
Apresiasi Karya Arsitektur Ghijsel Di Indonesia oleh Mahatmanto hunian dan penghuniRelasi orang (penghuni) dengan arsitektur (hunian) di mana kita melakukan kegiatan kese-harian rupanya lebih erat daripada yang kita kira, relasinya adalah dialektik, saling mempen-garuhi dan karenanya jarang disadari. Baru disadari kemudian setelah hunian itu hilang. Dialek-tika itu terjadi ketika si penghuni berusaha keras untuk mengubah hunian agar pas menjadi sungguh-sungguh huniannya, dan diimbangi dengan usaha dia menyusun kegiatannya agar sesuai dengan keadaan huniannya. Demikian juga halnya ketika kita harus mewarisi bangunan lama yang dibuat oleh dan untuk orang lain di masa lampau maka upaya pencapaian keseim-bangan dialektik antara hunian (yang lama) dengan penghuni (yang baru) tadi bisa berakibat 'pudar'nya kualitas hunian semula karena tuntutan penghuni baru yang tidak bisa dimungkinkan oleh huniannya.
merelakan dan menjagaiPesona yang muncul dari melihat gambar-gambar bangunan lama seperti karya-karya arsitek Belanda FJL Ghijsels yang kini sedang dipamerkan di beberapa kota kita ini mengingatkan kita akan beberapa hal yang memang harus direlakan hilang oleh waktu, namun juga memperingat-kan akan kualitas lain yang perlu dijaga dan dipertahankan. Banyak dari karya itu masih dapat kita jumpai, bahkan menjadi tempat kita sehari-hari melakukan kegiatan, namun kualitasnya sudah amat berbeda dengan semula. Stasion, Rumah Sakit, Kantor, Bank, Gereja, Hotel dll. yang dulunya adalah fungsi-fungsi yang tidak dikenal dalam masyarakat tradisional, kini sudah menjadi bagian penting dari kehidupan publik, dari seluruh anggota masyarakat kota kita.
Lihatlah Stasion Jakarta Kota (Stationgebouw BATAVIA), salah satu karya terindah Ghijsels yang berlanggam "Indische Bouwen". Foto udara bangunan ini menghenyakkan kita akan fakta, bahwa ternyata bangunan ini dulunya berada dalam kesatuan dengan taman di sebelah barat-nya, juga dengan padu menyatu dengan bangunan Factorij di seberangnya. Ruang kota sekitar Taman Stasion ini sungguh nyata dan dapat dirasakan, pun memberi jarak yang cukup untuk 'menangkap' skala bangunan-bangunan sekelilingnya. Ruang kota dan kenikmatan yang diberi-kan seperti itu sudah hilang sekarang karena semakin padatnya kendaraan bermobil yang menceraikan paduan antara Stasion dengan Taman. Dan, Skala, aspek penting dalam menga-presiasi keindahan ruang, sudah terampas dari sana sehingga hanya menyisakan sekadar onggokan bangunan lama. Ruang-ruang sekitar bangunan yang dulunya menyatu dengannya karena dibutuhkan untuk skala yang tepat kini berebut dengan kebutuhan ekonomik yang 'lebih mendesak'. Kawasan kota ini sebagaimana dirasakan di bagian kota lain sudah tidak punya lagi ruang bersama lega yang menjadi ‘muara’ dan simpul dari jaringan jalan-jalannya. Jejaring jalan itu telah turun maknanya menjadi sekadar jalur untuk melintas alih-alih ruang perjumpaan sosial warga kota.
Sekarang tengoklah bagian dalam dari stasion ini, yang dengan jujur memperlihatkan prinsip struktur 'pelengkung tiga sendi' sebagai kerangka dasar bangunan. Prinsip struktur ini dengan wajar melahirkan bentuk bangunan stasion yang mirip dengan gerbong kereta api sendiri. Suatu kejujuran dan kesederhanaan yang telanjang dan tidak dicari-cari.
keindahan ruang dan ornamenBangunan-bangunan karya Ghijsels mengenal juga rincian ornamen (detail) yang memperlihat-kan pengaruh Art Deco pada masanya. Pada masa itu jamaklah Arsitek merangkap menjadi Kontraktor Pelaksana, sehingga tidak heran kalau rincian yang sulit masih dapat dilaksanakan tanpa kesulitan. Namun demikian, sebenarnya keindahan arsitektural itu lebih daripada sekadar keindahan ornamen seperti itu, dan bukan dalam aspek itulah kita menghargai bangunan lama.
