Baca-baca

ReviewReviewReviewReviewReviewSickoJun 26, '07 5:17 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Documentary
Dunia yang (Nampak) Sehat

Sutradara : Michael Moore
Penulis : Michael Moore
Produser : Michael Moore
Produksi : Dog Eat Dog, USA
Tahun : 2007

Seorang teman memutuskan pindah ke Amerika 12 tahun lalu. Baginya dan keluarganya, Amerika adalah negara impian, layaknya emas di kejauhan. Menggoda sekaligus tak jelas rupanya. Entah, dibenaknya ekspansi film besar Amerika yg berlabelkan 'box office" bisa jadi jadi mewakili gambarannya tentang Amerika. Devisa yang tinggi, gaya hidup, kemudahan fasilitas, kemajuan jaman, dll yg membuat dia berkeyakinan pada "Land of Hope", dia selalu berkata seperti itu. Seolah di negaranya sendiri tak punya harapan. Bagi kalangan keturunan tionghoa kelas bawah, masa tahun 90an adalah masa-masa sulit. Tak ada uang untuk membeli segala kemudahan, seperti cerita impian konglomerat keturunan yang diberitakan di media.
Setelah menjual tanah warisannya, lalu sekeluarga pindah ke Amerika.
Amerika tujuan semua orang di dunia.
Dengan jumlah penduduk 300 juta pada tahun 2006 membuat Amerika menjadi pasar yang empuk
bagi bisnis. Mari kita lihat sama-sama :

STATISTIK KONSUMSI

MAKANAN
Produsen beras terbesar: Cina = 353 juta ton
Produsen susu terbesar: India = 79 juta ton
Produsen kopi terbesar: Brazil = 1,8 juta ton

TRANSPORTASI DAN ENERGI
Konsumsi minyak terbesar: Amerika Serikat = 26% pasokan dunia (penduduk Amerika Serikat kurang dari 5% populasi dunia)
Emisi karbon tertinggi: Amerika Serikat = 24% total emisi dunia
Pembuat panel tenaga surya terbesar: Jepang = 128 megawatts (cukup untuk 50,000 rumah kecil)
Pembuat sepeda terbesar: Cina = 43 juta (pada 1999)

KESEHATAN
Populasi perokok terbesar: Cina = 350 juta
Eksortir rokok terbesar: Amerika Serikat = 21% dari ekspor dunia
Populasi orang dewasa yang kelebihan berat: Amerika Serikat = 61% dari populasi orang dewasa Amerika Serikat
Konsumen obat terbesar: Amerika Serikat = 40% dari penjualan dunia
Obat terlarang yang paling laku: antiulcerants (antacids, untuk indigestion) = USD 15,8 milyar

Sumber: Worldwatch Institute
(dikutip dari WWW.KUNCI.OR.ID)

Dengan populasi sebesar itu (kategori tiga terbesar di dunia menurut WWW.WIKIPEDIA.ORG), tingkat konsumsi sebesar 40% dari pangsa penjualan obat di dunia, bisa kita bayangkan berapa uang yang berputar di Amerika dari sektor kesehatan.
Sicko pada dasarnya berbicara tentang ini.
Pertama, berapa yang dikeluarkan penduduk Amerika untuk biaya kesehatan, lalu kedua bagaimana politik kesehatan publik mempengaruhi denyut nadi rakyat Amerika.
(tulisan belum selesai he3)


ReviewReviewReviewReviewReviewMan Push CartFeb 27, '07 8:13 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Penjaja Cahaya

Judul : Man Push Cart
Sutradara : Ramin Bahrani
Skrip : Ramin Bahrani
Pemain : Ahmad Razvi, Leticia Dolera, Charles Daniel Sandoval
Produksi :
Durasi : 87 minutes

Sebuah gerobak berjalan menembus malam. Warnanya perak berkilauan, selalu saja mengkilat, bersandingan dengan lalu lalangnya Yello Cab-nya New York. Dinding gerobak yang keperakan memerangkap bayangan gedung dan lampu kendaraan di sisi kanan-kirinya. Seperti cahaya di jalanan aspal yang pekat oleh karbonmonoksida. Seorang imigran Pakistan, Ahmad (Ahmad Razvi), bersusah payah mendorong gerobak itu. Di dalamnya berisikan donat, kopi dan teh yang berjajar rapi dan selalu hangat. Semua untuk dijual di pagi hari, sekitar pukul 1an waktu New York. Saat dimana banyak orang terlelap tidur, tetapi juga masih ada yang melek untuk sekedar berjalan, ataupun bekerja semalaman, seperti Ahmad. Kota metropolis, seperti New York, meenjadi hidup di malam, dan ada jejaring kehidupan yang menjaga malam tetap bercahaya sempurna.

Penyapu jalan, pemabuk, orang-orang insomnia yang berjalan dengan anjingnya, pekerja kantoran, sopir taksi, dan Ahmad ialah bagian dari jejaring. Relasi antar Ahmad yang baru datang dari Pakistan dengan cepat dirajut.
“How are you ?” “Where you come from?” “See you later”
Keramahan dari pekerja malam New york, yang saya kira sulit ditangkap oleh Ahmad sekalipun dengan senyumnya. Sepertinya, para pekerja sudah bosan berkawan dengan malam yang selalu memaksa untuk memeras otak, dan seterusnya memilih sekenanya seorang Ahmad sebagai kawan bicaranya. Orang yang sama selalu datang, dengan menu yang sama Dengan cara yang selalu sama pula, berdagang keliling, Ahmad menjual DVD porno $8 sebiji, $15 dua biji, menawarkan pada para pekerja laki-laki di jalanan. Kadang laku, kadang tak juga. Adegan perajutan relasi ini berulang. Semacam refren atau repetisi. Ada sesuatu yang hendak dibicarakan oleh sutradara Amerika kelahiran Iran, Ramin Bahrani, pada repetisi, seperti suatu kebosanan yang mendera Ahmad. Lalu malam itu berakhir dengan kepulangan Ahmad ke apartemen sesaknya di pinggiran kota. Dia hidup seorang diri dengan kucing. Anak laki-laki semata wayang dibawa ayah tirinya dengan alasan apartemen Ahmad terlalu sesak bagi mereka berdua dan lagipula waktu Ahmad habis untuk bekerja. Persoalan khas kaum urban kelas bawah di kota besar. Ada harga yang dibayar untuk berjuang hidup dan Ahmad membayarnya dengan kesepiannya.

Bahrani dengan berani menggeser plot repetisi film, yang seolah menjadi roh film, ke suatu bentuk castrothropic, repetisi dengan sedikit penambahan-pengurangan. Penambahannya ialah hadirnya Mohammad (Charles Daniel Sandoval), laki-laki lajang Pakistan yang sukses di perbankan dan Noemi (Leticia Dolera), perempuan penjaja koran berasal dari Spanyol. Mereka bertemu pada satu adegan repetisi, Mohammad membeli donat dan teh, lalu Noemi bertemu di gerobak koran miliknya. Pengurangannya ialah hilangnya scene New York yang sepi dan kosong sedikit demi sedikit..

Hidup sedikit cerah bagi Ahmad. Dengan Mohammad dia berpesta dan minum berotol-botol bir, dengan Noemi gejolak asmaranya mulai berkobar. Setting tak lagi jalanan New york yang sepi ataupun apartemen Ahmad yang sesak dan muram, melainkan berpindah pada padang bersalju Amerika, pesta, apartemen Mohammad dan perbincangan pun beragam. Hal-hal yang baru masuk dan keluar dari benak Ahmad. Dalam suatu pesta, Ahmad menyanyikan lagu bahas Pakistan dengan lirihny, sangking senangnya. Bayangan tentang istrinya yang mati dua tahun lalu dan kampung halaman di Pakistan tak mampu lagi menguasai benak Ahmad. Hidupnya tak lagi berpusar dari relasi antar pelanggan yang itu-itu saja, jalanan New York yang itu-itu saja dan adegan yang itu-itu saja. Bahrani membawa kita selangkah pada hidup Ahmad yang mulai berubah. Bisa dikatakan lebih dinamik, bergairah. Lagu lama pada masa jayanya sebagai penyanyi pun menjadi penghantar ke mimpi tidur Ahmad.

Tak ada perasaan yang terucap, kata-kata pun membisu, antara Ahmad dan Noemi tercipta gerak-visual, lazimnya teater panggung. Kerlingan mata, rangkulan, orientasi tubuh, lalu shoot gambar terbatas hanya framing mereka berdua. Kasmaran, dunia adalah milik berdua. Gairah memuncak manakali dua bibir bertemu dalam suatu ruangan tertutup. Cinta itu personal. Sebuah ungkapan cinta klasik. Bharani rupanya terpesona pada gaya berciuman panggung teater atau gaya film hollywood era 50-60an yang begitu menggelora. Seolah kata tak kuasa lagi. Sajak cinta pun terbungkam.

Suatu mantra cinta purba diucapkan seorang kawan “Jika kau ingin tahu kadar cinta seseorang, maka tak ada salahnya mencium dia. Barang semenit duamenit!”. Ahmad dan Noemi patuh memantrai diri mereka sendiri. Tiba-tiba disorongkannya Noemi untuk menjauhi bibir Ahmad. Sejenak Noemi terhenyak, tak terduga mendapat respon sedemikian dahsyatnya. Dia menarik diri dari gairah perang asmara. Ahmad membuat semua berantakan. Tak kuasa matanya memandang Noemi, sedang Noemi pun berusaha melipat perasaannya, membuang muka. Ahmad sadar, cintanya hanya ada pada istri yang telah tiada. Bahrani tak berucap, namun dengan bahasa tubuh dia menguasai perasaan para penonton. Tak ada cacat pada Ahmad Razvi, semua begitu terukur cermat, dari kemuraman ke keriangan, lalu jatuh pada kesepian lagi.

Berurutan Bahrani membawa ke turun melewati lereng dengan cepatnya. Matinya kucing kecil Ahmad, yang berarti matinya satu-satunya mahkluk hidup di kamar apartemennya, berbaliknya hati Noemi ke Mohammad-sobat Ahmad, sampai ke dasar yang terjal, hilangnya gerobak keperakan yang jadi mesin pengais uang Ahmad. Bahrani membobardir perasaan-perasaan keriangan yang telah terbangun dan tentu, harapan akan kondisi Ahmad yang makin membaik dari yang kemarin-kemarin. Lalu lalangnya New York tak bisa lagi jadi teman setia bagi Ahmad, demikian pula Mohammad yang menolak mentah-mentah permintaan Ahmad meminjam uang untuk membeli gerobak makanan baru. Kawan Ahmad sejati ialah rentenir. Relasi dengan orang-orang baru diremukkan oleh Bahrani. Ahmad mengumpat Mohammad, Noemi kembali ke Barcelona dan masa depan yang suram kembali menghantui Ahmad.

Jalan yang melambat naik, lalu dengan cepatnya turun jadi pantulan penghuni New York yang begitu sibuknya. Mungkin bisa jadi ahmad-ahmad yang lain akan jadi mahkluk yang paling sial, tapi terus berusaha untuk waras dan bertahan hidup. Bahrani membalikkan roh New York yang penuh cahaya, city of lighting, namun sesungguhnya cahaya itu kesepian berpendar di dalamnya. Jalanan New York yang sepi jadi framing penutup film ini. Di kejauhan, nampak Ahmad dan gerobak barunya siap melayani pembeli yang akan datang. Seperti biasanya.

Yogyakarta, Februari 2007





ReviewReviewReviewReviewReviewQuinceañeraFeb 20, '07 11:00 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Jalan Berbalik Orang Hispanik

Judul : Quinceañera
Sutradara : Richard Glatzer dan Wash Westmoreland
Pemain : Emily Rios, Jesse Garcia, Chalo Gonzalez, David W Ross
Skrip : Richard Glatzer dan Wash Westmoreland
Produksi :
Tahun : 2006
Durasi : 90 menit

Diputarlah setiap malam, di tivi nasional swasta, ratusan menit ketegangan dan banjir darah dari puluhan film asing asli Hollywood, mengisi jantung anak-anak kita, dan tak lupa mengisi bagian-bagian otak kita yang telah lelah karena bekerja terlampau berat. Mungkin sederhana saja ceritanya, seorang pemuda brutal menyandang revolver main tembak di jalanan, lalu ada seorang jagoan keren yang dengan berpeluh-peluh dan bergelimpangan debu menyelamatkan kota beserta isinya. Otak kita membaca penjahat naas itu : negro atau hispanik, lalu jagoan keren bisa jadi negro atau kulit putih. Cerita sederhana dibalut dengan hal sederhana pula, tapi dibuat seolah kompleks dan terbelit-belit, menciptakan ilusi dramaturgi yang bila dicermati, sesungguhnya biasa saja. Yang tak biasa, ketika hispanik (keturunan Amerika Latin) selalu dipasang sebagai centeng ringan tangan yang siap menumpas siapapun yang jadi lawan. Ya, bisa dikatakan ras aura ini dekat dengan kekerasan.

Geng, kriminal kelas teri, pedagang senjata partai eceran, pelacur, makelar kokain, pemabuk biang onar, sekian lagi karakter buruk yang diciptakan sutradara untuk para hispanik. Carlos (Jesse Garcia), seorang pecundang yang brutal, Magdalena (Emily Rios), seorang perempuan yang diusir dari rumah lantaran hamil di luar nikah dan uncle Tomas (Chalo Gonzalez), seorang kakek pedagang keliling pastramossa (kalo gak salah namanya…ini sup khas Meksiko) ialah karakter dari masyarakat hispanik yang hidup di Echo Park Latino, Los Angeles. Kekerasan, kehamilan di luar nikah dan permasalahan lansia kaum imigran bersinggungan dengan penghormatan orang hispanik pada tradisi yang begitu mengakar dan dibanggakan. Semua ada dalam film ‘Quinceañera’ dengan sutradara Richard Glatzer dan Wash Westmoreland.

Carlos adalah kakak Eilenn (Alicia Sixtos), dia tinggal dengan Uncle Tomas karena kebengalannya. Diamini oleh seluruh keluarga bahwa si kakek bisa menaklukkan bengalnya. Tak tanggung Glatzer dan Westmoreland menunjukkan kebengalannya, dalam suatu pesta Quinceañera-nya Eilenn, Carlos yang notabene adalah kakak Eilenn dilarang masuk dalam pesta, bahkan dipukul dan diusir jauh-jauh dari keluarga. Si Bengal dianggap aib bagi keluarga hispanik. Pesta Quinceañera yang hangar bingar, tak boleh dinoda dengan suatu hal yang buruk, jika tak ingin mendapat sial seterusnya. Pesta ini merupakan ritual akil-balik bagi perempuan mendekati umur 15 tahun. Eilenn didandani bak ratu, kemudian dibawa ke tempat paling indah dan istimewa : kursi permaisuri di gereja.

