south-east's posts with tag: arsitektur jawa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag arsitektur jawa
Blog EntryKegelisahan Arsitektur JawaApr 24, '07 11:14 AM
for everyone
KOMPAS Senin, 02 April 2007

Tinjauan Buku
Kegelisahan Arsitektur Jawa


Sutrisno Murtiyoso

Sebenarnya, sejak lama Josef Prijotomo memendam kegelisahan terhadap masalah arsitektur Jawa. Mulai dari buku pertama, Ideas and Forms of Javanese Architecture (1984), sampai hari ini, ia terus menelisik urusan ini.

Pada masa awal ia menelusuri candi-candi, baik di Jawa Tengah maupun Timur, semuanya tertuang dalam berbagai tulisan terpendam karena hanya dimuat di beberapa jurnal Ikatan Arsitek Indonesia dan media lokal setempat.

Adalah dasawarsa 1990-an, saat ia mulai memusatkan perhatian pada naskah-naskah Jawa mengenai bangunan dan pada tahun 1995 berhasil menerbitkan Petungan: Sistem Ukuran dalam Arsitektur Jawa.

Kurun waktu ini pula program pendidikan pascasarjana arsitektur mulai marak, mendorong lahirnya minat lebih besar kepada pengkajian arsitektur.

Dalam kapasitasnya sebagai pengajar dan pembimbing dalam alur Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur di ITS, ia berhasil merangsang mahasiswanya untuk menyelenggarakan Simposium Nasional Jelajah Penalaran Reflektif Arsitektural pada tanggal 9-9-99. Simposium ini menampilkan berbagai kajian arsitektur berdasarkan naskah dari segala penjuru Tanah Air.

Delapan tahun kemudian, karya terbarunya: (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa. Buku ini bisa disebut sebagai satu pencapaian istimewa Josef Prijotomo karena membuka suatu cakrawala baru mengenai arsitektur, khususnya arsitektur Nusantara dan Jawa, serta menawarkan bidang kajian yang sama sekali baru bagi para peneliti arsitektur Nusantara, yaitu kajian pengetahuan arsitektur yang bersumber pada tradisi tanpa tulisan.

Kajian ini menelaah 18 naskah yang kemudian dapat dirunut berasal dari dua sumber saja, yaitu Kawruh Griya dengan 13 turunan dan varian serta Kawruh Kalang yang mempunyai 5 varian.

Kawruh Griya ternyata lebih menekankan pada penyiapan dan pemilihan bahan bangunan (kayu jati), kemudian pengenalan pada bentukan-bentukan rumah Jawa disusul dengan pengetahuan mengenai bagian-bagian konstruksi, ukuran, dan sesaji bagi pembangunan.

Sedangkan Kawruh Kalang lebih memusatkan perhatian pada pengetahuan konstruksi dan pertukangan, berikut uraian tentang bagian-bagian suatu bangunan.

Tampaknya keduanya saling melengkapi sehingga pada akhirnya dapat diperoleh suatu gambaran agak menyeluruh mengenai pengetahuan arsitektur Jawa meliputi guna griya yang mewadahi unsur-unsur tan-ragawiah dan dhapur griya yang meliputi kegiatan mewujudkan griya Jawa sendiri.

Dari sini mulai dibangun pengertian Griya Jawa yang terdiri dari enam unsur dalam dua paras, terajut menjadi satu kesatuan terpadu oleh konsep manjing (Bab VIII).

Penggunaan naskah

Bagaimanapun, penelitian ini mempunyai batasan yang harus diperhatikan, yaitu masa penulisan sumber-sumbernya, seperti telah diingatkan oleh penulisnya di halaman terakhir (hal 291).

Masa itu adalah akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Naskah tertua Kawruh Kalang ditulis pada tahun 1882 dan Kawruh Griya tahun 1906 sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang terkandung di dalamnya adalah bagian dari corpus pengetahuan sesaat sebelum tahun-tahun tersebut. Seumumnya bisa dianggap bahwa naskah-naskah itu mewakili pengetahuan arsitektur Jawa pada abad ke-19.

Penggunaan naskah sebagai sumber pengetahuan arsitektur sebenarnya bukan hal yang aneh. Yang berbeda dalam kasus ini adalah kenyataan bahwa naskah-naskah yang digunakannya pada dasarnya sudah "tidak digunakan" lagi.

Naskah-naskah ini juga bukan termasuk tradisi "besar", bukan membicarakan kepiawaian pembangunan konstruksi lambang gantung atau semar sinongsong, misalnya, untuk keperluan bangunan keraton.

Lebih menarik lagi bahwa ternyata naskah-naskah asal itu ditulis bukan oleh para pelakunya, tetapi justru oleh orang-orang yang bukan ahlinya, tetapi sekadar ingin merekam pengetahuan tersebut agar tak lenyap diempas oleh perkembangan keterampilan pertukangan dari Eropa yang merambah tak terbendung.

Jadi, berbeda dengan Klaas Ruitenbeek yang dalam Carpentry and Building in the Late Imperial China membedah Lu Ban Jing. Kitab Lu Ban Jing adalah buku tuntunan yang dianggap tertinggi dan bahkan dulu sering dipandang suci!

Benar bahwa Antoniades pernah menerbitkan Epic Space: Toward the Roots of Western Architecture (1992), tapi pendekatannya berbeda karena sumber yang dikaji justru susastra wiracerita purba. Oleh karena itu, hasil akhir yang diharapkan juga terhenti pada konsepsi mengenai ruang saja.