Rasakan halaman dalam dari Rumah Sakit Panti Rapih (Ziekenhuis Onder de Bogen) Yogya-karta ini, bersih dari pernik rincian, namun halaman dalam itu (inner court) hening seperti oasis bila dibandingkan dengan halaman luar yang luar biasa sibuk dan bisingnya. Konsep inner-court ini mengingatkan akan kualitas yang sama yang bisa dijumpai di Biara-biara Katolik, kon-sep yang sudah berumur ratusan tahun dan dikenal baik di Barat maupun di Timur (Werner Blaser; "ATRIUM, Lichtöfe seit fünf Jahrtausenden", Wepf & Co. AG Verlag, 1985). Rasakanlah hubungan antara halaman tadi dengan selasar yang mengitarinya, juga busur-busur (arcade) yang menyeleksi serta membingkai pemandangan. Keindahan ruang ini bukan keindahan yang ornamental, tidak tergantung pada gilap dan mewahnya bahan bangunan, tidak pula pada kerumitan ornamen. Penghargaan akan ruang ditambah dengan kewajaran bentuk bangunan akan menghantar kepada keindahan. Keindahan ruang amat sederhana, namun akan semakin mahal di tengah kota yang semakin memadat pada masa kini.
Apa yang terjadi pada ruang-ruang sekitar gereja St. Josef di Jatinegara (Meester Cornelis) juga nasib yang kira-kira sama, kita sekarang hanya bisa mengamati bangunan secara keselu-ruhan justru dari jembatan layang yang dulunya tidak pernah menjadi pertimbangan untuk mengamati keelokan bangunan itu.
bangunan lama dan ruang kota Ghijsels berkarya dengan teknologi membangun yang tersedia pada jamannya yang buat kita kini mungkin hanya akan mendatangkan kritik karena boros bahan, lahan, dan rancangan yang terlampau 'selesai' sehingga sulit untuk mengikuti perkembangan penghuninya. Namun per-hatiannya pada ruang luar dan pautannya pada ruang kota -sesuatu yang dijamin oleh pera-turan yang berwibawa- adalah warisan yang pantas dijagai. Mengulang apa yang diperbuat pada masa lalu, apalagi pada aspek bentuk dan ornamennya, hanyalah romantika kenes yang harus dibiayai mahal. Bangunan-bangunan umum -sebagaimana karya Ghijsels -yang berada dalam jaringan ruang kota itu seyogyanya diserahkan kembali ke publik, tidak terkucil di tem-patnya masing-masing oleh jaringan jalan yang didominasi mobil dan motor. Jalan adalah ruang kontinu yang merangkai pengalaman ruang orang ketika 'menghayati' kotanya. Kota kita sekarang jarang yang bisa dinikmati, selain sarana untuk pejalan kaki (trotoar) tidak diperhati-kan juga bangunan-bangunan di kiri-kanan jalan itu dirancang hanya untuk kaplingnya sendiri. Paduan dengan ruang di sekitarnya diabaikan sehingga kontinuitas penghayatan ruang terpu-tus-putus. Ruang-ruang kota adalah milik publik yang tidak pantas untuk diprivatisasi.
kesederhanaan yang elokDibanding dengan karya-karya arsitektur biro lain sejamannya yang dilumuri dengan banyak ornamen tradisional, AIA (Algemeen Ingenieur- en Architectenbureau) di mana Ghijsels bekerja, dipuji beberapa media massa pada masanya sebagai 'sederhana namun menampakkan selera artistik yang tinggi', mengikuti pandangan Gerika (Yunani)Kuna "simplicity is the shortest path to beauty", kesederhanaan adalah jalan singkat menuju keindahan (Courant, 10 Decem-ber 1925). Disuasanai oleh krisis ekonomi dunia sekitar Perang Dunia I tidak mengherankan bila slogan yang populer bukannya langgam (style) ornamen bangunan yang mewah, namun modernitas dan pembangunan.