Eilenn telah melalui Quinceañera, lalu Magdalena tinggal menghitung waktu bulanan. Magdalena menjelang remaja. Layaknya remaja, menyukai hal yang sama pula : pesta, bertemu kawan-kawannya untuk berbelanja, menggosip tentang cowok paling oke di sekolah, mengidolakan seorang bintang tenar, berdebat dengan siapa besok akan kawin dan beranak, mengerjakan PR yang berlimpah tiap harinya, dan terlibat jalinan asmara dengan lawan jenis. Glatzer dan Westmoreland dengan cerdik mengolah detail visual yang ada di sekitaran masyarakat hispanik : tivi, majalah remaja, perbincangan sejenak, suasana pemukiman, saling mneggosip dan gaya hidup khas hispanik. Tampail tak hanya sebagai pemanis, karena warnaya yang ceria, khas hispanik, melainkan disetting rapi sebagai suatu bagian ‘informasi’ situasi masyarakat konetmporer orang hispanik. Pada saat remaja inilah fase Magdalena untuk berbeda dengan orang-orang tua yang lain sebagai generasi modern orang hispanik. Dia menampik ritual Quinceañera, tetapi tak menolak pesta hura-huranya. Magdalena tak mau kalah dengan Eilenn yang mampu menyewa hummer limo untuk berpesta, yang celakanya, mobil mewah itu jadi ajang menari strip bagi para remaja perempuan. Matanya jelas-jelas menyalang ketika Eilenn bisa tampil cantik.

Magdalena tak sekaya Eilenn. Dengan dalih lebih mementingkan ritual, maka oleh orang tua Magdalena, semua acara pesta disingkirkan, atau dengan bahasa lain disederhanakan. Rencana pesta di hummer limo disingkirkan, bahkan gaun Magdalena untuk Quinceañera pun meminjam dari Eilenn. Siasat orang hispanik untuk menyelenggarakan pesta, tapi dengan budget minim. Itulah rencana besarnya. Rencana lainnya, yang tak terduga, Magdalena hamil oleh Herman (J.R. Cruz), pacarnya. Di setiap siang setelah sekolah, dua remaja kasmaran ini mengisi kerinduan di Echo Park, tanpa sadar detik demi detik pergulatan mereka membuahkan benih yang semakin membesar di perut Magdalena. Ketahuan, Magdalena diusir ke rumah Uncle Tomas. Di tengah taman yang berisikan relik-relik orang suci, dia menangisi nasibya. Masa depannya berada di rumah Uncle Tomas, kakek bijak yang hidup dengan masa lalunya.

Semua rencana Magdalena buyar. Gaun yang nyata-nyata kekecilan dan membuat Magdalena bersungut-sungut karena perutnya nampak semakin membuncit pun batal demi alasan keaiban. Magdalena tersingkir dari kawan sepermainan. Tradisi orang hispanik yang kuat tentang pernikahan dan keturunan menjauhkan Magdalena dari keluarga dan kehidupan. Jadilah dia hidup bersama Carlos dan uncle Tomas. Dari situlah Magdalena tahu, bahwa Carlos sering ‘berkencan’ dengan tetangganya, sepasang pria yang hidup bersama. Gay adalah barang najis bagi gereja Katolik, itulah yang menjauhkan Carlos dari gereja juga. Menjadikan dia terpojok dengan asumsi orang akan kebengalannya.

Awalnya Carlos diundang ke pestanya para gay, mabuk, lalu ‘dikerjain’ oleh sepasang tetangga gay tersebut, Simon (Dane Rosselli) dan Gary (David Ross). Hanya objek, semacam pelacur pria, tapi Carlos menikmatinya sebagai hal baru. Cinta segitiga tak ayal terjadi pada tiga pasang pria kasmaran. Dua orang yang telah matang sebagai gay, satu lagi pria muda latin yang mnggelegak birahinya. Tak mesum, tapi justru romantik dan jenaka, seperti dua burung emprit yang sedang berkejar-kejaran saat musim kawin. Juga tak seheboh ‘Brokeback Mountain’ perbincangannya. Ketegangan antara Magdalena dan Carlos segera cair dengan olok-olok : gay-pregnant teenager. Apa yang jadi keburukan berubah menjadi hiburan celaan, humor satire. Stereotipe pria latin yang doyan perempuan, seperti yang kita liat pada tari salsa dan sejenisnya, diruntuhkan oleh Glatzer dan Westmoreland, yang dalam keseharian juga merupakan pasangan gay. Rumah pasangan gay itupun tak jauh dari Echo Park Latino. Kloplah dengan film mereka yang bisa menangkap suasana hati dan perasaan orang hispanik.

Cinta segitiga Carlos, Simon dan Gary tak pelak menimbulkan prahara. Carlos diusir oleh Simon. Relasi sebagai tetangga pun retak. Bahkan rumah Uncle tomas yang indah telah dibeli Simon. Mereka mengusir secara halus Carlos dengan pranata hukum yang berlaku. Demikian pula Magdalena yang sakit hati karena Herman tak mau mengakui jabang bayi. Dia berkilah hanya melakukan ‘petting’ saja. Istilah yang banyak diketahui dan dipraktikkan oleh remaja Amerika. Potret kehidupan seks yang liberal, tapi sekaligus beresiko tinggi dijalani para remaja hispanik.

“I’m still virgin, but why I’m pregnant ?”
Magadalena bertanya-tanya tentang hal ini. Dia berbicara sana-sini tapi tak ada yang percaya. Bersama dengan Carlos, dua remaja tersebut menjelajah dunia maya di perpustakaan kota, didapatkan jutaan informasi tentang komoditi seksualitas sekaligus informasi kesehatan reproduksi bagi para remaja. Plot tragis bagi Glatzer dan Westmoreland, bahwa informasi seks yang harusnya menjadi tanggung jawab orang tua dan sekolah, sebagai pribadi yang paling dekat dengan dunia remaja, ternyata diambil alih oleh dunia maya. Sosok orang tua dan guru pun tak lebih dari sekedar relasi biologis dan profesi, bukan tautan perasaan dan emosi. Liberalisasi menggeser paradigma pendidikan orang hispanik.

Memang Magdalena masih perawan. Itu melegakan hatinya. Bahwa dia hamil perkara lain. Dengan istilah kedokteran (yang saya pun tak paham), sang ibu dibuat yakin oleh dokter yang memeriksa Magdalena. Sang bapak yang kebingungan pun lebih memilih kata jitu : mukjizat Allah! Uncle Tomas yang tak berpendidikan tinggi, namun punya kebijakasanaan yang dalam pun hanya bisa mengenggam kalung rosario erat-erat. Pasrah pada kehendak Mahakuasa. Dia meletakkan rosario bergambar Bunda Maria, perawan yang melahirkan bayi Kristus, di tengah taman bunganya (ini sungguh menggelikan saya!). Lalu mati dalam sepinya.

Babakan baru dalam keluarga hispanik dimulai. Uncle tomas mati, jabang bayi yang mulai menggeliat akan menggantikan yang telah pergi. Magdalena pun bersiap untuk Quinceañera. Sekali lagi, keluarga hispanik akan bergembira akan kehidupan menjelang usia 15 tahun.

Yogyakarta, Februari 2007






ReviewReviewReviewReviewThe Wind That Shakes The BarleyFeb 13, '07 6:01 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Kronik Revolusi*

* meminjam istilah Pramoedya

Judul : The Wind That Shakes The Barley
Sutradara : Ken Loach
Pemain : Orla Fitzgerald, Padraig Delaney, Liam Cunningham
Produksi :
Tahun : 2006
Durasi : 127 menit

Irlandia, 1920. Selalu mendung disana. Sekelompok laki-laki bermain permainan tradisional, semacam hoki di atas rumput. Teriakan, kegirangan, umpatan jadi pergulatan seru. Khas laki-laki. Framing kamera tertuju pada kaki-kaki kekar yang berjumpalitan. Bergerak ritmik ikuti bola hoki, berpindah cepat pada otot muka yang berpeluh. Seorang pemain, Michael (Laurence Barry), dikeluarkan karena berbuat curang. Sejenak bersungut-sungut, tapi sebatang rongkok cukuplah menghibur dirinya. Bersama Damien (Cillian Murphy) dan Teddy (Padraic Delaney) tertawa sepanjang waktu berjalan pulang ke rumah. Mereka adalah keluarga petani kecil di County Cork.

Keriangan dengan cepat berubah jadi kelabu yang kelam. Tentara Inggris tiba-tiba datang, menyembul di jalanan desa. Hari itu, waktu itu adalah saat genting karena Inggris sedang meradang akibat ulah saudaranya di utara, Irlandia, yang meminta hak kemerdekaan sepihak. Operasi kecil itu bagian dari apa yang dinamakan operasi militer melawan IRA (Irish Republican Army/Tentara Republik Irlandia). Nama yang lugas, langsung merujuk pada ‘republik’, cita-cita sebuah negara ! Tentara merangsek dalam rumah petani, menangkap para laki-laki. Situasi yang tegang berakhir dengan salak senapan yang merobek jantung Michael. Soal sepele, dia tak mau menyebutkan namanya dalam Bahasa Inggris, bahasa para penjajah yang dibencinya. Ken Loach cerdik dengan mengambil momentum masalah bahasa yang menyebabkan kematian ini. Negara yang berdaulat, tentunya akan punya identitas sendiri, lambang-bahasa-lagu Repubilk Irlandia yang juga menjadi judul film. Diciptakan oleh Robert Dwyer, penulis Irlandia pada paruh waktu abad ke-19.

Saat pemakaman pun temaram karena cahaya lilin. Lagu Irlandia, The Wind That Shakes The barley, disenandungkan dalam nada sendu. Menciptakan tarian pada bayangan lilin yang bergoyang-goyang ditiup angin. Damien mengirimkan tanda salib kecil pada Michael yang mendingin tubuhnya. Dia keluar menjumpai Teddy, saudaranya.

PAT: 'We've got to show these bastards... drive them out.'
DAMIEN: 'How many British soldiers in this country?'
TIM: 'Too many...'
TEDDY: 'About eight thousand'
DAMIEN: 'Tans?'
TEDDY: 'Over a thousand...'
DAMIEN: 'And machine gun corps, cavalry, artillery units, police...'
TEDDY: 'And many more besides. What's your point?'
DAMIEN: 'So what are you going to do? Take on the British Empire with a hurley... stun
the bastards one by one?!'

Dendam yang membara pada Pemerintah Inggris disiram oleh realitas yang bergelombang datangnya, bak tsunami yang menyapu daratan kerontang. Surut sudah emosi mereka. Pasrah.

Tidak demikian dengan Teddy, dia membentuk “Black and Tans”, semacam kelompok perlawanan milisi gerilya petani Irlandia. Misinya jelas, mengusir Pemerintah Inggris dari lembah Irlandia. Berbaju coklat, topi pet, menyandang stein gun curian, mereka berkelanan dari bukit ke bukit di County Cork Menggantungkan kematian bagi tiap tentara Inggris. Perang dimulai, perang antara Inggris-Irlandia (1919–1921). Loach menarik diri ke dalam kronik revolusi yang lebih kecil wilayahnya. Dengan beberapa bintang berasal dari Cork, Loach berusaha menampilkan setting yang sesungguhnya dari kejadian di masa lampau : Jalan, hotel, pusat desa, bar, rumah pedesaan. Detail settingnya terasa begitu rinci. Tiap gambar yang dituju pun tak lepas dari ikon masa lalu County Cork.

Damien akhirnya turut dengan pergulatan revolusi, setelah dia melihat pegawai kereta api yang hendak dinaikinya menuju London babak belur dihajar tentara Inggris. Sejenak, pandangan saya akan priyayi dari Inggris yang santun mulai digoyangkan oleh kebrutalan demi kebrutalan yang dipretontonkan. Film Loach terasa ideologis dan politis. Black and Tans menuai ketakutan bagi tentara Inggris. Mereka nekad membobol penjara militer Inggris, menyergap pasukan Inggris yang sedang patroli bahkan mengeksekusi Sir John Hamilton (Roger Allam), seorang tuan tanah County Cork, antek Pemerintah Inggris. Bukit County Cork yang jadi medan bagi perang gerilya, sekaligus kuburan abadi bagi antek Pemerintah Inggris. Layaknya pertempuran, ada yang mati, maupun hidup. Lawan yang tertawan dieksekusi di tempat. Black and Tans dayanya mulai berkurang karena terlalu banyak tentara Inggris yang dihadang. Mereka bergabung dengan pasukan lain di pusat desa Cork. Dikisahkan, da sebuah pengadilan Irlandia yang sedang bersidang, memutuskan tuan tanah kaya harus membayarkan sejumlah hutangnya kepada petani miskin Irlandia. Damien tak mengenal pengadilan, dia nekad menyandera si tuan tanah demi mendapatkan uang untuk kebutuhan pasukan Black and Tans. Polemik mulai muncul disini, antara sayap radikal dan moderat pejuang Irlandia, antara Damien dan Teddy, antara saudara sedarah, antara yang pro penyerahan kemerdekaan di bawah Queen of England dan kemerdekaan berdaulat Republik Irlandia, antara praksis dan ideologis, antara yang kooperatif dengan anti kooperatif.

Teddy, seorang dokter yang menampik segala kenikmatan profesinya angkat senajata melawan kaum moderat. Propaganda yang digerakkan oleh Julia (Sabrina Barry) bergerak bebarengan dengan pasukan anti kooperatif. Pasukan Teddy nekad membobol tangsi militer tentara yang dipimpin Damien untuk mencuri stein gun dan riffle. Damien yang sudah berseragam dan pergi kemana-mana menaiki mobil militer tinggalan Pemerintah Inggris dianggap oleh Teddy tak ubahnya seperti Sir John Hamilton. Penjilat dan pengkhianat. Periode perang saudara ini dicatat sebagai Irish Civil War (1922–1923). Hanya setahun, tapi ingatan akan mayat saudara sendiri yang bergelimpangan dibantai oleh saudara yang lain masih terekam dengan jelas. Seperti yang diutarakan oleh Pádraic Delaney:
"I come from a farming background in Western Ireland and I can still go home nowadays and walk through some of my father's fields and see the unmarked graves of people who were shot by the police and left to die in ditches and you see the ruins of houses where people had to evacuate because they were run off the land through fear or intimidation. The ghosts are still in Ireland and still do haunt. And sometimes people talk about it and sometimes they don't because it's too painful, it runs too deep."

Naas, dalam suatu serangan ke tangsi militer kaum moderat, Teddy tertangkap. Sesuai dengan tradisi perang saudara saat itu, maka para pimpinan pengkhianat akan dieksekusi dengan peluru di jantungnya. Sesobek kain kecil dipasang Damien di dada Teddy. Lalu dengan isak tangis, dihantarkannya Teddy ke alam baka.