Konon ada seorang mahasiswa doktoral kita yang sedang berkutat membedah Serat Dewa Ruci untuk mendapatkan hal serupa. Kita tunggu saja hasilnya!

Salah satu dari wiracarita yang dibahas dalam Epic Space di atas adalah Kalevala, wiracarita orang-orang Lapp yang kemudian direkayasa menjadi landasan budaya nasional Finlandia, bangsa dan negara yang sebenarnya tak berakar (atau justru berakar dalam) ke mana-mana. Sesuatu yang seharusnya bisa kita tiru!

Anomali di Nusantara

Arsitektur (di) Jawa telah ada dan berlangsung selama paling tidak 2.000 tahun. Dalam kurun tersebut telah terjadi berbagai perubahan dan kita sebenarnya tidak bisa tahu segala sesuatu yang pernah terjadi. Tetapi, kalau kita menengok Candi Borobudur (abad ke-9) saja, tampak bahwa rumah-rumah (orang di Jawa) yang digambarkan di sana sangat berbeda dengan yang kita pahami sekarang. Rumah-rumah itu berkolong tinggi dan cenderung persegi panjang daripada bujur sangkar sehingga lebih mirip rumah Melayu atau Bugis sekarang.

Berbagai candi di Jawa Timur yang telah diteliti oleh Th Galestin (1924) juga memperlihatkan bentuk yang juga berbeda. Hampir semua bangunan masih berkolong walaupun tidak setinggi seperti di relief Borobudur. Beberapa bentukan masih dapat ditemui padanannya di sekitar Cirebon dan Jawa Barat.

Rekonstruksi arkeologis rumah di Majapahit (abad ke-15) yang dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu sedikit sekali kemiripannya dengan rumah yang kita lihat di buku susunan Hamzuri, misalnya.

Dalam kurun sepanjang itu sudah pasti banyak sekali perubahan dan penyesuaian yang terjadi. Pengaruh kebudayaan luar Jawa, dinamika dalam kebudayaan Jawa sendiri.

Ya, entitas Jawa seperti yang kita kenal sekarang belum terlalu lama terkristal! Masih ditambah lagi tekanan lingkungan yang semakin hari semakin berat akibat deforestasi dan peningkatan jumlah penduduk.

Pola kehidupan yang berubah seiring dengan perkembangan langgam dan teknologi. Semua ini telah menghasilkan anomali di Nusantara, yaitu rumah Jawa itu sendiri; satu-satunya bangunan rumah yang tidak berkolong di Nusantara!

Penjelasan dan kesimpulan yang paling menarik serta bisa berdampak luas adalah prinsip "pusat" bentukan rumah Jawa (sinonim dengan dhapur griya Jawa) yang ternyata bukan pada denahnya seperti yang dihafalkan oleh mahasiswa jurusan arsitektur; tetapi justru pada bidang "guru" (istilah ini tidak ada padanannya karena memang konsep yang betul-betul baru).

Bidang atau bagian ini terbentuk oleh kedua pasang balok balandar dan pengeret. Keempat balok ini bertemu dan bertumpu pada keempat saka guru yang biasanya tampak di tengah-tengah pendapa rumah Jawa.

Balandar atau blandar adalah balok yang melintang di atas kepala kita, sedang pengeret sejajar dengan arah masuk kita ke dalam bangunan.

Menarik sekali bahwa, menurut Prijotomo, ketika orang Jawa membuat rumah, maka ia memisahkan ruangan yang dia butuhkan itu pada bidang patokan atau pedoman (guru!) yang terletak sedikit di atas kepala kita.

Pada bidang inilah ia "meletakkan" blandar dan pengeret yang menjadi guru (pedoman, patokan) bagi dhapur (bentukan) dan balungan (rangka) rumahnya! Empat saka guru sekadar sarana untuk mempertahankan bidang guru pada tempatnya. Konstruksi atap (brunjung dan empyak) juga bertumpu pada bidang guru ini.

Kalau ini benar, konsep ini akan menjungkirbalikkan segala yang kita percayai (di dunia arsitektur, tentunya) hari ini. Bahwa bentukan tumbuh dari muka tanah, dari denah. Bahwa perbuatan arsitektural manusia yang terawal juga melalui tindakan menancapkan tongkat ke tanah, pernyataan kepemilikan.

Istilah numbak (Jawa), nusuk (Sunda), misalnya, berkaitan erat dengan itu. Tindakan penancapan pertama ini juga yang dicerminkan oleh tiang tuo, ariri possi dan saka tatal, antara lain.

Ataukah ada penjelasan lebih luas untuk menghubungkan? Mungkin ini tugas selanjutnya bagi Prijotomo (dan para bimbingannya) untuk menyelaraskannya lebih lanjut.

Memperlakukan tradisi

Buku ini bisa menjadi satu contoh untuk memperlakukan peninggalan dan tradisi lain mengenai arsitektur. Bagi beberapa kelompok yang memiliki naskah dan memeliharanya dengan baik, seperti di Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, misalnya, pengalihterimaan itu bisa jadi lebih mudah.

Tetapi, kelompok lain pun sebenarnya hanya tinggal menunggu putra-putranya untuk menemukan caranya menyelami khazanah pengetahuan itu. Dari merekalah batu-batu fondasi bagi bangunan pengetahuan arsitektur Indonesia yang kokoh.

Sutrisno Murtiyoso Sekretaris Umum Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help