum ini. Siapa pula yang ingin menyewa pre-obituary juga kan ? Tak ada satu pun. Tak ada yang mau bergaya saat da berita duka, lain halnya dengan pre wedding yang penuh dengan konsep dan pernak-pernik saat pemotretan. Seorang teman, spesialis pre-wedding, menerangkan bahwa foro pre-wedding bisa dijadikan perekat saat terjadi konflik keluarga. Di adat jawa, dulu ada semacam kursus perkawinan dari para sesepuh untuk menghadapi konflik semacam ini, namun jaman serba praksis ini cukup hanya dengan selembar foto 12R dengan pose terbaik dan termanis.
Yang terbaik dan termanis akan selalu menimbulkan reaksi saat terjadi konflik. Bisa jadi saling berkasih-kasihan setelah melihat dan merenungkan, atau bisa jadi semakin panas ketika menjumpai bukan foto dirinya yang terpampang. Apalagi yang terpampang bukan sang kekasih sendiri, naumun tetap dengan pose yang terbaik dan termanis.
Nah, inilah yang terjadi pagi ini :
SBY pun bersiap menghadapi Pemilu 2009, bisa jadi akan berpisah dengan JK pula.
Kubu SBY mengumpan balik dari wacana yang telah dilempar JK sebelumnya. Saya bisa membayangkan, satu tim kepresidenan, rasan-rasanan masalah suksesi sebelum waktunya usai. Artinya dalam waktu dekat, akan ada perubahan suksesi yang dilakukan oleh anak buah kepada atasannya !
Hebat tur nekad ! Saya cuma geleng-geleng takjub liat JK nekad menghembuskan wacana suksesi. Watak JK yang umumnya watak masyarakat daerah pesisir membuat dia harus berpikir cepat untuk keputusan yang tepat dan jumpa pers di parlemen jadi wajang penggorengan yang paling nikmat matangnya. Silahkan dicermati, bagaimana disajikan di tiap-tiap media, saya bertaruh pasti akan memakai bahasa dan gambar yang berbeda pula.
Meniru dunia politik nasional yang penuh perumpamaan dan nasehat,bisa dikatakan bahwa SBY dan JK sedang bermain sepakbola sebagai dua orang striker yang awalnya padu, lalu berlomba menghasilkan gol ketika berhadapan dengan waktu dan tuntutan kemenangan. Lebih panas lagi ketika wacana suksesi dilempar balik oleh kubu SBY tepat berada di headline Kompas. Ketika pengasong menjual koran di perempatan jalanan ramai, maka akan terlihat halaman muka koran :
"Demokrat akan pikirkan calon wapres lain selain Kalla"
SBY : halaman depan, tak berfoto
JK : halaman belakang, berfoto
Jelas SBY, tak mau mengalah. Tapi dia tak senekad JK yang berani tunjuk hidung : I want to be a president 2009 !
Kekuasaan gaya raja jawa mentradisikan mengekang emosi dan keinginan, tak bolehlah terlalu nampak ambisius. Selalu harmonis dlam tiap suksesinya. Suasana kolektif gaya masyarakat agraris membuat tak boleh ada yang menampilkan diri terang-terangan, nanti tak dapat simpati, tapi melalui simbol dan pertanda sajalah. Melalui kubunya, Partai Demokrat, SBY berpantun dengan JK. Selalu berbicara "tak memikirkan rencana 2009 nanti, berkonsentrasi pada jabatan presiden sekarang", sembari koleganya menebar lobi dan menyemburkan pernyataan di media.
Walah walah...Walau bagaimananapun, seorang raja tak bolehlah nampak bertengkar di depan para kawula, apalagi jika berkaitan dengan rerbutan jabatan. "Ra ilok ", tak sopan, kata orang jawa. Bakal tersingkir di 2009 nantinya kalau nekat.
Rasanya Jk sudah tak sabar lagi menghadapi Pemilu 2009, sedang SBY masih malu-malu kucing, berhitung dan berhitung.
Tapi harap semua maklum, ini balapan karung bung. Loncat kesana-kemari tak pasti untuk sampai ke akhir nanti.
Yogyakarta 3 Oktober 2007