Loach diganjar Palm d’Or 2006 atas jerih payahnya merekonstruksi ulang sejarah lokal County Cork.

Yogyakarta, Februari 2007



Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ahmad Tohari
Politik Ronggeng

Judul : Ronggeng Dukuh Paruk-Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1982
Tebal : 400 halaman (menggabungkan ketiga judul novel diatas)

Saya membaca habis trilogi Ahmad Tohari ini ketika SMP, belasan tahun lalu. Sekedar mengisi waktu yang terampas oleh rejim sekolahan. Kali ini saya mencoba membaca kembali, dengan perspektif belasan tahun ke depan.
***
Seorang pembuat film dokumenter pernah berseloroh, bahwa Tohari itu sadar kemera. Dia tahu harus bertingkah seperti apa ketika berhadapan dengn kamera, tahu harus berpakaian apa ketika mata lensa menyoroti kehidupannya. Detail adalah obsesi dia dari orok. Sempurna dan mbois (necis).

“Sepasang burung bangau melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepakkan sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya…”

Mata pembaca menatap suasana pedesaan banyumasan, Pesisir utara Jawa Tengah, daerah kelahiran Tohari. Kekuatan detailnya menggerakkan masuk pada keyakinan tersendiri, bahwa antara lingkungan dan menusia selalu saling timbal balik. Detail dari tempat Tohari hidup dilukiskan larik demi lariknya. Jujur. Berulang dipaparkan dalam tiap halaman, berpindah bab, berpindah judul. Ini bisa jadi kekuatan novel sejarah, sekaligus memudahkan Tohari untuk mengingat penggalan cerita masa lalu yang terlupa.

Siapa yang tak mengenal tempe bongkrek ? Simbol kemiskinan yang dipuja penduduk desa miskin tiap generasinya. Tohari salah satu satu pemujanya. Dengan detail dia menceritakan proses pembuatannya. Makanan dari peragian kelapa ini menyelamatkan penduduk dari nista kemarau panjang sekaligus bisa melumat perut bila salah olah. Tempe ini telah mengirimkan sebagian penduduk Dukuh Paruk ke liang kubur. Termasuk orang tua dari Srintil dan Rasus, serta belasan bocah-bocah lain. Mereka tumbuh tanpa bayangan bapak dan ibunya.

Sejak bocah, Srintil telah punya bakat meronggeng. Oleh penduduk Dukuh Paruk, diyakini bahwa arwah ronggeng yang sebelas tahun lalu mati menitis dalam diri Srintil. Menunggu waktu tepat. Sesorean di bawah pohon nangka, Srintil menari diiringi musik yang menghentak dari mulut Rasus, Warta dan Dasun. Para bocah yatim itu menemukan dunianya, dunia Dukuh Paruk. Sebagai tempat bersemayamnya Ki Secamenggala, bromocorah yang mati oleh penyesalan dan sepi, Dukuh Paruk menjadi desa yang penuh dengan segala nista di kawedanan. Cabul-sumpah serapah-bodoh-miskin-penyakitan adalah darah yang mengalir deras dari keturunan Ki Secamenggala. Tak ada hal yang baik. Sampai ronggeng terkenal bernama Srintil lahir dari sana.

Segala yang dipunya ronggeng adalah kecemburuan bagi perempuan. Kerlingnya-senyumnya-tembangnya-badannya-wanginya adalah milik semua laki-laki.

“Siapapun berhak menayub, menyisipkan banyak uang dalam kutang ronggeng. Lalu pemilik uang terbanyak akan tidur bersama ronggeng itu”.

Sesederhana itu hasrat seksual laki-laki. Istrinya, dengan cara tertentu bangga bahwa suaminya adalah orang paling kaya wakt, di panggung ronggeng. Tak peduli untuk membeli harga diri dengan menjual ternak dan sawah. Harga diri adalah yang tersisa dari kemarau panjang yang selalu mendera desa miskin di pesisir Jawa.

Karena ronggeng pulalah, Srintil rela tidur pertama kali dengan pria asing yang membayar harga tinggi untuk keperawananannya. Diterangkan oleh Tohari, ini adalah bagian akhir dari ritual menjadi ronggeng sejati, dinamakan bukak klambu (membuka kelambu tempat tidur). Selanjutnya, melayani pria-pria asing lain yang mampu membayar sejumlah uang yang membuat kaya Ki dan Nyai Kertareja. Mucikari merangkap dukun ronggeng. Hal yang dibenarkan di jagad ronggeng. Eloknya Srintil laris manis di kawedanan. Dukuh Paruk yang nista terangkat harga dirinya oleh ronggeng. Ini yang tak disukai Rasus, bocah yatim teman sepermainan Srintil. Bayangan emak (ibu) yang membias pada Srintil punah karena ronggeng. Cemburu dan benci teraduk-aduk pada semua laki-laki berkepeng emas yang mampu meniduri Srintil. Larilah Rasus ke Dawuan, sebuah pasar di kawedanan, bersembunyi dari hingar bingarnya pentas ronggeng dan hiruk pikuknya calang (alat musik pengiring ronggeng dari bambu) Dukuh Paruk. Dia menata perasannya di sana.

Ronggeng adalah penakluk laki-laki. Dari tentara, lurah, juragan sampai orang biasa takluk di bawah kerlingnya. Tapi Srintil tahu diri, dia akan memilih. Siapa yang kaya dan disukai akan dlayaninya sepenuh hati. Pria hidung belang akan menunduk di bawah kuasa Srintil. Inilah yang menjadikan pentas ronggeng selalu ramai, mengundang banyak massa datang. Laki-laki untuk sekedar bertayub, perempuan untuk mengagumi kecantikannya. Ronggeng adalah milik pentas, seorang Rasus, Marsusi, Lurah Sicelan dan banyak laki-laki lain ditampik untuk memiliki Srintil buat kepentingan sendiri. Digdayanya ronggeng Srintil menjadi pimadona tiap hajatan sunatan dan pernikahan. Puncaknya, pada acara 17an yang digelar kecamatan menampilkan ronggeng sebagai pemikatnya. Saat itu komunis berkuasa disana. Maka saat itu pula ronggeng pun didaulat sebagai kesenian rakyat, miliknya kekuasaan, sekaligus alat agitasi revolusi. Srintil adalah duta komunis.

“Calang dibalut kain merah marun. Tembang cabul diganti propaganda heroik. Sekaligus kemenyan dan mantra yang diritualkan saat pentas ronggeng dilarang ”
Satu persatu, tradisi ritual ronggeng dipreteli. Srintil yang dulu menari untuk laki-laki dan jayanya Dukuh Paruk, akhirnya tak tahu menari lagi untuk siapa. Dia tak paham karena kebodohan akan perpolitikan. Sakum, si buta penabuh calang merasakan kegelisahan yang sama. Ki Sukaraja, kakek Srintil, menangkap gelombang yang senada. Ronggeng masuk terlalu jauh dalam wilayah pertempuran kekuasaan saat itu : nasionalis-agama-komunis, dengan Presiden Soekarno sebagai Ratu Adilnya. Kebodohan Dukuh Paruk menyeret semua penduduk ke dalam geger 1965.

Semua tokoh ronggeng Dukuh Paruk dipenjarakan. Disiksa raga dan batin, lalu dihubungkan dengan status mereka sebagai kesenian rakyat. Kecuali Srintil, yang dengan kemolekannya malah menjadi gendak (perempuan simpanan) para perwira rendahan. Dia selamat dari geger 1965, tapi banyak yang tidak. Sejarah mencatat ratusan ribu dibantai tanpa pengadilan. “Dari timur tercium bau bangkai” demikian Tohari mencatat semuanya. Ada kehati-hatian yang sangat ketika Tohari mulai masuk ke babak ini. Maklumlah, saat cetakan pertama novel ini terbit, saat Soeharto berpesta dengan kekuasaan. Menurut promosi buku ini, dengan cetakan terbaru 2003, ada sensor yang telah dibuka lagi.

Dukuh Paruk terluka oleh kekerasan. Rumah dibakar oleh sekelompok tak dikenal. Bocah-bocah desa terkencing melihat bedil yang disandang. Makam Ki Secamenggala pun enggan dijamah pada hari pasaran jawa. Lebih sepi di Dukuh Paruk dari hari kemarin. Ronggeng dilarang pemerintah karena bersangkut dengan PKI. Penduduk sana kembali makan tiwul berlauk belalang dan jangkrik. Revolusi, entah ke kanan atau ke kiri tak mengubah nasib Dukuh Paruk. Kekumuhan disana makin menjadi ketika banyak orang proyek datang dari Jakarta, membawa banyak hal baru berbau ibukota. Orang muda Dukuh Paruk membeli harga dirinya dengan bau ibukota. Dulu tayub, sekarang ibukota. Termasuk Rasus, pimpro proyek yang terkesima melihat Srintil di siang bolong.

Perhatian, kasih dan kesopanan diwujudkan Bajus dengan rumah yang terbangun cuma-cuma bagi Srintil. Hati Srintil berbunga, setelah sekian lama didera kesepian karena perang dan Rasus yang menghilang. Rasus teman main kecilnya yang selalu cemburu ketika dia tidur dengan laki-laki lain menjadi mimpi sekejab, tiba-tiba lenyap. Hanya mimpi, karena dia telah menjadi tentara, yang berarti penguasa yang berseberangan dengan eks-tapol seperti Srintil. Politik menjauhkan diri dari hakekat kemanusiaan paling dasar : cinta dan beranak-pinak. Pasar Dawuan menjadi tempat angker bagi penduduk Dukuh Paruk untuk menunjukkan dirinya. Eks-tapol adalah eks-tapol, sampai dia mati. Mati pun sudah tak punya harganya.

Beralih hati Srintil ke Bajus, memberikan cahaya pada Srintil untuk meraihnya. Naluri perempuan yang rindu pada terciptanya rumah tangga perlahan merekah. Satu kali Bajus mengajak Srintil ke pesta pertemuan para pejabat. Srintil gelisah, apakah dia yang ronggeng dan eks-tapol bisa setara dengan para istri pejabat yang menurutnya terhormat dan bukan eks-tapol. Dari ronggeng ke rumah tangga, Tohari menangkap kerinduan setiap perempuan akan angin kehidupan. Kebaya yang tak mencolok-tapi menarik, bedak tipis menyapu roman muka, hiasan secukupnya dan kesopanan yang patut telah pun dilatih oleh Srintil. Sepertinya dia tahu, satu saat akan tampil seutuhnya sebagai perempuan pendamping Bajus.

Semua terjungkir balik, ternyata Bajus tak ubahnya mucikari yang menjual Srintil pada laki-laki iseng. Bajus berbaik hati, dengan harapan Srintil mau berbalas budi dengan jadi sundal bagi lolosnya proyek Bajus. Srintil murka, melotot dan gila. Harapan akan seorang pengganti Rasus meledak berkeping, menggoncangkan kesadaran. Tohari menulis dengan dramatik : bola matanya menghitam kelam. Dower, anak angkat Sintil pun hampir mampus dicekik ibunya. Roh leluhur ronggeng pun telah lepas dan pergi, tapi Bajus tak pernah mengerti tentang itu, karena di orang kota yang hidup dengan rasio dan laba. Namun sosok yang menjauh, Rasus, lebih mengerti arti cinta, pada desa Dukuh Paruk, pada Srintil yang dirindunya saat bertempur di rimba Kalimantan. Memburu tentara desersi. Rasus pun kembali ke tanah kelahirannya yang miskin oleh kebodohan dan kemarau panjang.

Dia menemukan Dukuh Paruk yang murung, tak berdaya menyaksikan Srintil yang tidur bersama tahi dan kencingnya. Dan hatinya pun terbelah oleh kemanusiaan. Perjalanannya sebagai satu-satunya orang yang terdidik di Dukuh Paruk membangkitkan kesadarannya sebagai hakekat manusia sejati, yang ternyata bimbang oleh jaman bergerak. Namun, bagi penduduk Dukuh Paruk, Rasus adalah Ratu Adil yang bisa menyelamatkan desa dari nista geger 1965. Ironik.

Yogyakarta, Februari 2007




ReviewReviewReviewReviewReviewInnocent VoicesFeb 6, '07 10:57 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Suara Senyap Keperihan

Judul : Innocent Voices
Sutradara : Luis Mandoki
Skrip : Oscar Orlando Torres
Pemain : Carlos Padilla, Leonor Varela, Xuna Primus, José María Yazpik.
Gustavo Muñoz, Ofelia Medina, Daniel Giménez Cacho
Produksi :
Tahun : 2005

Usia 12 tahun adalah saat yang membahagiakan bagi semua anak laki-laki. Saat itulah usia akil balig dimulai. Sunat, naik motor, kelayapan kemana-mana, tak malu lagi melirik lawan jenis, punya kebebasan yang lebih longgar dari usia sebelumnya. Saat hari-hari cerah tiap harinya. Sebaliknya, ketika pada usia itu telah dididik dan didogma untuk menghabisi nyawa manusia lainnya, apa reaksi anak-anak itu ? Dia akan menangis sesenggukan dan kencing di celana sekolah. Itu anak-anak Innocent Voices, sebuah maha karya Luis Mandoki, sutradara kelahiran Meksiko ini nampaknya matang dengan serangkaian film bergenre beragam : White Palace (1990), When A Man Loves A Woman (1990), Message In A Bottle (1999), Angel Eyes (2001), Trapped (2002).

El Slavador, pada era perang dingin ‘90an, dikisahkan oleh Oscar Orlando Torres sebagai bagian dari hidupnya. Petani mengangkat senjata, membentuk FMLN melawan pemerintah El Salvador. Kampung miskin yang minim fasilitas public tiba-tiba menjadi muntahan peluru gerilyawan FMLN dan tentara El Salvador yang mendentum-berlarian diantara bedeng-bedeng seng. Disitulah Chava (Carlos Padilla) hidup bersama dengan keluarganya, ibu Kella (Leonora Varela), adiknya Angelica (Paulina Gaitan), Ricardito (Alejandro Felipe). Bocornya genteng bolong, angin malam yang menusuk, tanah yang becek dan kegelisahan akan perang menjadi makanan keseharian. Tak heran di tengah malam tiba-tiba kampung itu menjadi menegangkan oleh desingan peluru dan mortir yang menyambar-nyambar di gelapnya malam.

Saat itu Ricardito, si bontot, akan menangis meraung-raung. Chava dengan sigap menggantikan tugas sebagai bapaknya untuk menghibur si kecil. Sang bapak telah lama pergi ke utara, tanpa ucapan selamat tinggal kepada Kella untuk menghindar dari kejaran tentara di tengah hujan menjelang perang. Kampung tersebut terletak di tengah front peperangan antara gerilyawan–tentara. Tak hanya jadi ajang muntahan peluru, tetapi bocah-bocah akil balik yang hidup disana pun jadi perebutan antara ke-2 pihak yang bertikai. Saat usai menjelang 12 tahun, maka si bocah setelah sejenak merayakan ulang tahunnya, akan dihadapkan pada dua pilihan : ikut tentara atau FMLN. Inilah yang akan dikisahkan oleh Torres, masa kecilnya menjelang 12 tahun yang brutal oleh perang.

Layaknya semua bocah, Chava tentunya juga punya kehidupan dan kenakalam khas anak-anak. Pacarnya, Cristina Maria (Xuna Primus), adalah “The most beautiful girls in the school” katanya pada Raton (Héctor Jiménez), seorang gerilyawan FMLN yang kerap keluar-masuk kampung. Situasi yang mencekam tak menghalangi Chava dan Christina Maria untuk berkencan menerbangkan lampion terbang malam-malam di lapangan kampung. Rasa suka pun dirajut dengan belajar bersama-bermain bersama-surat-surat konyol di sekolah, khas anak-anak. Rasanya, kita akan mengingat segala romantisnya masa kecil ketika melihat film ini. Semakin menggelikan ketika Christina Maria malu-malu mencium Chava, lalu mereka berbalas cium diatas atap rumah kampung yang bolong-bolong. Pemandangan tentara yang brutal menculik para gadis untuk memuaskan hasrat seksual tak mengusik rasa kasmaran dua bocah akil balik itu.

Selain Christina Maria, Chava juga punya sahabat seorang Pastor Beto (José María Yazpik), sosok yang kharismatik-penyayang anak-anak sekaligus keras hati. Dia menghardik Chava yang sedang bermain dengan radionya sama kerasnya dengan menghardik tentara yang mengambil bocah-bocah 12 tahun di sekolah. Radio merupakan barang terlarang disana, tetapi Marcos (Andrés Márquez) nekad memberi Chava barang haram itu supaya Chava bisa selalu mendengarkan dari Vornenomus (kalau gak salah lo…), radionya FMLN. Marcos berharap Chava yang cerdas dan pemberani satu saat bisa bergabung dengan FMLN melawan pemerintah El Slavador. Bagi Torres, saat itu tak ada yang bisa tak berpihak-tak ada yang tak punya pilihan, bahkan seorang Pastor Beto, yang merupakan agamawan di gereja, mempersilahkan gerilyawan untuk memakai gereja sebagai tempat penyerbuan ke markas tentara. Perang tak memungkinkan kita semua untuk tak berpihak, demikian Mandoki pada filmnya.

Yang tak berpihak akan pergi, mengungsi jauh-jauh, melewati hutan yang basah oleh mesiu dan sungai yang anyir bau mayat. Berpindah dari kampung ke desa, dari desa ke pedalaman, dari pedalaman ke kota lagi. Hidup seperti berputar tak jelas arahnya kemana, menyisakan keluarga yang tercerai berai oleh perang saudara. Menghindar dari kematian memilukan oleh peluru nyasar. Kalla pun terpaksa berhenti bekerja karena perang, demikian juga Chava yang bekerja sebagai kernet bis. Yang mati oleh perang hanya menyisakan secuil kenangan, yang oleh Chava selalu dikenang kain baju yang dipakai oleh Christina Maria ketika Chava ulang tahun. Ulang tahun yang ke-12, tapi oleh Mama Toya (Ofelia Medina) dikerdilkan menjadi 11 tahun. Chava marah, tak mengerti kenapa usianya berhenti disaat 11 tahun, keluguannya tak pernah mengerti jika ketika sudah 12 tahun, maka seorang bocah akan menjadi tentara atau gerilyawan.

Satu persatu kawan dan saudara Chava mati. Termasuk Pastor Beto yang menghilang diangkut tentara. Semua tak menggoyahkan Chava selalu berada tak jauh dari keluarganya, tak melongok tentara maupun gerilyawan. Tetapi saat Christina Maria mati mengenaskan di tengah pertempuran, maka Chava terluka. Dia harus memilih: tentara atau FMLN. Bersama dengan sobat yang selamat dari brutalnya tentara, dia menembus malam masuk ke sarang FMLN. Dia dan yang lain telah memilih karena luka batin yang perih. Generasi pendendam telah lahir dari rahim perang saudara. Naas, tentara menggrebek markas gerilyawan. Chava dan bocah yang lain digiring menuju kematian di pinggir sungai. Di sana telah menunggu mayat-mayat dingin yang bergelimpangan. Ada empat bocah disana, Chava adalah bocah yang ketiga akan didor kepalanya. Beruntung, saat itu, FMLN datang, lalu balik menghabisi tentara.

Chava mengungsi ke Amerika, meninggalkan keluarga di Ssalvador. Dia berada di sebuah negara asing yang lekat dengan demokrasinya, tapi tragisnya atas nama demokrasilah yang membuat negra itu menggelontorkan bantuan sepuluh juta dollar dalam bentuk bantuan militer ke negara El Slavador. Perang atas nama kebebasan. Torres mengakui sulitnya menuliskan kisah ini, karena dia harus berhadapan vis a vis dengan masa lalunya. Tetapi sejarah mencatatkan bahwa dia telah menuliskan dengan gemilang, tak berhasrat mencari keadilan, tetapi hanya berdamai dengan masa lalunya. Mungkin tak hanya Torres, Tohari-Pramoedya-Brata telah memulainya : menyembuhkan luka perang saudara.

Yogyakarta, Januari 2007






ReviewReviewReviewReviewJoyeux Noel Jan 30, '07 6:26 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Kristus di Medan Perang*

* judul di kutip dari sajak Sitor Situmorang .

Judul film : Joyeux Noel
Sutradara : Christian Carion
Pemain : Daniel Bruhl, Guillaume Canet, Dany Boon, Diane Kruger, Gary Lewis, Benno Furmann, Alex Ferns, Steven Robertson, Lucas Belvaux, Bernard Le Coq, Ian Richardson, Frank Witter, Thomas Schmauser, Joachim Bissmeier, Robin Laing,
Produksi : Senator Entertainment AG, TF1 Films Productions
Tahun : 2005
Durasi : 1h56min

Natal 2006.
Membosankan.

Dari tahun ke tahun selalu berulang hal yang sama, pada awal Desember lagu-lagu khidmat Natal mulai didengungkan. Layaknya mars komunis di pagi hari. Diputar keras-keras pada rumah orang-orang Kristen, mall-mall megah, pusat perbelanjaan, kafe, toko buku yang pada intinya merayakan Natal. Entah apa yang dirayakan. Sekedar identitas bahwa dia itu Kristen tulen ataukah menambah omzet jualan dagangan ? Tak jelas, terlebih lagi kita tak perlu repot-repot cari kejelasan.

Bayangkan betapa hal itu selalu berulang selama 2006 kali. Membosankan bukan ? Saya saja yang terlahir 26 tahun yang lalu, selalu menguap mendengar lagu-lagu dan suasana-suasana begitu-begitu saja selama 26 kali seumur hidup.

Lalu bagaimana Natal ketika dirayakan pada suatu daerah berkonflik ?
Charles Carion menjawabnya : Joyeux Noel (Merry Christmas).
Eropa, 1914, masa-masa perang dunia yang diakui paling brutal oleh masyarakat Eropa. Di suatu kota Eropa, pertempuran tak pernah habisnya untuk memperebutkan sejengkal tanah, yang konon cukup strategis bagi peperangan. Pasukan Jerman, Perancis dan Inggris (yang diwakili oleh pasukan Skotlandia) berjibaku demi misi perang yang dikirimkan oleh jendral-jendral maha kuasa. Sebuah zona kosong, yang dinamakan ‘no man’s land’ jadi kuburang tak berlobang bagi puluhan tubuh tentara yang mendingin diselimuti salju. Scene pertempuran yang membelalakkan mata, terjadi seperti mimpi buruk saja. Tubuh-tubuh yang meledak, bayonet yang saling mencari daging untuk dikoyak, teriakan kemenangan-kemenangan pasukan, peluh bau amunisi, lalu dunia menjadi gelap bagi William bersaudara. Sang adik terkapar dihajar peluru. Sang kakak hanya menitikkan air matanya ketika tubuh yang mulai mendingin itu hanya berjarak ‘9 feet’ darinya.

William bersaudara datang dari ranah Skotlandia, daerah koloni Inggris. Atas restu pastor Anglikan mereka bergabung dengan pasukan Skotlandia. Lain halnya Nikolau Sprink (Benno Furmann) yang merupakan sopranor terkenal dari Jerman datang sebagai sukarelawan. Sukarela untuk membunuh dan dibunuh, demi kejayaan bangsa dan negara. Hal yang digambarkan sinis oleh Carion ketika film dibuka dengan sajak di depan kelas oleh anak-anak kecil tentang pendidikan ideologisasi negara. Jerman menuduh Inggris sebagai pembunuh, Perancis yang haus akan kejayaan kerajaan dan Jerman yang memuja ras Bavaria-nya. Paham yang dinamakan nasionalisme dikobarkan saat bocah-bocah bau kencur ini tak tahu apa-apa tentang pelajaran berperang.

Nikolau Sprink bukanlah tentara. Dia seniman yang memanggul senjata. Instik inilah yang membawanya pada gagasan untuk memberi warna pada penantian panjang perang ini ke melodi syahdu ‘O Little Town of Bethlehem’ (versi jerman yang dinyanyikan). Jauh lebih sempurna ketika dia menyanyikan lagu yang sama di depan para jendral di sebuah kastil. Luar biasa Carion membawa kelamnya perang ke temaramnya Natal. Saat itu, 24 Desember 1914, malan Natal yang absent lampu Natal, Nikolau Sprink nekad membawa pohon natal di zona no man’s land. Suara tenornya menyayat hati tentara yang membeku oleh pertempuran kemarin. Lalu berturut-turut tentara Jerman lainnya membawa pohon natal yang yang lain, berbondongan masuk zona no man’s land. Semua gerakan ganjil itu diikuti dengan seksama oleh tentara Perancis, dibuntuti oleh tentara Skotlandia. Mereka tak suka keramah-tamahan di peperangan.
Putus asa, ketika tak satupun respon yang didapat, tetapi malah bersandingan dengan hujan peluru yang akan muncul seketika. Nikolau Sprink mengigil. Tapi dia terus menyanyi. Sang istri, Anna Sorensen (Diane Kruger) memandang dengan cemas situasi tak menentu ini. Tiba-tiba dari balik bunker melompatlah tentara Skotlandia yang telah mabuk oleh whisky mendekat pada Nikolau Sprink. Diikuti oleh tentara Perancis yang rupa-rupanya telah membuka berbotol-botol sampanye untuk merayakan Natal. Dalam ketidaksadaran, nyata-nyata semua berharap pada tak adanya peperangan. Carion punya selera hunor yang cukup cerdas untuk ini. Itu juga nampak pada perdebatan tentang seekor kucing yang keluar masuk tanpa sedikit pun terluka saat pertempuran terjadi, tentara Jerman berkeras menamakannya Nestor, sedang tentara Skotlandia menamakannya Felix. Toh, ketika dipanggil dengan nama Nestor/Felix si kucing tetap saja mengeong. Atau mungkin dipanggil ‘Pus’ akan juga begitu ?

Sekejab, tak ada lagi wacana besar yang disusung Carion. Perbincangan tentang foto keluarga, istri dan anak mendominasi malam Natal. Bertahun-tahun tak bertemu menjadikan kerinduan begitu menusuknya. Bagi kebanyakan orang Eropa, Natal selalu dirayakan bersama dengan seluruh keluarga. Sama seperti Imlek, ataupun Lebaran. Keluarga menjadi inti pada Natal. Demikian Kristus pun lahir di tengah keluarga di pengasingan. Esoknya ketiga pasukan sepakat melakukan gencatan senjata untuk mengangkut mayat-mayat tentara yang beku di salju. Mereka yang mati dimakamkan di tempat yang layak. Zona no man’s land berubah menjadi lansekap nisan bersalib. Dingin dan sepi. Seperti perasaan William yang selalu menulis surat terpatah-patah kepada ibunya mengatakan bahwa keadaan dia dan adiknya baik-baik saja. Keriangan itu berlanjut, sepak bola bersama, saling nyanyikan kerinduan pada kampung halaman, kartu remi yang bertebaran, meluas sampai saling memberi tumpangan ketika bungker masing-masing tentara dibombardir oleh pihak musuh. Sulit dibayangkan, memberi tumpangan pada tentara musuh, selagi pasukan artileri dari negara yang ditumpangi memborbardir ganasnya ?

Kopi menjadi penanda penting bagi Carion. Dengan itu, lidah para Letnan masing-masing pasukan bertemu di zona no man’s land untuk berbincang tiap paginya. Tak ada strategi peperangan yang dahsyat dan gegap gempita, Carion membawa kita semua ke kerinduan akan masa keseharian “After the war, I want to be a farmer”. Para tentara pun tak lagi mengerti, kenapa mereka harus menembak seorang tentara Perancis yang seorang pembuat kopi. Degradasi moral, bukan berarti membangkang, tapi mempertanyakan untuk apa peluru di semburkan. Natal menjadi titik balik bagi para tentara : mempertanyakan antar tugas negara dan hati nurani. Nikolau Sprink pun bimbang, apakah dia akan berperang demi negaranya, ataupun memilih desersi bersama istrinya, Anna Sorensen, yang bertahun-tahun tak ditemuinya.

Keganjilan pada malam Natal itu pun ketahuan oleh para jendral. Surat-surat para tentara kepada keluarga menjadi kuncinya. Semua pasukan pembangkang ditarik. Digantikan oleh pasukan yang baru. Tentara yang terlibat di sana dibuang ke front yang lebih buas lagi. Nikolau Sprink termasuk yang terbuang. Dengan kereta yang tak berjendela, dia dikirim ke front Prussia Timur oleh Napoleon. Musim semi yang menghangat menyertai kepergian para penjahat perang ke kematian. Satu sisi lain, pastor Anglikan yang telah naik pangkat menjadi pastor para tentara terus menerus berkhotbah tentang perang suci melawan Jerman dan Perancis. Darah pembunuh itu halal jika terbunuh, titik. Ditiap sejarah terulang hal yang sama : bangkai tikus pun bisa jadi alasan untuk berperang. Film ini mendapat penghargaan Cannes 2006 untuk kepekaannya.

Yogyakarta, Januari 2007







ReviewReviewReviewReviewReviewOsamaJan 2, '07 7:20 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Hikayat Sang Banal

Judul : Osama
Sutradara : Sadigh Barmark
Produsksi : Armark Films
Tahun : 2003
Durasi : 1h23mn

Sambil berhati-hati, seorang teman berbisik “Itu sulit. Mustahil bercerita tentang dia, yang telah lama pergi ketika Mama masih bocah. Fotonya disembunyikan, namanya tak disebut. Sepertinya dia telah lama tercoret dari kisah-kisah Idul Fitri kami. Bahkan nenek pun nampaknya seperti linglung ketika bicara tentang putra yang dikasihinya itu.“ Teman itu menarik napas dalam-dalam, tak melanjutkan perbincangan. Semua jadi hening. Nampaknya, masa lalu keluarga seperti tempat keramat yang tak sembarang orang bisa masuk. Karena masuk, berarti berada disana, itu yang tak dimaui. Bahkan teman yang merupakan generasi kedua dari keluarga, dijauhkan dari perbincangan tentang sang paman.
***
Tak berapa lama ketika Kabul jatuh ke tangan Bush, segenap perangkat kekuasaan berganti rupa. Daerah yang awalnya dikuasai oleh Taliban bersolek dengan kedatangan NATO. Dimana-mana bertebaran pasukan asing bersiaga dengan senjata lengkap. Sisa pelor dan reruntuhan gedung menjadi tanah gembur di taman – taman kota. Kali ini, Taliban, penguasa Afghanistan, yang disangka sebagai biang kerok teroris terus menerus dibidik. Sebagai imbalannya, Presiden Kharzai, yang merupakan rejim baru Afghanistan, dijanjikan gelontoran jutaan dollar untuk membangun Afghanistan yang berantakan selama perang dengan Soviet dan antar milisi. Dibalik gemuruhnya perang yang digerakkan oleh Bush dan provokatifnya media akan situasi di Afghanistan, selalu ada yang terlupa, bahwa rakyat sipil yang tak akrab dengan moncong senjata selalu menemukan dirinya terjebak dalam kekerasan yang tak berkesudahan. Sistem hukum fasis yang ditegakkan oleh rejim Taliban, hanya berganti rupa menjadi sistem hukum moncong senjata gaya para komandan perang. Semua demi tegaknya “Law of God” seru seorang Taliban di keriuhan massa.

Sebelum melangkah lagi, hendaknya berdamai dulu dengan masa lalu selagi ada kesempatan. Ini yang menjadi kekuatan dari film ’Osama’ besutan Barmark. Film ini juga diklaim sebagai film pertama paska-Taliban, film yang menggambarkan bebasnya para sineas berkarya di wilayah yang dulunya diperintah oleh hukum agama dengan kerasnya. Dibuka dengan seorang jurnalis asing yang memfilmkan demonstrasi di sudut kota bersama dengan pemandu kanak-kanak. Gambar bergoyang cepatnya, menangkap emosi massa, kita seperti ada disana.

“Pay me a dollar, Sir“ ujar si Efendi (Arif Herati), bocah itu.

Maka bergeraklah kamera jurnalis itu ke serombongan perempuan berpakaian burkha, semacam gaun panjang dari kain yang menutup seluruh muka dan tubuh perempuan. Perempuan-perempuan itu susuri jalan berdebu ”We want job” teriaknya kompak. Sejenak saya agak bingung dengan situasi ini : meminta pekerjaan ? Bukan susu / kuota parlemen…
Rejim berganti rejim menjadi sejarah Afghanistan. Menyisakan duka tangis yang mengering, dimakan oleh perut yang terkikis lapar.

“Goverment don’t care about our hospital“, geram seorang administratur rumah sakit di Kabul.

Gambar bergerak lambat. Dinding yang berlobang, kosong, berdebu dan pasien tergeletak dimana-mana. Tak menyisakan ruang pada kita untuk mengira itu sebuah rumah sakit kota besar. Golbahari, seorang bocah perempuan berada pada jaman kehancuran itu. Ibu Golbahari (Zubaida Zahar) bekerja di sebuah rumah sakit, saat itu dia sedang merawat pasiennya dengan seksama, walau dia sebenarnya tahu, bahwa tak pernah ada obat untuk para pasien yang datang silih berganti. Tiba-tiba Taliban datang, maka gegerlah rumah sakit itu. Semua perempuan berubah rupa memakai burkha, tak ada yang bercakap, karena Taliban tak membiarkan seorang perempuan bercakap dengan laki-laki yang bukan suaminya. Di sebuah dinding yang runtuh, mata kecil Golbahari melihat seorang perawat asing digelandang keluar oleh Taliban. Sama seperti perempuan yang ditangkap karena berdemonstrasi, perempuan asing itu pun dijebloskan ke tahanan yang sama.

Situasi pun menjadi sulit karena Taliban menghendaki hal yang mustahil : tak boleh perempuan berada di luar rumah tanpa suaminya. Bapak dan saudara Golbahari telah lama mati. Tidak adanya laki-laki dalam kehidupan mereka membuat mereka dekat dengan kelaparan, terjebak dalam rumah yang harusnya melindungi. Keluarga Osama tak sendirian, perasaan mereka diwakili oleh ratusan perempuan yang berdemonstrasi di jalanan. Semua memuncak ketika ibu Golbahari pada malam-malam capeknya merobek segala yang berhubungan dengan suaminya. “We have to find some food“ lirih ibu Golbahari pada nenek (Hemida Refah). Sebuah keputusan tragis dibuat pada malam itu juga : Golbahari digundul dan didandani laki-laki. Dengan gemetar ibu Golbahari menggunting pakaian suaminya untuk dipakai di badan Golbahari. Hanya dengan berubah identitasnya, keluarga bisa terselamatkan. Golbahari meraung-raung menangis. “I hope God never create women“ geram ibu Golbahari. Sisa rambut ditanam dan diairi tiap harinya, berharap tak akan berhenti tumbuh untuk suatu saat bisa dipakai lagi.

Perubahan identitas Golbahari menjadi laki-laki, awalnya lancar ketika dia bekerja di sebuah toko sembako, tetapi semua berubah ketika Taliban mengumpulkan para bocah laki-laki menjadi milisi. Gambar bergerak cepat. Mereka dirampas dari orang tua dan pekerjaan mereka, lalu berbaris di teriknya matahari satu persatu. Masa akil balik pada bocah identik dengan pembuktian kelaki-lakiannya. Permainan menjadi ajang terbaik buat Taliban untuk memantau binaannya. Di sebuah lapangan berdebu yang besar, ratusan kanak-kanak tiap harinya berloncatan dan berkelahi, dan ada sebuah pohon ara tempat para bocah memanjat untuk bisa diakui laki-laki. Efendi membabtis Golbahari menjadi Osama, untuk menyelamatkannya dari ganasnya Taliban. Golbahari harus memanjat untuk membuktikan laki-laki, tapi bukan itu saja, dia pun harus tahu bagaimana bereaksi ketika mimpi basah datang “Three time on the right side, three times on the left side and three times on the middle“ ujarnya tergagap. Barmark menyuguhkan kegagapan Golbahari dalam situasi akil balik ini, keingintahuan yang mendalam pada lawan jenis, sekaligus ketakutan akan moncong senjata Taliban.

Kegagapan demi kegagapan menjadi laki-laki dimulai dan berakhir di pohon ara, Golbahari tak bisa lagi turun ketika berada pada pucuk pohon dan Efendi tak lagi menguasai kawan-kawannya. Demi membuat lebih laki-laki, maka Golbahari diikat tergantung di dalam sebuah sumur “I want Mom…” isaknya lirih. Hari itu juga Osama menstrusi pertama kalinya, dia telah menjadi perawan. Taliban berang tertipu, kekuasaan dilecehkan oleh seorang bocah, perempuan lagi. Maka Golbahari disiapkan untuk dibedil bersama dengan jurnalis dan perempuan asing terdahulu. Lebih beruntung dari yang lain, nyawa Golbahari diminta oleh seorang laki-laki tua. Setelah melampaui setengah hari perjalanan, sampailah Golbahari di rumah reot si tua itu. Disana, telah menunggu tunggu tiga istri si tua itu dengan kisah pedihnya masing-masing mengenai darah dan Taliban. Golbahari akan menjadi istri yang keempat, lalu akan punya cerita tersendiri tentang darah dan Taliban. Gembok yang paling baik pun dipilihkan oleh si tua sendiri untuk dilekatkan di kamar Golbahari. Saat itu nafas saya berhenti, pedih. Masih panjang pekerjaan Barmark untuk berdamai dengan masa lalunya dan dia tak punya banyak kata untuk itu.

Gresik, Januari 2007





ReviewReviewReviewReviewOver The BorderDec 18, '06 9:57 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Satu rumah, Dua Pintu

Judul : Over The Border
Sutradara : An Pan-seok
Pemain : Cha Seung-won, Jo I-jin, Sim Hye-jin
Produksi : CJ Entertaiment, South Korea
Tahun : 2006
Durasi : 110’

Saya kesulitan untuk menterjemahkan pen-title-an dari film ini, semua dalam bahasa dan huruf korea, kecuali judulnya. Sepertinya itu jadi konsumsi orang korea sendiri, kata kawan pemerhati film korea. Membaca konten filmnya bisa jadi begitu. Film ini mengisahkan tentang keluarga pelarian dari Korea Utara yang lari ke Korea Selatan untuk menghindari kematian. Isu unifikasi merupakan hal peka di dua negara, terus menerus dirajut oleh masyarakat dua negara itu bertahun-tahun dengan berbagai macam cara dan teknik. South – North, simbol yang memisahkan dua korea selalu dipakai dalam bahasa keseharian dalam film “Where you came from ? North ?” Selalu saja ada yang diam-diam berbeda, walaupun sudah satu ras. Selalu demikian politik beroperasi.

Kim Sun Ho terlahir dari keluarga Kim saat ulang tahun Partai Komunis Korea, 10 Oktober 1975, saat itu perang dingin sedang berada di puncaknya. Kelahiran Sun Ho sekaligus juga dimeriahkan oleh semua rakya Korea Utara, bendera merah, parade militer, musik heroik dan puluhan kamerad bertebaran di sepanjang 5 menit pertama. Komunis berjaya dan jadi model impian ke masa depan, masyarakat tanpa kelas. Mengagumkan penggambaran sang sutradara, An Pan-seok, tentang suasana Korea Utara saat itu. Pemakaian warna film sephia pada visual pemerintahan komunis membedakan antara Sun Ho-masyarakat komunis, keluarga-negara, ideologi partai-praksis keseharian. Semua nampak dengan jelas. An Pan-seok membawa pembedaan itu pada satu titik, kematian Kim Jong Il, tiran komunis, yang ditangisi oleh keluarga Kim. Setelah itu mulailah keluarga Kim menerima beberapa pucuk surat dari keluarga buyutnya yang lain dari selatan. Keluarga yang terpisah oleh Perang Korea berusaha saling melepas rindu “Father, Father, where are you“ seru Kim di tepian sungai pembatas kedua negara. Justru disini awal malapetaka terjadi.

Agen rahasia yang mengendus keberadaan surat mulai mengarahkan hidungnya ke keluarga Kim. An Pan-seok tak menampilkan sosok agen seram ini, tapi berupa ketakutan dan kecemasan yang diperkuat, seolah berhadapan dengan horor yang samar-samar diketahui wujudnya, tapi nyata kejamnya. Mereka panik, takut akan kematian karena berhubungan dengan selatan. Sun Ho yang bekerja sebagai anggota orkestra pun tak bisa meniup hornn dengan sempurna saat memainkan Mozart no.9 disuatu latihan. Tak hanya karena kematian, Sun Ho juga takut melepaskan Lee Yeon Hwa, pacarnya sekaligus tunangannya untuk lari ke selatan. Kenangan manis yang dibangun dari hari ke hari menjadi beban berat bagi Sun Ho. Seakan tinggi dan besar badannya, berkontradiksi dengan pemalu, peragu dan gugupnya bila bertemu masalah pelik.

Yeon Hwa yang bekerja sebagai pandu komunis selalu bertemu dengan Sun Ho di museum perjuangan yang dipenuhi propoganda komunis. Mural, bendera, parade, lukisan yang menjadi isi perut museum menjadi saksi bisu asmara yang berkobar-kobar dari dua orang lajang ini. Mereka tak peduli lagi dengan ideology. Lalu semua berlanjut di taman, kereta gunung, bolang-baling, kereta dorong dan jutaan ciuman gagap antara dua orang anak komunis. Menggelikan melihat cara mereka ciuman, kaku dan gugup, stereotipe pemula yang hendak ditunjukkan An Pan-seok.. Saya baru tahu di Korea Utara ternyata ada juga taman permainan semacam Dufan. Pada film, tempat itu dilukiskan penuh dengan orang-orang, permainan dan pasangan sedang mabuk asmara (dengan diiringi lagu barat yang mendayu-dayu).. Setelah adegan panggung teater Perang Korea (yang tentunya dikalim dimenangkan oleh komunis) yang gegap gempita, visual kedigdayaan komunis perlahan-lahan menghilang dari film. Agaknya sutradara berusaha menjaga jarak dengan isu-isu politis antar kedua negara Sesekali muncul hanya mode-mode seragam kelabu yang membosankan oleh kamerad dari utara. Saya jadi teringat oleh seorang kawan berkelakar “Kamu tahu, rejim yang anti-demokrasi itu selalu membenci warna-warni, mereka pecinta warna seragam. Bagi mereka, warna-warni jadi semacam sirkus-pasar-selera para pecundang, tapi bagi warna seragam itu seperti tekad dan berkelas”

Pada saat melintasi perabatasan, tak jelas keluarga Kim ada dimana. Hanya diperlihatkan mereka melewati penjagaan tentara yang ketat, melintasi bukit dan gunung, lalu menyeberangi sungai saat hujan. Hidup yang tak mudah bagi keluarga Kim. Lalu nasib mereka berakhir di Kedubes Jerman yang memberikan suaka politik. Untuk itu pun mereka harus berjibaku melawan petugas kemanan komunis yang berjaga di depan kedubes. Sesampainya di selatan, Seoul tepatnya, mulailah keluarga membangun dari nol. Hubungan kekerabatan dengan keluarga buyut memudahkan akses mereka ke banyak tempat. Kerinduan yang mendalam karena terpisahkan bertahun-tahun lamanya mebuncah saat keluarga besar berkumpul menangisi kakek buyut yang telah lama tiada. Meninggalkan hal yang lama, bukan berarti bergembira dengan hal baru, tidak dengan Sun Ho. Hidupnya adalah untuk Yun Hwa, satu-satunya alasan dia pergi ke selatan adalah dia “I promise you to sent somebody to north” yakinkan Yeon Hwa.

Satu persatu keluarga berubah, Kim menjadi pemabuk, mengaku sebagai Kim Jong Il ke mana-mana, Gwang Nam (ipar Sun Ho) dan Kim Sun Ae (kakak perempuan Sun Ho) merintis membuka restoran dan Sun Ho sendiri terpaku dengan kerinduannya. Semua pekerjaan dan hatinya diarahkan untuk membawa Yeon Hwa ke selatan. Pekerjaan sebagai sales sampai pengkhotbah agama pun dilakukan, semata-mata demi membayar seorang makelar yang berjanji akan membawa Yeon Hwa ke selatan. Naas Sun Ho ditipu. Bagi An Pan-seok, harga kerinduan sedemikian mahalnya. Putus asa membawa dia pergi ke kenangan manis masa lalu “You have to rest” cemas Sun Ae. Sun Ho berlari pada pekerjaan untuk melupakan Yun Hwa yang kabarnya telah menikah.

Perkenalan Sun Ho pada serang perempuan selatan kembali memcerahkan hatinya.walau masih saja terbalut oleh kenangan masa lalu. Puncaknya dengan dibukanya restoran bergaya utara, dengan Kim Jong Il sebgai maskotnya. Itu menjadi sumber promosi yang ampuh di tivi. Kenangan menjadi lahan bisnis baru bagi eksil dari utara. Di restoran itu berkumpul puluhan orang tiap harinya, untuk sekejab mengenang masa lalu di utara, tanpa harus kembali lagi. Karena tivi itu jugalah, Yeon Hwa yang melarikan diri juga dari utara bisa bertemu kembali dengan Sun Ho. Mereka bersatu, mengenangkan janji-janji di masa lalu sekaligus Sun Ho jadi guru yang baik untu mengajarkan adaptasi dengan kultur budaya selatan “It’s not bad” ujar Yeon Hwa pada burger McDonald yang dikunyahnya. Dia merasakan hal baru yang belum pernah dirasakan di utara. Kasmaran dan gairah asmara seperti di utara pun terulang lagi. Segalanya di utara yang serba seragam, menjadi banyak pilihan di selatan, termasuk urusan cinta pun.

Semua menjadi rumit karena Yeon Hwa tahu Sun Ho sudah berkeluarga, itupun dia tahu dari tivi. Sakit, sama sakitnya ketika Sun Ho mengira Yeon Hwa berkeluarga. Padahal ternyata pernikahan itu batal. Batu, pasir dan tangis pun dilempar Yeon Hwa di tepi jalanan besar Seoul. Saling menjauh tapi mendekat, saling menyumpah tapi merajuk, saling membenci tapi merindukan “I’ll be your mistress” sendu Yeon Hwa. Perjumpaan dengan istri Sun Ho (saya tak tahu jelas siapa namanya-asal usulnya juga, sepertinya lemahnya tokoh ini seakan tak bisa menggantikan sosok Yeon Hwa di hati Sun Ho) mendidihkan api cemburu pada Yeon Hwa, sekaligus kekaguman akan kemilau hati istri Sun Ho. Hatinya pedih dan terasing di kota yang seharusnya dia bergembira. Kedua orang yang kasmaran itu mulai saling melupakan kerinduan dan cinta yang jadi janji-janji dahulu. Semua cinta adalah kenangan, yang berbingkai disenyapnya Seoul yang membeku diselimuti salju.

Yogyakarta, Desember 2006




ReviewReviewReviewReviewForum BengkarungDec 14, '06 12:55 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Yudhistira ANM Massardi
Metafor – Metafor Pembangunan

Judul : Forum Bengkarung
Pengarang : Yudhistira ANM Massardi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : 1994
Tebal : 154 halaman

Era tahun 80-90an sungguhlah berat menjadi pewarta berita. Sana-sini dibungkam senapan, maklum rejim saat itu anti perbedaaan pendapat, cinta keseragaman dan seragamisasi. Saat itu, semua informasi dikendalikan Departemen Penerangan. Sungguh hebat, seperti rejim Nazi dengan Department of Propoganda-nya. Semua lewat satu mulut, satu interpertasi dan satu ideologi. Cerita suram tentang Orde Baru. Saat krisis panjang itulah Puisi mBeling menyeruak jagad satra yang mapan oleh tokoh-tokoh besar pada jamannya, Goenawan Muhammad, Taufik Ismail dan Rendra (saya mengutip Sapardi). Punya misi yang sama dengan para seniornya, tapi sebagai tandingan dari yang telah mapan. Massardi pionirnya, parodi andalannya, pewarta berita pekerjaannya.

Saya membeli buku ini sudah lama, awal penerbitan tahun 1994, saat SMA. Beberapa kawan berkomentar “Wah, cover kuning-ijo-merah itu tendensius sekali hahahaha”. Benar, ini hal yang sama terjadi salah satu cerpen Massardi “Jurkamin”, sosok kepala keluarga yang kalah pemilihan lurah, jatuh miskin, lalu berkelana menjual obat murahan berwujud pil warna ijo-merah-kuning. Karena warna pil yang mirip parpol berkuasa saat itulah, Jurkamin sekeluarga digelandang dan diinterogasi di Pos. disangka subversif. Pil pun melayang ditangan petugas pos. Saya berpikir, ketika saat itu Massardi benar-benar menuding lurus-lurus merah-ijo-kuning pasti dia akan digelandang juga. Untung, cover buku di depan hanya tersamarkan bergambar kadal merah-ijo-kuning.

‘Airnya yang dangkal dan hitam legam, sepanjang hari tak pernah mengalir’ deskripsi lugas dan detail dari Massardi dari cerpen ‘Jembatan Ji’ung’. Bercerita tentang situasi Jembatan Ji’ung (Haji Ung) yang selalu macet karena adanya pasar tiban masyarakat bawah. Tentunya lapak yang berderetan di trotoar menambah ruwet bagi pengguna jalan tersebut. Tokoh ‘aku’ sepertinya merupakan representasi dari Massardi untuk menggambarkan pandangannya terhadap Jakarta dan kota metropolitan lainnya. Dia mendahului para arsitek dan planologi berbicara tentang perkotaan. Sebagai wartawan (pernah bekerja di majalah Lelaki, Tempo, Jakarta Jakarta, Editor dan HumOr) Massardi selalu dituntut untuk melaporkan apa yang dilihat, tapi sekaligus juga tak kehilangan nalarnya “Menggusur mereka (lapak) belum tentu bisa mengatasi keruwetan” tulisnya. Sebagai seorang wartawan, diluar kapasitasnya untuk bisa memberikan solusi, seperti yang diserukan kaum antikritik ketika diterpa kritik, tapi Massardi menjadi corong bagi yang tersingkirkan oleh pembangunan. Tentunya lewat sastra, entah apa dia bisa lewat media koran saat itu?

Tak ada kesempatan bagi koran untuk bermetafor ria seperti yang umumnya terjadi pada sastra. Koran selalu lugas, berdasarkan fakta dan wawancara (toh, tergantung pula berita apa dan siapa yang diwawancara). Rasanya saat itu koran jadi hambar dan monoton. Di sela-sela kehambaran ini, Massardi mengambil celah antara imajinasi-subjektif dan relistis-objektif “Pagi itu tak begitu indah. Meskipun terang, langit masam saja”. Celah-celah ini selalu menjadi permainan Massardi. Dengan mudahnya dia memlintirkan banyak cerita, menjadi kejutan, tak memunculkan sebab-akibat dari suatu kejadian (Gosong), mengejek kecenderungan para politisi (Jurdil), maupun tiba-tiba bisa menceritakan mimpi kebanyakan warga perkotaan (Mahkota Emas) “Sedang Ken Arok, kabarnya ia sudah membuka warung musik di Bandung. Tubuhnya masih sangat gendut”. Kita tak akan pernah tahu dimana Massardi berniat akan berbelok maupun berhenti.

Kredo puisi mbeling yang bermain sekenanya, menusuk kemapanan, menjadi benih hidup di tangan Massardi. Tak perlu susah payah dia melogiskan cerita, tapi cukup menalarkan. Seperti ‘Forum Bengkarung’, yang bercerita tentang sebuah forum para kadal yang awalnya bersepakat tentang membahas persoalan lingkungan lingkungan mereka tinggal, tetapi akhirnya menjadi ajang legitimasi beberapa kadal untuk berkuasa dan berkoar. Forum terpecah, memunculkan forum lain sejenis berdasarkan spesiesnya. Dunia vertebrata diambang perang sipil. Parodi kekuasaan berwajah kadal, mengatasanamakan rakyat, untuk menyingkirkan rakyat demi kekuasaan. Seperti juga pada ‘Monaris’ yang memerlihatkan satire Massardi pada perampokan. Monaris merampok demi mengentaskan kemiskinan. Ibarat sinterklas yang membawa uang dan menghamburkan di mulut-mulut yang lapar “Aku sungguh tak habis pikir. Mengapa kau bagitu percaya kepada dongeng, Monaris”. Perampokan, jalan cepat menjadi mapan dengan instan, sepertinya kecenderungan untuk menyelesaikan masalah dengan jalan pintas selalu ada saja.

Tak mudah untuk membangun empatik seperti pada ‘Rumput-rumput Liar’ saat kondisi paruh waktu 80-90an yang bersensor ketat. Dengan emosi tertahan, cerpen itu bercerita detik demi detik penggusuran yang menimpa keluarga Sadermo. Massardi bisa menangkap perasaan dan suasana hati para korban “Bagi Sadermo, rumah dan tanah itu tidak cuma berarti sebagai harta warisan dari orangtua. Itu juga dianggapnya sebagai simbol dari keberhasilan perjuangan panjang kaumnya di Jakarta. Itu adalah sebuah monumen, yang dibangun dengan tetesan keringat sendiri”. Ada kalanya dia bergerak jauh di ranah jurnalismenya. Tapi tak membosankan karena Massardi punya cara memikat untuk membawa semua sampai pada kita, lalu mengguncang kesadaran kita. Toh, kadang itu hanya cerita kecil macam ‘Lelaki di Kali Bekasi’.

Perhatiannya pada peristiwa besar seperti perang Irak tak luput dari parodinya, seperti ‘Paman Saddam’ yang bercerita seorang warga bernama Paman Sadam, yang terobesi pada suatu nama : Saddam Husein, penjagal dari delta Sungai Tigris. Setiap kali ada suatu bangunan publik baru, maka selalu saja diimbuhi dengan label Sadam Husein. Suasana perang Irak yang hiruk-pikuk tiba-tiba berpindah pada semangat pembangunanisme gaya Orde Baru. Cerdiknya, Massardi bisa menangkap pertanda bahwa kekuasaan memerlukan monumen untuk mempertahankan kedigdayaannya. Saya masih ingat, berita besar di koran ketika nama seorang presiden pada masa Orde Baru didaulat menjadi nama sebuah bangunan ibadah di dataran Balkan karena sang presiden tersebut berbaik hati menumbang banyak pajak rakyat Indonesia untuk pembangunannya. Demikian juga Paman Sadam bersemangat membangun pelabelan seperti ini.

Metafor Massardi bekerja, hanya perlu bergerak dari satu nalar ke nalar lain dengan parodi yang satire maupun jenaka Sungguh celaka bagi orang yang tak peka seni, seperti sosok Joi-Cus pada cerpen ‘Joi-Cus’, tentunya dia akan membabat habis parodi serampangan ini. Ketika ekspresi dipasung, tentunya kita akan bertanya : Apa yang terjadi disini ? Ranah jurnalistik yang telah terkekang oleh beragam kepentingan kekuasaan lewat permainan wacana akan menjadi tempat yang tak bisa dipercaya. Mana yang benar ? Inikah yang terjadi ? Lonceng kematian pun berdentang. Kali ini, Massardi ada dibarisan yang melawan kemapanan.

Yogyakarta, Desember 2006



ReviewReviewReviewReviewReviewEve and The Fire HorseDec 12, '06 9:21 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Tuhan, Agama-Mu Apa ?

Judul : Eve and The Fire Horse
Sutradara : Julia Kwan
Pemain : Phoebe Jojo Kut, Hollia Lo, Vivian Wu, Chan Chit Lester
Produksi : Mongrel Media, Canada
Tahun : 2005

Cover dari film ini menarik perhatian saya, melukiskan seorang anak yang melayang di dalam air, ditemani seekor kuda berwarna biru tua. Berbeda dengan cover dvd film Asia lainnya yang saya liat, melulu berisi aktris-aktor cantik dengan huruf norak dan warna amburadul merusak mata. Suatu spekulasi ketika saya merogoh 3000 rupiah untuk merental dvd, lalu meluangkan waktu sekitar 1 jam 10 menit untuk menonton film ini. Melihat para aktor-aktris yang terlibat, sepintas ini merupakan film Asia, entah Hongkong atau Korea. Saya melihat nama sutradara, Julia Kwan yang berbau Asia, Julia = barat, Kwan = nama keluarga. Sepertinya si sutradara lahir paska tahun 70-an. Saat itu dimulainya era membaratkan nama-nama Asia.

Film dibuka dengan permainan bocah perempuan, semacam tepuk tangan di sini. Eve (Phoebe Jojo Kut) dan Karena (Hollia Lo) melanturkan kata-kata benda beraksen inggris-amerika dengan fasih, berbanding dengan bocah asia pada umumnya pada saat itu. Lalu beralihlah adegan di dalam rumah. Ada altar persembahan, keluarga cina dan bahasa mandarin yang bersliweran di sepanjang 5 menit pertama. Dalam film itu diceritakan bahwa keluarga Frank (Chan Chit Man Lester) dan May Lin (Vivian Wu) merupakan perantauan Cina yang pindah ke Vancouver, Canada pada tahun 60-an. Keluarga itu hidup bersama dengan Grandma (Ping Bung Wong), ibu Frank, seperti lazimnya keluarga Asia lainnya.

May Lin hamil 3 bulan. Perutnya belum begitu membuncit ketika dia memaksa diri untuk memotong pohon apel di halaman rumah. Kewajiban yang harus dilakukan oleh perempuan cina menjelang hamil mudanya, pohon yang ditanam pada kelahiran anak sebelumnya harus dibabat lagi demi anak yang akan lahir. Bagi orang cina, hal itu akan membawakan kebaikan dan keberuntungan bagi si anak kelak. Keruan tindakan itu memicu keheranan para tetangga “Why your mother don’t ask a lumberjack to cut that apple trees ?’ kata seorang kawan Eve keheranan. Keberuntungan ini yang membuat orang-orang cina dahulu kala membunuh para bayi yang lahir pada tahun kuda api (fire horse) dengan membenamkan bayi-bayi malang itu dalam sungai. Dengan meluruhkan nyawa bayi kuda api ke sungai, peruntungan ke depan akan lebih cerah. Darah telah ditebus dengan nyawa. Eve lahir pada tahun kuda api ini. Dia tahu tentang kisah ini, tapi tak pernah mengerti arti keberuntungan.

Pengaruh Grandma sangat besar pada kehidupan Eve, mereka dekat. Mulai dari menyasak rambut, menyiapkan makanan sampai Eve fasih bahasa mandarin karena dia. Grandma, penganut Konfucian, tak pelak lagi menularkan pengaruhnya pada pemikiran Eve, mulai dari reinkarnasi, uang kematian, pepatah cina, roh-roh leluhur dan dewa-dewi dalam rumah. Perjumpaan pertama pada budaya leluhur, membawa dewa-dewi rumah ke dalam kelas sekolah. Bersemangat, Eve bercerita tentang dewa-dewi Konfucian, yang tiap paginya selalu disediakan dupa dan tiga cangkir air oleh Grandma “The God an Goddess always thirsty” ujarnya. Patung-patung yang disejajarkan di depan kelas ditanggapi nyinyir oleh guru dalam kelas “Very exotic”. Keyakinan yang berbeda dianggap suatu hal yang ‘asing, menarik dan estetik’. Kritik Kwan singkat dan tajam pada masyarakat multikultur.

Saat ulang tahun Grandma, bibi Eight (Shirley Ng) membuatkan semangkok mie panjang umur baginya. Tradisi cina untuk mendoakan sesepuh dalam keluarga mereka untuk kesehatan dan umur panjang. Dalam makan bersama itu, tidak diijinkan untuk menghamburkan kata-kata buruk sepatah pun jika tak ingin satu tahun ke depan bernasib sial terus-menerus. Kenyatannya, Paman Eight (Joseph Shiu Kin Hing) tersedak dan hampir mati karena mie panjang umur ini. Maka kemalangan pun terus melanda keluarga ini. May Lin keguguran, tak berapa lama Grandma meninggal. Menyisakan tangis pada keluarga Frank dan Eight. Hanya Eve, si lembut hati dan penakut, yang tak menangis “You don’t love Grandma !” tuduh Karena. Keras dan menohok hati. Eve meraung-raung ke ibunya “Is Grandma reincarnation to a goldfish?” isaknya. Sang ibu pun memberikan seekor ikan goldfish untuk memuaskan rasa penasaran Eve.

Sosok Karena, si sulung yang keras hati dan pemimpin, menjadi pelita bagi Eve dalam setiap kesulitannya setelah Grandma tiada. Seringkali Karena jadi mulut Eve ketika dia takut berbicara atau tak segan Karena menghardiknya karena berbuat suatu hal yang salah. Seperti domba saja, ketika Eve dengan patuhnya mengikuti Karena pergi ke sekolah minggu yang diadakan gereja setempat hanya karena Karena mendapatkan sebuah buku tentang Yesus dari seseorang yang datang bak salesman “This book is a gift”. Mereka belajar tentang Yesus. Bernyanyi, membaca kitab suci dan berbicara tentang kuasaNya. Bahkan Karena mengulang seperti yang Eva lakukan, dia berdiri di depan kelas bercerita tentang Yesus sebagai bagian dari tugas membaca bukunya. Dengan menginterpertasi kitab suci kata-perkata, Karena berubah menjadi tekstual, Karena ini juga dia menolak mentah-mentah menghormati para dewa-dewi rumah “That’s sin!” serunya. Keluarga itu pun goncang. Merembet pada Eve yang mulai bimbang.

Yesus mengajarkan penebusan, Konfusian berbicara tentang reinkarnasi. Konfusian bicara keberuntungan, Yesus mengajarkan mukjizat. Yesus mengajarkan tentang api peyucian, Konfusian berbicara roh leluhur yang masih tinggal di sekitar kita selama 7 hari (mirip Kejawen?). Ketika Karena bicara tentang kitab suci yang menyelamatkan dari kematian, Eve berkhayal menambahinya sayap untuk pergi ke langit. Kwan membenturkan yang lama dengan yang baru dalam keluarga ini. Ibarat antropolog, Kwan membuat interpertasi yang lain tentang konflik ini “If one God good in this home, how about two ? That’s more safety” tangkas May Lin berbinar. Karena pun didukung menjadi katolik, sedangkan May Lin sendiri menjadi buddha. Setelah memborong pernik-pernik religi masing-masing agama tersebut, semua dikumpulkan dalam satu altar persembahan. Jadilah Yesus, Buddha dan Konfusian dalam satu rumah. “Are Yesus and Buddha friendship ?” Tanya Eve pada May Lin, maminya (Eve memanggil mama untuk nenek dan mami untuk ibu).

Imaji Kwan memikat, ketika menyajikan adegan Yesus dan Buddha yang berdansa dengan Eve pada cahaya temaram. Sepertinya Eve, ibaratnya seorang bocah, hanya bisa berbicara lewat imaji atas konflik dalam batinnya. Demikian ketika Dewi Kwan Im tiba-tiba hadir di depan Eve, berbicara layaknya seorang kerabat dekat. Simbol agama tergambar dengan humor yang tak sarkasme, tetapi melalui sosok Eve, semua menjadi cerdas dan menggelitik. Bukan suatu kebetulan juga ketika Kwan memakai nama Eve, si pendosa dari Firdaus, sebanding dengan kelahirannya di tahun kuda api yang penuh kesialan. Eve adalah sosok yang penuh sial “Am I a sinner ?” berulangkali bocah perempuan itu mempersalahkan dirinya sendiri.

Ketika belum dibabtis, maka orang masihlah terkutuk, demikian yang ditangkap Karena dari pelajaran sekolah minggunya. Tahun kuda api pun menuntut nyawa suatu penebusan dosa dari tiap bayi yang lahir pada saat itu. Kwan ingin membuat solusi yang melepaskan kedua bocah itu dari himpitan konflik (Saya kira ini sebagai prasyarat ending film, mengingat di akhir film diketahui keterlibatan Department of Multikulturalism Canada. Katakanlah semacan film propaganda yang indah. Mirip dengan puluhan film Yahudi paska perang Dunia II). Bak air beisi seetengahnya, mewakili pembabtisan katolik, sekaligus juga mewakili ritual kuno pembenam bayi kuda api dalam sungai. Eve pun di tenggelamkan ke dalamnya oleh Karena, tak seincipun boleh bergera “It doesn’t matter if I die or life…” ujar Eve.

Berpindah saat pembabtisan Karena masuk katolik. Seluruh keluarga Frank dan Eight hadir merestui. Rona bahagia terpancar dari roman Karena, demikian pula Eve, walau dia tidak dibabtis. Kedua bocah itu merumuskan sendiri keberuntungannya. “I don’t see face of Jesus or Buddha or neither of them. I just see an inner light in the river” kilas Eve menjelang ‘kematiannya’ dalam bak. Karena terbang terbebaskan, kutukan Eve pun luruh dalam sungai. Sekarang, mereka telah menjadi manusia baru yang bebas dari kutukan dan ketidakberuntungan. Tradisi tanah leluhur dan peradaban tanah baru hidup bersama dan menyatu. Satu persoalan selesai, tetapi tidak dengan persoalan rasial yang menyeruak di sela-sela film. Kwan telah menyuguhkan satu potret generasi perantau keluarga cina yang dikenal adaptif terhadap perubahan, sekaligus rentan terhadap persoalan rasial.

Yogyakarta, Desember 2006


ReviewReviewReviewReviewReviewThe Tiger and The SnowDec 10, '06 1:54 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Salju di Medan Perang

Nama : The Tiger and The Snow
Sutradara : Roberto Benigni
Pemain : Roberto Benigni, Nicolesta Brasci, Jan Reno
Produksi : Focus Film, Italia
Tahun : 2005

Film cinta; apakah yang anda bayangkan untuk itu ? Bunga, lilin, puisi cinta, pernikahan, dinner dan seabrek imaji-imaji lain, yang tentunya berdasar apa yang dilihat. Atau mungkin semacam sinetron atau film-film cinta kapiran Indonesia, menggelembungkan harta, kekerasan, pencabulan bahkan setan-setanan. Tak ada yang baru disana. Tetapi, Benigni, setelah Life is Beautiful, menawarkan suatu hal yang berbeda : film cinta di tengah perang yang tak berdarah-darah dan bertebaran mesiu. Ya, kali ini dia berbicara Perang Irak yang masih berlangsung dengan The Tiger and The Snow. Sebenarnya The Tiger and The Snow adalah suatu legenda Tibet, yang konon, disana salju muncul bersamaan dengan datangnya harimau dari Himalaya. Lalu cuaca sekejab berubah menjadi lebih dingin dan putih. Salju menjadi pokok dari film ini. Salju, bagi orang Eropa menggambarkan perasaan kebahagiaan menjelang musim dingin yang akan datang. Akan banyak waktu untuk keluarga pada saat musim ini. Banyak cinta yang berkembang di ranjang-ranjang yang hangat.

Film dibuka dengan prosesi pernikahan. Sebuah bangunan tua, kwartet musik, altar pernikahan dan tak lupa segenap keluarga yang hadir. Tak lazimnya, upacara itu malam hari. Lalu tiba-tiba Attiolio de Giovanni (Roberto Benigni) celingukan masuk ke dalam acara. Sialnya dia memakai pakaian tidur putih. Kontras dengan jas dan gaun yang berjajar rapi malam itu. Dengan langkah ragu, dia menuju altar suci. Ganjil benar, melihat pasangan pernikahannya, Vittorio (Nicolestu Brasci), datang mengenakan gaun indah putih. Jadilah pasangan terberkati itu berpakaian tidur putih, lalu satunya bergaun indah putih. Menjelang pemberkatan, mempelai perempuan pun bersajak blablabla lalu scene terputus, berganti adegan masa kini. Rupanya mimpi.

Mimpi ini menghiasi seluruh film The Tiger and The Snow. Selalu sama: pemberkatan pernikahan-pengantin perempuan yang mencerocos lalu terputus. Tak pernah selesai dan selalu berulang. Mimpi yang menghiasi lelapnya Attilio “I’m still dream of our wedding every sleep” akunya pada Vittorio. Bagi Benigni, mimpi menjadi penting, menjadi penghubung antara kenyataan dan harapan, sebab film ini pun berbicara tentang harapan, yaitu cinta. Mimpi adalah jembatan, semacam pertanda buat ke depan. Benigni menyitir secara jenaka analisa-analisa Freud tentang mimpi pada beberapa dialognya, pertanda munculnya hewan-hewan. Bahkan dalam satu mimpinya, Vittorio ternyata seekor kangguru yang mau tidak mau harus dicium oleh Attilio. Bersusah payah Attilio meyakinkan bahwa dia sangat mencintai Vittorio, sekaligus merupakan pasangan yang pas buat dia. Tetapi bagi Vittorio, persoalan cinta bukan sekedar suka sama suka, tetapi bisakah aku berbagi hidup dengan dia ? Attilio yang kikuk, selalu lupa dimana memarkir mobilnya, bersanding dengan Vittorio yang tenang dan anggun “I can’t live with him” ujar Vittorio.

Cinta pulalah yang membawa Attilio pergi ke Baghdad, Irak, manakala mendengar Fuad (Jan Reno) mengabarkan bahwa Vittorio terluka karena bom. Fuad adalah sahabat Attilio dan Vittorio. Seorang penyair, sesama kolega Attilio, berdarah Irak yang lari dari rezim Saddam Husein selama 13 tahun. Ketika Saddam jatuh, dia memutuskan kembali ke Irak. Lalu Vittorio menyusul. Benigni pada titik ini memulai satire demi satire yang menohok, sekaligus menertawakan kekuasaan paska perang Irak. Dimulai dengan Attilio yang terpaksa menyaru sebagai dokter gadungan untuk masuk Irak, lalu dia mengemudikan bis bobrok yang mogok di bawah Monumen Revolusi Kemerdekaan Baghdad, tempat Saddam dulu memamerkan kekuasannya. Ini menjadi tanda penting pada film untuk memulai babak baru, situasi di Irak yang sepi, sekaligus mencekam. Sepinya jalan-jalan di Baghdad menunjukkan tak jelas siapa yang berkuasa disana, entah maling, Saddam, Amerika atau yang lain ?

Rumah sakit tempat Vittorio dirawat pun menyedihkan. Tak ada obat sama sekali, hanya seorang dokter dan beberapa perawat disana, dan plus maling-maling yang berkeliaran mencuri barang dari pasien (mirip di Indonesia?). Kontras dengan graffiti gagahnya Sadam yang begitu besar mendominasi lorong rumah sakit. Bersama Fuad, Attilio mencari obat di segenap pelosok Baghdad. Kondisi perang, membuat banyak toko obat tutup. Tragisnya ketika mereka berkeliaran di pasar malah menemukan helm motor, peralatan selam dan kursi potong rambut, yang ‘Made in Western’. Barang remeh temeh pulalah yang beredar di pasaran. Atas bantuan kawan Fuad, maka dibuatlah obat-obatan yang berasal dari bahan lokal. Sembari obat masuk dalam tubuh Vittorio, menyerocoslah Attilio. Pekerjaannya sebagai dosen dan penyair memudahkan dia untuk merayu, berbicara mendayu-dayu bahkan memaksa Vitorio untuk tunduk. Semua kegilaan Attilio seolah semakin menjadi-jadi ketika dia jam demi jam hanya melihat Vitoorio terdiam. Ya, memang Vittorio koma dan terancam mati. Benigni ingin memperlihatkan Attilio sebagai tokoh yang biasa, bahkan tak kharismatik lagi ketika dia dengan paniknya memborong semua jarahan toko dari seorang pencuri. Barang jarahan itu lalu ditata dalam kamar rumah sakit selayaknya rumah. Attilio menemukan sebuah raket pengusir nyamuk, dia menamakan itu ‘massive wapon’. Suatu kali, atas saran Fuad, Attilio mulai berdoa pada Allah “Is Allah understand Italians ?” sindiran terhadap baju agama yang dipakai dalam tiap pertentangan kepentingan politik.

Sama paniknya dengan para tentara Amerika, penguasa Baghdad, yang menodong jidat Attilio ketika dia membawa berkarung-karung peralatan medis dari Italian Red Cross. Seruan “I’m Italian. I’m Italian” pun tak berguna-tak bisa meyakinkan para tentara yang kalap itu. Padahal jelas bahwa Attilio sanggup berbahasa Inggris dan punya warna kulit berbeda. Kali pertama Attilio lolos, kali kedua dia tertangkap dan dijebloskan di penjara tak beratap. Berjam-jam dia berseru-seru “I’m Italian, I’m Italian” tanpa tentara Amerika peduli pun. Sepertinya, para Amerika pun sudah tak bisa membedakan lagi warna kulit, antara manusia dan sebutir peluru. Kekerasan demi kekerasan, menjadikan Fuad putus asa, lalu dia gantung diri di rumah indahnya. Seorang Fuad yang berhati lembut, berharap ada perubahan yang nyata ketika Saddam jatuh, tapi menemukan tanah kelahirannya berdarah-darah manjadi rebutan kekuasaan. Orang-orang biasa seperti dia yang menjadi korbannya. Suatu kali, dia bertemu Attilio di bawah patung Sadamg yang tak berkepala “Sky of Baghdad is the most beautiful sky in the world” sembari jarinya menuding langit Baghdad yang berkerlap-kerlip karena rudal dan mortis yang tertumpah.

Roma menjelang musim dingin menjadi penutup akhir film, bukan Baghdad seperti yang saya duga. Benigni setia pada teks, bahwa ini adalah film cinta, murni antara dua pasang manusia, terbebas dari kepentingan apapun. Maka dia menarik diri dari hiruk pikuknya mesiu dan mesin perang. Saya rasa, Benigni seperti menarik garis penghubung dengan warna-warna hangatnya di tiap adegan, atau pemilihan lokasinya yang personal dan penuh kejutan, di plasa, bawah tangga, courtyard rumah Fuad, lorong kota. Fuad mati, Attilio bebas dari penjara imigrasi dan Vittorio kembali sehat. Akhir yang bahagia. Kejutannya ialah Vittorio ternyata mantan istri Attilio. Saya pun bergumam, jadi selama ini saya menonton polah seorang suami yang berusaha meyakinkan mantan istrinya bahwa sebenarnya mereka masih saling cinta?

Yogyakarta, Desember 2006



ReviewReviewReviewFilosofi KopiDec 8, '06 5:03 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Dewi Lestari
Secangkir Kopi, Penawar Sepi

Judul : Filosofi Kopi
Pengarang : Dewi Lestari
Penerbit : Truedee Books dan Gagas Media, Jakarta
Tahun : 2006

Saya bukan penggemar novel yang dibuat pada setelah tahun 2000an, fokus yang saya baca adalah tahun 70-90an. Novel yang membikin untuk berhenti sejenak melongok yang telah terjadi. Tapi karena seorang kawan baik ber-getok ular (promosi dari mulut ke mulut) memperkenalkan novel ini pada saya, maka terjebaklah saya pada keasyikan di pagi hari mengaitkan larik demi lariknya. Demikian tulisan ini, saya sembahkan buat seorang kawan baik tersebut.
+++
“Ku dan aku mengembuskan napas. Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun diam itu telah runtuh oleh diam.”

Terbaca ritmik, seperti sebuah prosa lirik, seperti Linus dalam “Pengakuan Pariyem’-nya. Tapi Dee bukan Linus, Dee adalah wajah masa kini sastra Indonesia. Yang semarak tumbuh paska tahun 200an. Saya masih ingat, ketika dia mempromosikan novel pertamanya “Supernova” lewat webnya yang manis dan promo tour yang cantik. Bermain piano-menyanyi-tanpa lelah bercerita tentang novelnya. Suatu hal yang baru, setelah era Orde Baru yang membungkam sastra Indonesia di titik nadirnya. Sastrawan menjadi gagap dengan ujung tombak dagang : pemasaran. Kala itu saya datang bersama kawan, lalu kawan-kawan lain, yang umumnya muda, membludak melihat Dee-meraba Dee-mendengarkan merdunya-bersemut menanti tanda tangan Dee (termasuk saya hehe). Bakat dia sebagai pemusik dan penyanyi, dalam Rida Sita Dewi turut membantu promosinya. Setelah Dee, banyak yang meniru, X+1 kata orang. Hadirnya Dee adalah suatu permulaan yang baru.

Seperti kecenderungan Dee pada novel awalnya, Supernova, sulit bagi Dee untuk melepaskan dari bahasa essai, menyorok ke refleksi batiniah, jauh ke dalam pikirannya “Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya”. Absurd. Selalu merujuk pada benda-benda keseharian untuk mengungkapkan pikirannya “Waktu saya menyikat gigi, saya tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat gigi. Dunia saya mendadak sempit…”. Salah satu judulnya pun menarik perhatian : “Sikat Gigi”, menggelitik para pembacanya. Sebegitu pentingkah sikat gigi diceritakan disini ? Membuang jutaan rupiah untuk mencetak buku dengan cerita ini ? Tapi inilah Dee, dengan kesehariannya. Tak berhenti di-sikat gigi- tapi Dee bermetafora dengan langit-cuaca-kecoak-dapur-kuda-angin-dll dari apa yang dia lihat sampai yang dia rasakan. Dia menulis ulang perasannya pada kata-kata. Terasa detail “Mata yang merawang jauh, kaki yang meringkuk, napas yang mulai ditarik-ulur”.

Metafora yang dipilih pun sesuatu modern, mobil-jendela-hujan, suatu alam dunia yang tiap harinya memenuhi benak kita. Bisa dikatakan Dee berusaha melepaskan ikatan dengan budaya sunda, tanah kelahirannya, lalu menuju ke modernitas urban kota Bandung. Mewakili jamannya sekarang. Dalam Filosofi Kopi pun, dikisahkan suatu tempat mengopi di sudut kota besar yang merupakan tempat pertemuan-perpisahan antar manusia, tempat ambisi, cita-cita dan pesona bertemu. Saya pun bertanya-tanya, kenapa Dee tak memilih warung kopi di pasar misalnya, untuk cerita itu? Atau warung kopi di lapak jalanan ? Kuncinya, Dee ingin berbicara tentang penyakit orang-orang kota disekelilingnya : kesepian.

Mungkin kesepian karena pasangan yang dingin-cinta yang tak kunjung bersemi-imaji menjadi orang bebas merdeka dari rutinitas-atau bahkan kungkungan ksesuksesan yang mendera. Pastinya banyak penulis telah bicara tentang ini, tapi yang saya rasa, Dee tidak meledak-ledak seperti Pramoedya, atau sinis seperti Mangunwijaya ataupun berasa bijak seperti Tohari, tapi Dee selalu saja menukik jauh ke bawah. Mengajak kita untuk berpikir ulang tentang ‘watak kesepian’. Menanyakan kesepian, lalu memaknainya. Suatu karakter anti-hero, bukan pahlawan, yang dia pikirkan “Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam ini hatimu sendiri”, anti hero itupun tak biacara hal-hal besar, tapi dia berbicara dirinya sendiri. Bagaimana aku berpikir ? Bagaimana perasannku akan kuungkapkan ? Aku berada pada sisi yang mana ? Impian-impian apakah yang obati sepiku?

Dan segenap pertanyaan, yang tak tampil dengan sebuah tanda tanya, tapi dengan permenungan. Alur kata reflektif pun mengalir lugas dan tak berbelit. Dee menawarkan suatu konsepsi permenungan yang indah, pada kembang-pada ranjang-pada tiap lekuk tubuh kita. Semua lugas “Kulit wajahmu pasti sedang terlipat di antara kerutan sarung bantal”. Cantik kan jalinan liriknya ?
Berbaris-baris frasa pada cerpen tak berupa percapakan panjang, tetapi pelukisan suasana sepinya hati yang ditautkan dengan suasana dimana si subjek cerita itu berada. Lalu si subjek itu merenung dan merenung saja, bertindak sesuai dengan permenungannya itu “..buat apa ia pelihara luka hati yang cuma bikin matanya berair?” tiba-tiba kita ada disana, menjadi teman curhat si subjek tersebut. Menjadi teman Dee berbicara. Mungkin dia bercerita tentang dirinya sendiri, pengalaman dan kawan-kawannya. Sama-sama tersadar : oh, benar juga ya ! Ih, kok bisa ya ? Lalu kita sama-sama tersenyum dan tergelak. Mungkin ini yang menjadikan karya Dee lebih dekat dengan perempuan. Berbeda dengan para penulis muda lain yang menggunakan bahasa sarkasme untuk berbicara tentang banyak hal, terutama seksualitas (karya dagelan itu lama jadi penghuni rak-rak toko buku, tak laku). Mereka menggiring pembaca ke jagal penyembelihan kata-kata. Seringkali saya merinding, takut membaca mereka.

Batin Dee yang selalu berkonflik “Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?” mengajukan sisi pandang yang tak terduga, ada ‘aku’, ‘kalian’.’kami’ yang membuat merasai kedekatan batin. Lalu, seperti biasanya, lantas Dee mengajak kita menukik dalam-dalam. Pertanyaan demi pertanyaan digumamkan. Lalu kita berenang bersama mencari sesuatu : jawaban atas kesepian-kesepian kita. Toh kalaupun tak ada, Dee memilih mengapungkannya “Entah menghangatkan atau menghapuskan”. Sepertinya menukik pada satu titik yang samar-samar tak nampak, tapi ada “Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri”. Bukah hal besar, tapi perasaan diri kita yang hendak dicatat olehnya. Seperti seorang kawan berkata, “Membaca Filosofi Kopi, kita akan tahu mencintai dan dicintai seperti apa”. Saya percaya, beberapa tahun kemudian kita mengulang membaca lagi, pertanyaan yang sama itu akan muncul lagi. Seperti membaca diari masa kanak-kanak. Melepaskan baju yang kusam dipakai, mencucinya, lalu mengenakannya kembali. Tidak muluk-muluk buat Dee.

Yogyakarta, Desember 2006


ReviewReviewReviewReviewReviewPengakuan PariyemDec 5, '06 5:40 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Linus Suryadi Ag
Batiniah Perempuan Jawa

Judul : Pengakuan Pariyem
Pengarang : Linus Suryadi Ag
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun : 1980

CABUL ! Demikian seru pejabat publik di kota Yogyakarta ketika prosa lirik ini terbit. Uang pajak rakyat digelontorkan kepada seorang pejabat tolol yang tak bisa membedakan seni berkata-kata dan stensil erotik. Tak punya jiwa dan empati. Si birokrat-militeristik ini telah memalukan jagad kesenian Yogakarta. Toh walau begitu, Linus mendapat ‘permintaan maaf’ dengan hadiah satra dari Pemprov Yogyakarta tahun 1984, 4 tahun berselang setelah Pengakuan Pariyem terbit.

“Pariyem nama saya. Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa. Tapi kerja di kota pedalaman Yogyakarta”. demikian novel ini dibuka, lalu diulang-ulang dalam tiap pergantian kisah. Semacam lirik yang ditulis Linus, ya memang beberapa kalangan menamakannya prosa lirik-cerita berlirik. Tak melulu AABB / ABAB / AAAA seperti pantun kuno yang diajarkan di sekolah dasar dulu, tapi lebih bebas, tanpa meninggalkan spirit perpantunan, yaitu kata-kata ringkas dan cerdas. Seperti membaca suatu laporan jurnalisme sastrawi dalam tiap baris liriknya. Pengaruh dari Persada Studi Klub, asuhan Umbu Landu Paranggi tahun 1969 di Malioboro menorehkan kedekatan karya antara kedua seniman Malioboro tersebut.

Awal pertama dimulai Linus dengan cerita asal-muasal Pariyem, dari Wonosari, sebuah desa di perbatasan timur Yogyakarta, deretan Pegunungan Seribu yang kering tandus. Disana Pariyem lahir, dibesarkan dan mencecap masa kanak-kanak yang ceria. Pariyem mengaku sebagai Katolik, sebuah identitas keagamaan yang lumrah bagi kalangan disana paska 66, untuk menghidari sangkaan sabagai orang komunis. Sebagai suatu keluarga besar yang dekat dengan seni ‘kerakyatan’ (ayahnya pemain ketoprak, ibunya sinden), tak pelak lagi merupakan target utama pembantaian, walau keluarga mereka tak tahu apa-apa tentang politik Jakarta. Era tahun 1980-an, yang marak dengan petrus (penembakan misterius) mengilhami Linus untuk membaca ulang pembantaian paska 66 dengan novel ini. Sejarah berdarah-darah yang sama telah berulang, dengan kemasan yang lebih rapi , sistematik dan gelap. Setelah melapor sini-situ,apel disana-sini, maka orang tua Pariyem kembali hidup jadi petani “tapi cuma menggarap bengkok pak Sosial” ujar Pariyem. Dari seniman ke buruh tani.

“Dan agama, apakah agama ?
Pertanyaan itu bergaung dalam sanubari saya
Suka menggelitik dan merongrong jiwa pula
Bikin kusut pikiran, kemelut perasaan
Sembab mata dan boyak telinga
Bila dialamatkan ke dalam
Tapi bila dialamatkan keluar :
Orang bertentangan tak ada habisnya
…”

Suasana kejawaan kental meliputi keseluruhan novel. Mulai dari awal lahirnya Pariyem sampai kehidupan di kota, sebagai babu. Geertz dengan studi Mojokuto-nya mebuat babakan baru tentang studi antropologi jawa, lalu Linus menyusulnya dengan prosa liriknya. Bedanya Geertz serius berteori, tetapi Linus hanya menuliskan nalar dan batin orang jawa bekerja, lewat prosa lirik. Pariyem lahir, diikuti oleh serangkaian upacara jawa : slametan (syukuran) dengan bermacam-macam sesajen, lalu perlakuan yang khas jawa lainnya. Linus menyinggung sekilas ‘kekatolikan’ di sini, hanya pada saat pembabtisan (pengesahan menjadi seorang beragama katolik). Menariknya, dia menamakan kaum seperti Pariyem itu ‘katolik kejawen”, gado-gado antara katolik dengan adat setempat. Hal yang lumrah di pedesaan tanah jawa. Selain itu, islam jawa pun banyak dianut oleh masyarakat jawa juga. Geertz-Linus sepaham tentang agama local. Maria Madgalena Pariyem lengakpnya, Maria Magdalena ? Ah itu kan lonte yang bertobat di Injil. Linus mengolok-olok kehidupan, bagaimana seorang lonte berkhotbah tentang kehidupan dan kesetiaan ?

Pemahaman batiniah tentang jagad gede (dunia besar) dan jagad cilik (dunia kecil) bagi Pariyem membawa dia dari kehidupan Wonosari yang “bahagia walau tanpa kemewahan” ke lingkungan priyayai keraton, rumah keluarga besar Kanjeng Raden tumenggung Cokro Sentono. Disini, kemudian nalar dan batiniah jawa yang dituliskan Linus menemukan prakteknya yang lebih kongkrit : susah-gembira, kawula-gusti (rakyat-penguasa), mati-lahir, seperti suatu jagad yang saling muncul-berimbang. Dari titik itu (jagad kecil), rumah kanak-kanak di Wonosari, ada jagad gede (jagad besar) dimana Pariyem hidup (sebagai babu di Ndalem Suryomentaraman Yogyakarta). Pariyem menjadi bagian disana, sebagai seorang perempuan babu yang pasrah pada kekuasaa